“Orang pribumi biasa menyebut banyaknya pulau dalam gugusan wilayah ini sebagai Segantang Lada.”
…
“Pulau-pulau kecilnya berbentuk bulat, berbatu, dengan vegetasi alam di sekitarnya. Dari kejauhan, hampir tidak terlihat ada penduduk yang mendiami, kecuali di Pulau Temiang. Daerah ini dahulu merupakan sarang perompak laut.”
…
“Kami harus berlayar di sepanjang sisi garis pantai pulau Lingga. Tapi, nakhoda kapal kami, malah membawa terlalu jauh ke laut. Bertentangan dengan perintah Datoe Aboe Hassan. Alih-alih berlayar sedekat mungkin di sepanjang pantai; kami malah semakin jauh ke tengah laut …” (J.E. Teijmann – Natuurkundig Tijdschrift Voor Netherlandsch Indie, Zevende Series, Deel IV’ tahun publikasi 1874)
Oleh: Bintoro Suryo
BAYANGKAN, berlayar selama seminggu di lautan Kepulauan Riau pada tahun 1872. Tanpa peta yang akurat dan hanya mengandalkan angin serta arah bintang. J.E. Teijsmann mencatatkan perjalanan detilnya dalam bagian ketiga perjalanannya di “Negeri Segantang Lada”.
Dari Pulau Karas Besar dengan tebing terjalnya, hingga tiba di muara Sungai Dai di jantung Lingga. Ia mencatat setiap persinggahan dengan detail yang hidup. Mendayung dan menyinggahi pulau-pulau kecil yang dulu jadi sarang perompak laut, berkunjung ke kebun lada milik orang Tionghoa, berjumpa Orang Laut di Kampung Redjai. Ia menyaksikan sendiri kehidupan di pusat kerajaan Riouw Lingga masa itu.
Melalui catatannya, kita bisa mengetahui detil kondisi Riau Lingga tempo dulu. Bukan hanya sebagai kumpulan gugus pulau di peta kuno. Tapi sebagai wilayah perairan dengan banyak pulau penuh hutan, komoditas alam serta kisah penduduk yang menghuninya.
Artikel bagian ketiga ini merupakan transkripsi dan adaptasi dari catatan perjalanan J.E. Teijsmann tanggal 18–26 Agustus 1872 pada dokumen: Natuurkundig Tijdschrift Voor Netherlandsch Indie, Zevende Series, Deel IV’ tahun publikasi 1874.

Mendokumentasikan ekspedisi botani dan geografisnya di Kepulauan Riau-Lingga masa lalu. Rute pelayaran dimulai dari Pulau Karas Besar, menyusuri gugusan Galang, Tanjung Jakang, hingga mencapai Sungai Dai, ibu kota kesultanan Lingga.
Menarik bagi mereka yang ingin mengetahui kondisi maritim, etnografi pesisir, dan ekologi Kepulauan Riau abad ke-19.
Berikut catatannya pada bagian ini.
PADA tanggal 18 Agustus 1872, kami kembali berlayar pada pagi harinya. Laut sangat bergelora, sehingga kami terpaksa berlabuh di Pulau Karas Besar.
Di pulau ini, kami turun ke darat, berjalan di bawah matahari yang terik, beberapa pal di sepanjang pantai berpasir. Pantai di pulau Karas Besar ini, banyak yang ditutupi karang mati dan batu hingga tumbuhan Rhizophora dan tanah berlumpur. Kondisi itu menghalangi kami untuk bergerak lebih jauh. Walau begitu, Saya bisa membawa beberapa sampel tumbuhan yang baik dari pulau ini.
Wilayah pedalaman pulau Karas Besar ini terlihat kering dan berbukit. Tetapi begitu lebat ditumbuhi pohon-pohon besar, semak dan perdu berduri. Kami tidak dapat menembus jauh ke dalamnya.
Menjelang tengah hari, kami akhirnya memutuskan untuk makan di bawah sebuah pohon cemara tinggi yang berdiri di pantai, kemudian melanjutkan perjalanan dengan Moona lagi.
Berlayar di Gugusan Galang
SETELAH beberapa jam menghadapi ombak laut yang bergelora, kami akhirnya tiba di sebuah teluk yang tampak tertutup, dikelilingi pulau-pulau.
Pulau-pulau ini termasuk dalam gugusan Galang. Laut di sini terlihat tenang. Setelah berlayar keluar dari teluk itu, kami mencari tempat yang aman untuk bermalam di sekitar Selat Sembo.

