Hubungi kami di

Catatan Netizen

Dan Akhirnya Seni Pun Tunduk pada Algoritme

Mike Wibisono

Terbit

|

Ilustrasi, algoritma

Facebook mulai memperketat penyebaran konten politik di news feed di Indonesia, Kanada, dan Brasil. Bagaimana di dunia seni? Kapan algoritme ini menjadi maha kekuasaan yang mengontrol hidup? Opini Ananda Sukarlan.

Sudahkan Anda melihat video pianis Lang Lang memainkan Goldberg Variations karya J.S. Bach? Keren ya? Ya, tapi kenapa dipecah sampai puluhan video? Biasanya sih “Goldberg” dimainkan secara utuh sekitar 45 menit, karena ini memang salah satu karya terpanjang untuk piano solo.

Nah, itu karena seluruh dunia kini harus tunduk kepada maha diktator abad ini bernama “Algoritme”, bukan hanya di dunia politik, ekonomi tapi sampai seluruh bidang seni, yang sebagai musikus pun Lang Lang (dan saya serta jutaan musikus lainnya dari genre musik apapun) harus tunduk dengan Yang Dipertuan Agung ini.

Menurut Marvin Minsky (pakar Artificial Intelligence), definisi “algoritme” adalah: “seperangkat aturan yang memberitahukan kepada kita tepatnya bagaimana untuk bertindak” yang tentu berujung pada pengambilan keputusan. Keputusan ini ditimbang dari segala informasi yang kita sendiri berikan kepada media sosial kita: apa yang kita minati, orang yang sering kita hubungi, lokasi-lokasi yang kita kunjungi, dan sebagainya.

Dalam kehidupan sehari-hari, sebetulnya kita melakukan banyak proses yang bisa dikatakan suatu algoritme, misalnya: bagaimana rute untuk pergi ke kantor?

Setiap orang akan berbeda dalam menuangkan proses algoritme misalnya si A memberi input menggunakan mobil, melewati jalan tol walaupun membayar. Si B memberi info yang berbeda: naik motor, bernomor plat ganjil dsb., walaupun dengan posisi awal dan tujuan yang sama. Algoritme akan mendikte jalan mana yang harus ditempuh masing-masing, berdasarkan input mereka. Setelah kebiasaan mengambil jalan yang sama, dua orang itu akan meyakini bahwa hanya ada satu jalan ke kantor mereka, walaupun jalan itu berbeda bagi keduanya.

Mereka kemudian akan berkenalan dengan orang-orang yang “sejalan” dan kemudian saling meyakinkan bahwa jalan mereka adalah yang (tadinya) paling baik, dan (kemudian) paling benar. Inilah bagaimana algoritme membentuk komunitas, dan sayangnya komunitas itu menjadi terpecah dan terpisah dari komunitas yang lain yang berbeda pendapat, pandangan, minat dan orientasi. Dan tentu Google Maps lebih tahu di mana Anda berada daripada istri Anda!

Hanya menampilkan yang audiens nikmati

Media sosial kini hanya menampilkan konten yang sesuai dengan yang kita minati, menciptakan “filter bubbles” (“gelembung filter”). Padahal alangkah baiknya media sosial mengubah algoritme sehingga mereka bisa menunjukkan kita lebih banyak konten dari orang-orang yang berbeda pandangan dengan kita.

Kapan algoritme ini menjadi maha kekuasaan yang mengontrol hidup kita? Itu tentu “rahasia dapur” yang hanya diketahui oleh Mark Zuckerberg, Jack Dorsey (pendiri Facebook/instagram dan Twitter) dan sedikit orang lainnya, tapi saya memperkirakannya sekitar tahun 2016, sewaktu Twitter dan Instagram bergabung dengan Facebook dan YouTube di dunia algoritmik.

Diperintah oleh robot yang diprogram untuk menarik perhatian kita selama mungkin, mereka mempromosikan hal-hal yang kemungkinan besar akan kita minati dan kemudian bagikan (share) — dan kemudian melenyapkan yang lainnya. Bye-bye, feed yang menunjukkan segalanya dan semua orang yang kita follow di kronologi tak berujung di halaman homeWelcome, feed yang kita inginkan (walau kadang tidak butuhkan) yang muncul dan pasti kita akan click secara impulsif.

