DINAS Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam menanggapi protes warga terkait tumpukan sampah yang tidak kunjung diangkut di beberapa area permukiman, salah satunya Perumahan Botania Garden RW 29, Kelurahan Belian, Kecamatan Batam Kota.
Kepala Bidang Persampahan DLH Kota Batam, Iqbal, meminta maaf atas keterlambatan pengangkutan yang terjadi selama beberapa pekan terakhir. Menurutnya, layanan pengangkutan belum berjalan optimal karena faktor cuaca ekstrem yang kerap berubah dan berkurangnya jumlah personel di lapangan.
Iqbal menjelaskan bahwa perubahan cuaca yang berlangsung hampir setiap hari—hujan deras lalu panas kembali—menyebabkan sebagian petugas satuan kerja mengalami sakit, sehingga operasional pengangkutan tidak bisa dilakukan secara maksimal.
“Mohon maaf atas kendala yang terjadi. Saat ini kami terus menata pengangkutan agar kembali sesuai jadwal. Kendala cuaca juga memengaruhi kondisi petugas,” sebutnya, Sabtu (16/5/2026).
Meski telah memberi penjelasan, respons DLH tersebut belum sepenuhnya diterima warga. Mereka menilai masalah sampah di Batam tidak lagi semata gangguan teknis sesaat, melainkan menunjukkan persoalan serius dalam pengelolaan layanan dasar yang seharusnya menjadi prioritas pemerintah daerah.
Sebelumnya, warga Botania Garden mengeluhkan sampah yang hampir 20 hari tidak diangkut. Tumpukan tampak menggunung di sejumlah titik, bahkan sampai meluber ke badan jalan dan menimbulkan bau menyengat seperti kondisi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Dalam musim penghujan, pembusukan sampah dinilai semakin cepat hingga muncul belatung dan mengganggu aktivitas sehari-hari warga.
Sejumlah warga juga mengungkapkan bahwa truk pengangkut sempat masuk ke kawasan perumahan, tetapi pengangkutan hanya dilakukan di sebagian kecil wilayah. Salah seorang tokoh masyarakat menyebut di RW 29 terdapat lebih dari 700 rumah, namun yang diangkut baru “beberapa puluh rumah”.
Keluhan serupa disampaikan warga lain, Ucok, yang mengaku terpaksa menyewa mobil pikap untuk membuang sampah secara mandiri karena tidak tahan dengan kondisi lingkungan. Ia menyebut sampah sudah sekitar dua pekan tidak diangkut dan ia bahkan kesulitan menentukan lokasi pembuangan.
Persoalan sampah di Batam belakangan menjadi sorotan publik, meski pemerintah terus menggulirkan berbagai program seperti penambahan armada truk, pengadaan bin kontainer, hingga rencana pengelolaan sampah berbasis teknologi modern. Namun, menurut warga, dampaknya belum terlihat signifikan di lapangan.
Warga berharap DLH tidak berhenti pada permintaan maaf, tetapi menghadirkan langkah nyata agar krisis sampah di permukiman tidak terulang. Mereka menegaskan kebutuhan paling mendesak adalah sampah segera dibersihkan di wilayah tempat tinggal, sesuai janji yang kerap disampaikan pemerintah.
(dha)