Di sini, kami mengunjungi beberapa kampung dan kebun milik orang pribumi dan Tionghoa. Tanaman seperti Nangka dan Kelapa, ditanam campur aduk bersama pisang, tebu, singkong, keladi, ubi jawa, kacang tanah, daun kangkung, labu, dan beberapa tanaman lainnya.
Di sini juga banyak “minyak keruing”. Minyaknya sangat cair, terbuat dari sejenis tanaman Dipterocarpus yang bisa didapatkan di hutan-hutan sekitarnya. Minyak yang dihasilkan, disimpan dalam tong-tong dari kulit kayu, yang dilapisi dengan minyak berdamar dan dibuat kedap air. Tong-tong itu begitu keras sehingga tampak seperti besi.
Tanah di sini sangat subur, terdiri dari humus dan lempung kelabu.
Di lereng tanah yang lebih tinggi, hutan ditebang untuk membuka kebun pisang. Penduduk juga menanam tebu di bagian yang lebih rendah dan lembap.
Di sini, kapal Moona kami bisa berlabuh di air yang tenang, sehingga kami bisa tenang juga melewatkan malam dengan nyenyak. Di wilayah yang kami singgahi ini, dahulunya merupakan tempat persinggahan para bangsawan di Riouw saat akan berlayar menuju Lingga. Tempat ini menjadi persinggahan sambil menunggu cuaca baik sebelum menyeberang ke Lingga.
PADA tanggal 19 Agustus 1872, kami kembali berlayar pagi-pagi sekali menuju Tanjung Jakang, sambil menunggu angin baik. Kami memutuskan berlabuh dulu di sini sebelum meneruskan pelayaran ke Lingga.
Kami turun ke darat melalui ombak dan gosong karang dengan kaki telanjang. Itu tidak menyenangkan, tetapi tetap perlu kami lakukan. Di pulau, kami berjalan-jalan melalui kampung dan hutan di sekitarnya. Ada banyak pohon Keruing (Dipterocarpus) yang tumbuh. Ukurannya besar, sudah ditakik berbentuk ceruk dan disadap.
Di Tanjung Jakang ini, Kami berusaha menjelajahi bagian dalam pulau secara melintang, mengikuti pantai. Perjalanan ini membawa ke arah hutan belantara, selanjutnya melalui padang semak setinggi kepala. Tidak ada jalan setapak, sampai akhirnya kami tiba di sebuah ladang gambir dan lada. Dari sana, kami kembali menemukan jalan yang terbentang, yang membawa kami kembali ke pantai.

Setelah naik ke kapal dan jangkar diangkat, ternyata angin tidak bertiup cukup baik. Untuk menggerakkan kapal, perlu dibantu dengan dayung. Akhirnya, kami memutuskan berlabuh kembali.
Memasuki Perairan Lingga
AKHIRNYA, angin bertiup dan kami sekali lagi bisa memulai perjalanan dengan berlayar secara zig-zag. Tapi, tidak berapa lama, angin kembali melemah. Sekali lagi, kami terpaksa menggunakan dayung untuk terus bergerak. Dengan cara ini, kapal bisa melewati tiga pulau kecil Serangas di Selat Penhalap. Akhirnya pada sore hari pukul 6, kami tiba di Pulau Panjang dan Pulau Tikus serta bisa berlabuh dengan aman di bawah tebing.
Meskipun laut tenang, kami merasakan gerakan arus bawah yang tidak sesuai dengan hembusan angin dan sepertinya berbahaya. Akhirnya, jangkar diangkat sekali lagi dan kami mendayung melewati banyak pulau-pulau di gugusan ini. Orang pribumi biasa menyebut banyaknya pulau dalam gugusan wilayah ini sebagai Segantang Lada. Di sini, kami melewatkan malam dengan tenang di sebuah pulau kecil. Kami sekarang berada di wilayah Lingga.
Kerajaan Lingga, Riau dan daerah taklukannya ini, dibagi menjadi wilayah Lingga, di mana Sultan bertempat tinggal, dan Riau di mana Yang Dipertuan Muda bertahta.
Rombongan kapal Kotter dan sampan panjang yang diperintah residen Riouw untuk mendampingi kami sejak dari Riouw, sudah tidak terlihat di sepanjang perjalanan ini. Belakangan kami tahu, rombongan Sampan panjang tiba di Lingga sehari sebelum kami. Sementara rombongan kapal Kotter sebaliknya, mereka tiba dua hari setelah kami berada di Lingga.
PADA tanggal 20 Agustus 1872, kami terdampar di sebuah alur di antara terumbu karang yang kering saat air laut surut. Ada beberapa penduduk pribumi yang terlihat mengumpulkan teripang dan hewan laut lain. Mereka juga mencari akar bahar. Kata mereka, di bagian air yang lebih dalam di sini, ada banyak akar Bahar yang bisa didapatkan.