BACA JUGA :  "20 TAHUN LEBIH BERKUBANG TEROR"

Sekitar tahun 2016 juga Facebook — yang news feed-nya telah diatur algoritme sejak 2009 — menyembunyikan setelan untuk beralih kembali ke “most recent“. Kelihatannya sepele, ‘kan? Kecuali, algoritme buram ini tidak hanya memaksimalkan berita tentang calon presiden atau penyanyi idola kita, tapi juga memaksimalkan semburan serangan, misinformasi, hoaks dan kemudian memicu teori konspirasi. Mereka mendorong kita lebih jauh ke dalam gelembung filter hiperpolarisasi kita sendiri.

Balik ke kasus pianis Lang Lang, algoritme YouTube melihat berapa lama penonton “tahan” menonton, dan saat ia mengunduh “Goldberg” itu (sekitar setengah tahun lalu) ternyata ada mayoritas besar yang berhenti setelah 12 menit. Itu sebabnya mahakarya ini terpaksa dipotong-potong.

Didikte algoritme

Saya mulai menulis Rapsodia Nusantara tahun 2006, sebelum tirani algoritme menguasai internet. Nomor-nomor Rapsodia baru sejak 2 tahun lalu memiliki struktur yang berbeda; tidak ada lagi “prelude” dan masih banyak hal teknis lainnya. Bagaimana saya membuat persyaratan untuk kompetisi Ananda Sukarlan Award (tahun lalu untuk piano, dan yang sedang berjalan saat ini untuk vokal) yang melibatkan ratusan musikus juga didikte oleh Tuan Algoritme itu.

Di bukunya “Homo Deus”, Yuval Noah Harari menyatakan bagaimana pikiran manusia — dipandang sebagai otoritas tertinggi pengambilan keputusan–, digantikan oleh algoritme dan data.

Algoritme kini mengenal kita lebih baik daripada kita mampu mengetahui diri kita sendiri. Dengan ini, tulis Harari, akhir dari homo sapiens mulai terlihat. Tuhan bukan lagi otoritas tertinggi oleh pikiran manusia. “Tuhan memutuskan apa yang baik atau buruk. Dengan humanisme, ini digantikan oleh emosi manusia,” jelas Harari.

Harari berpendapat, gagasan bahwa manusia itu otonom dan memiliki keinginan bebas hampir berakhir. “Di abad ke-21, otoritas akan bergeser kembali ke dunia maya, tapi tidak ke Tuhan atau para dewa. Ini akan beralih ke Microsoft, Google, dan Facebook.” Dengan semua data yang dikumpulkan oleh sejumlah perusahaan tersebut, algoritme akan dikembangkan untuk lebih memahami manusia; “(Algoritme) memahami perasaan saya lebih baik daripada saya memahami diri saya sendiri. Kemudian, semakin banyak otoritas akan beralih dari diri saya ke algoritme. “

Ini baru mulai, tapi kalau algoritme sudah mendikte seni dan budaya, yaitu ekspresi terdalam manusia, itu berarti kita sudah dikuasai penuh. Algoritme adalah hasil Kecerdasan Artifisial. Berbeda dengan manusia yang memiliki Kebodohan Alamiah yang hanya mengulang-ulang sejarah, Kecerdasan Artifisial ini terus berkembang menjadi tambah cerdas!

@anandasukarlan

Selain sebagai komponis & pianis, A.Sukarlan juga aktif sebagai blogger di Andy Skyblogger’s Log, dan membuat vlog di Youtube channelnya Ananda Sukarlan. Twitter & Instagramnya @anandasukarlan bukan hanya mengulas tentang musik, tapi masalah sosial, budaya dan politik pada umumnya. Ia membagi waktunya antara Spanyol (di rumahnya di perbukitan di Cantabria) dan Indonesia (di apartemennya di Jakarta).

Seperti dilansir dari DW Indonesia

(*)

Teruskan Membaca
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sebaran

Facebook