Kami harus menunggu air pasang sebelum dapat mengapung kembali. Saat air pasang, haluan kami menuju ke Pulau Temiang.
Pukul 9 pagi, kami berlayar dengan laju kencang, tetapi ini tidak lama, karena awan badai muncul. Kami terpaksa berlindung di bawah tebing pulau pertama yang ditemui.
Kami berlabuh sebentar di pulau kecil itu. Setelah langit agak cerah; kami berlayar kembali, melewati beberapa pulau dengan bentang alam menarik. Di antaranya Gunung Marodong, sebuah gunung kecil yang runcing. Tingginya kira-kira 500 kaki.

Sore harinya, kami tiba di Teluk Temiang. Di sini, merupakan tempat tinggal seorang Batin kepala untuk wilayah sekitarnya.
Pulau Tamiang, Sarang Bajak Laut
KEBANYAKAN pulau di sini masih memiliki vegetasi yang alami. Konturnya berbukit atau bergunung, tertutup hutan tinggi. Di pantai, kebanyakan ditumbuhi Rhizophora.
Pulau-pulau kecilnya berbentuk bulat, berbatu, dengan vegetasi alam di sekitarnya. Dari kejauhan, hampir tidak terlihat ada penduduk yang mendiami, kecuali di Pulau Temiang.

Daerah ini dahulu merupakan sarang perompak laut. Tapi, aktifitas mereka sudah dibasmi sekarang. Beberapa di antara mereka, masih tinggal di sekitar wilayah ini, namun sudah menjalani hidup yang tenang dan menghidupi diri dan keluarga dengan menangkap ikan. Sementara kebanyakan yang lain, memilih untuk mengungsi ke tempat lain. Mereka menjalani kehidupan dengan pekerjaan jasa; sebagai pendayung. Baik di Riau dan Singapura, maupun di tempat lain.
Pada tanggal 21 Agustus 1872, kami yang menginap di atas kapal Moona, terkurung di antara gosong lumpur saat air surut di pagi hari. Kami terpaksa menggunakan sampan untuk mencapai daratan. Sebagian lainnya, harus bertelanjang kaki melewati lumpur yang padat ke daratan Pulau Temiang ini. Saat tiba, kami punya waktu untuk mengunjungi ladang-ladang gambir dan lada.
Untuk menuju perkebunan di pulau Temiang ini, awalnya kami harus melalui alur tanah berawa. Sampai akhirnya tiba di sebuah pemukiman Tionghoa. Dari perkampungan itu, alur agak menanjak, melewati “hutan-hutan perawan”. Terdapat banyak pohon-pohon bagus serta kayu muda. Jenis-jenis rotan juga banyak ditemui. Di sini, saya bisa membawa banyak sampel tumbuhan.
Setelah melewati hutan yang lebat, kami tiba di ladang gambir dan lada yang luas. Dulunya, lokasi itu juga merupakan hutan belantara yang dibuka. Tanahnya sangat subur, terdiri dari lempung merah dan putih serta peralihannya. Lada, sama seperti di tempat lain, terpelihara baik dan menjanjikan banyak buah. Tetapi tanaman gambir di sini, sama seperti di lokasi lain. Pertumbuhannya terdesak oleh alang-alang. Biasanya ditanam di lereng yang cukup curam.
Pada tengah hari, kami kembali ke Moona. Air laut telah pasang, sehingga kami memutuskan untuk langsung berlayar.
Kampung Redjai Milik Orang Laut
PEGUNUNGAN Lingga tampak di kejauhan. Menjelang sore kami berlabuh di depan kampung Redjai di Selat Dassie, di air yang tenang; malamnya banyak angin.
Sepanjang siang tadi, kami melewati pulau-pulau yang hampir semuanya terdiri dari pantai tanah berbatu berwarna merah.
Pada 22 Agustus 1872, kami kembali berlayar pada pagi hari. Rumah-rumah penduduk di pantai yang kami lihat dari laut, tampaknya milik “orang laut” atau Tamboes. Sudah banyak yang mulai menetap di darat sekarang, walau aktifitas harian mereka tetap bergantung dari laut. Kami melihat beberapa perahu mereka terdampar di depan rumah. Sementara yang lain dengan perempuan dan anak-anak, melintas di depan kami.
Mereka tampak cukup baik dan lebih beradab. Dari pemandu, saya diberitahu bahwa sudah banyak di antara putri-putri mereka yang menikah dengan orang Tionghoa dan Bugis.
Pukul 10 pagi, kami telah mencapai pulau Lengen Badju. Kami berlabuh di sini sambil menunggu air pasang. Kapal Moona kami berada di air dalam, dekat sebuah gosong karang. Dari atasnya, kami dapat melihat keanekaragaman besar karang dan penghuni laut lainnya.
Saya ingin mengambil beberapa sampel. Namun sayangnya, perlengkapan yang diperlukan untuk dapat mengawetkan hewan sejenis moluska dan Polip yang hidup itu, terbawa di kapal Kotter yang terpisah dari kami.
Karena menarik, saya tetap mengambil beberapa sampel untuk dibawa menggunakan kapal Moona kami.
Dari P. Lengen Badju, Diterjang Gelombang
DI pulau Lengen Badju ini, tidak ada penduduk yang kami temukan. Gugusan pulau-pulau di sekitarnya, sebagian besar dikelilingi Rhizophora. Daratan yang lebih tinggi, ditutupi hutan belantara.
Pada pukul 11 siang, kami berada di Pulau Dassie. Pulau itu berada di alur masuk selat dengan nama yang sama; Selat Dassie. Ada beberapa pulau lain di sisi kiri dengan pulau Lingga yang terbesar dengan pegunungannya. Di sisi kanan merupakan perairan terbuka.
Sekarang, kami berlayar di sepanjang pantai pulau Lingga yang tidak berpenghuni. Lokasi pesisirnya tertutup pegunungan rendah yang curam sera hutan lebat.
Pada sore hari pukul 7, kami akhirnya berlabuh di Pulau Dadong atau Labuan Dadong. Air laut di sini cukup tenang.
Pada tanggal 25 Agustus 1872, seperti biasa, kami kembali berlayar pagi-pagi sekali. Rute kami melewati pulau Lima, Penuboh dan Seraya.
Sekarang, kami sudah melihat pulau Singkep di kejauhan. Namun, tiupan angin sedang baik. Hal ini seharusnya kami manfaatkan untuk segera mencapai Sungai Dai — ibu kota Lingga. Kami harus berlayar di sepanjang sisi garis pantai pulau Lingga.
Tapi, nakoda perahu kami, malah membawa terlalu jauh ke laut. Bertentangan dengan perintah Datoe Aboe Hasan.
Alih-alih berlayar sedekat mungkin di sepanjang pantai; kami malah semakin jauh ke tengah laut. Ini berakibat Moona yang kami naiki terperangkap dalam gelombang besar dengan arus berpilin. Beberapa kali kapal Moona kami hampir tenggelam setelah dihempas gelombang besar. Haluan kadang-kadang sudah menukik ke bawah hingga di kedua sisi. Air laut mengalir masuk. Orang – orang jadi cukup sibuk mengeluarkan air laut ini agar tidak tenggelam.
Setelah kira-kira satu jam berada dalam keadaan genting, kami berhasil keluar dari gelombang tinggi dan menemukan tempat berlindung yang aman di Selat Penari atau Tanjung Besi. Di sini kami turun ke darat yang berawa dan mendaki sebuah tanjung yang dipenuhi batu di sana-sini.
Saya menemukan beberapa anggrek di atas Tanjung batu itu. Di antaranya juga termasuk sebuah vanili liar, sejenis tanaman serupa, tapi tidak berbunga atau berbuah. Ada juga tumbuhan seperti pohon jeruk liar, namun tidak memiliki bunga atau buah.
Setelah melewati Tanjung, kami berjalan masih cukup jauh di sepanjang pantai berpasir putih sampai medan berbatu yang ditumbuhi pohon rapat, membuat perjalanan selanjutnya tidak memungkinkan. Di sini saya juga masih menemukan beberapa tumbuhan; di antaranya sebuah Jonesia (Pariflora) dengan bunga, tetapi tanpa buah.
Di pantai, kami juga menemukan bangkai seekor Lutung tua yang menjadi mangsa Biawak (Monitor bivittatus). Sepasang hewan tersebut, terlihat melarikan diri ke semak dekat laut saat kami tiba. Seperti tampak ada pergulatan sebelumnya. Ada jejak perkelahian yang masih terlihat di pasir. Lutung tua itu sepertinya diseret cukup jauh, walau masih terus berusaha melawan.
Sekilas, bangkai lutung ini terlihat utuh. Tapi jika diperhatikan, bagian dubur telah terbuka melebar. Usus-ususnya terburai dan telah menjadi santapan Biawak tersebut.
Menjelang tengah hari, kami kembali ke kapal. Namun, angin dan arus sepertinya masih belum cukup menguntungkan untuk berlayar. Baru pada pukul 5 sore, kami bisa melanjutkan perjalanan.
Menuju Kuala Dai
SEKARANG, kami berusaha sedekat mungkin sepanjang garis pantai. Laut masih agak bergelora. Bahkan ada juga yang bergulung. Namun, dengan rute pelayaran menyisir garis pantai, pelayaran kali ini lebih aman. Di kejauhan, terlihat pulau Kolombo. Sementara di depan, Sungai Dai semakin dekat. Kami berhasil tiba sebelum pukul 7 sore di Sungai Dai.
Datoe Aboe Hasan yang menemani pelayaran ini, ternyata masih memiliki seorang istri lagi di sini. Begitu mendarat, kami berpisah. Ia menuju ke rumah isterinya. Sementara saya dan rombongan yang lain, memilih untuk bermalam di atas kapal Moona di dermaga ini. Para kelasi keberatan untuk mendayung masuk lebih dalam ke hingga hulu agar bisa tibs di rumah Asisten Residen.
PADA tanggal 24 Agustus 1872, saya meminta kelasi kapal Moona untuk mendayung, memasuki sungai Dai lebih ke hulu, hingga di dekat rumah Asisten Residen dan Kontrolir. Kami berhasil menemui Asisten Residen yang bertugas di Kwala Dai ini. Namun, kontrolir sedang tidak berada di tempat. Rombongan kami dijamu dengan ramah oleh Asisten Residen, tuan L. F. Goldman dan istrinya.

Saat memeriksa kembali sampel kumpulan herbarium, biji, dan lain-lain di atas kapal, kondisinya masih dalam keadaan baik.
Pada tanggal 25 Agustus 1872, saya bersama tuan Goldman berjalan-jalan ke Bukit Cengkeh. Di sana terletak makam-makam sultan terdahulu. Letaknya lebih jauh ke arah kampung Marawang, pada jarak beberapa pal dari kedudukan Asisten Residen.
Sementara rumah-rumah kampung di sana, tampak baik. Sebagian besar dibangun dari kayu kamper dan beratap Rumbia. Dibangun teratur dalam dua baris dengan jalur terbuka lebar di antara keduanya.
Jalur terbuka itu seharusnya merupakan jalan. Tetapi sebutan itu sepertinya tidak pantas. Orang di sini tidak memperdulikan sehingga tidak bisa disebut sebagai jalan. Para penduduk yang tinggal di kampung itu, menyebut diri mereka sebagai orang Muntok. Mereka memang benar-benar keturunan orang Muntok yang dahulu pindah ke sini.
Sore harinya, muncul guntur dan hujan lebat. Pegunungan terlihat selalu terselubung awan. Saya belum juga bisa melihat puncak Lingga.
Kampung Tionghoa di Alur Sungai Dai
PADA 26 Agustus 1872, setelah sepanjang malam hujan terus turun hingga pagi hari, langit kemudian terlihat cerah. Untuk pertama kalinya sekarang, saya bisa melihat puncak-puncak pegunungan Dai.
Sore harinya, saya, tuan Goldman dan Datoe Stia Aboe Hasan , mendayung perahu di sungai ke hilir hingga tiba di laut. Saya ingin melihat pemandangan di sekitar sungai yang sebelumnya tidak terlihat saat masuk beberapa hari lalu.
Terlihat sekarang, di depan kuala atau muara Sungai Dai ini, ada sebuah gosong lumpur yang membentang jauh. Gosong lumpur itu dipisahkan oleh sebuah alur. Pada saat air pasang, perahu-perahu besar bisa melintasinya hingga masuk ke sungai.
Memasuki sungai, orang bisa melihat di kedua sisi hingga jarak beberapa jauh, berupa rawa-rawa. Menyusuri agak lebih dalam, akan tiba di kampung Tionghoa. Kampung itu terletak di sisi sebelah kanan sungai yang masih berawa. Di sekitarnya, dipenuhi banyak perahu berbagai ukuran. Kebanyakan digunakan berlayar untuk kepentingan dagang. Banyak juga bangkai-bangkai perahu yang sudah rusak.
Di kampung Tionghoa ini, penduduknya tidak mau bersusah payah untuk menyingkirkan bangkai-bangkai perahu. Mereka hanya berharap pada alam dan lumpur untuk melumatnya hingga membusuk dan hancur di dalam sungai.
(*)
Bersambung
Penulis/ Videografer: Bintoro Suryo – Ordinary Man. Orang teknik, Mengelola Blog, suka sejarah & Videography.
Artikel ini diterbitkan sebelumnya di: bintorosuryo.com


