Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Dihadiri Ribuan Warga, Walikota Batam Buka MTQH XXXIV
    16 jam lalu
    Mulai Efektif Berjalan, Ratusan Permohonan Perizinan Telah Diterbitkan BP Batam
    17 jam lalu
    Modus Bukti Transfer Fiktif, Pelaku Ditangkap Sebelum Kabur
    1 hari lalu
    Pemko Batam Masih Kaji WFH, ASN Tetap Masuk Kantor
    1 hari lalu
    Kakanwil Ditjen Imigrasi Kepri & Kepala Kantor Imigrasi Batam yang Baru Dilantik
    1 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Karimon Eilanden; Perjalanan Van Den Berg dan Raja Abdullah, 1854
    12 jam lalu
    Cerita Lokal Batam untuk Anak-Minim di Perpustakaan Kota Batam
    1 minggu lalu
    Bosnia Herzegovina Gagalkan Italia ke Piala Dunia 2026
    1 minggu lalu
    Tidak Ada “Kota Hantu” di Singapura
    2 minggu lalu
    Atasi Volume Sampah di Batam, Pembangunan TPA Blok Baru di Kabil
    2 minggu lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Jumlah Penduduk Beragama Islam di Kota Batam
    4 minggu lalu
    Kualitas Udara di Batam, Jumat (27/2/2026)
    1 bulan lalu
    Gunung Bekaka, Pulau Sugi – Kabupaten Karimun
    2 bulan lalu
    Kecamatan Tanjungpinang Kota, Tanjungpinang
    3 bulan lalu
    Raja Hoesin (Raja Husin) Ibn Radja Ja’far YDM Riouw VI
    3 bulan lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    2 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    2 bulan lalu
    “Kundur & Buru – Pesona dan Tradisi”
    3 bulan lalu
    “Karimun Besar – Harmoni Alam & Budaya”
    3 bulan lalu
    #Full Hendrik; Pujakesuma di DPRD Batam
    9 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Catatan Netizen

Delapan Karakter Unik Singapura

Yang membuat mereka bisa semaju sekarang

Editor Admin 8 bulan lalu 432 disimak
Keterangan foto: seorang warga Singapura di Chinatown, berpenampilan sehari-hari yang simple dan sederhana, membawa rantang untuk membeli makanan. Foto diambil pada 9 September 2024. © F. Sultan YohanaDisediakan oleh GoWest.ID

TANGGAL 9 Agustus 2025, Singapura berulang tahun. Ke 60. Untuk sebuah negara, 60 tahun masih terbilang muda. Apalagi jika mengingat, di dekade 80-an, masih banyak warganya yang berak di jambang tanah yang cuma dilubangi begitu saja.

Oleh: Sultan Yohana


APA resep Singapura bisa semaju sekarang? Bisa menjadi negara kaya! Bisa menjadi negara paling aman se-Dunia! Negeri tempatuniversitas-universitas top, perusahaan-perusahaan top di Asia, bahkan Dunia? Padahal secara sumber daya alam, mereka tak punya apa-apa. Bahkan, ketika berpisah dengan Malaysia, Lee Kuan Yew sampai harus menangis, karena tak tahu bagaimana mencari duit untuk kelangsungan hidup Singapura kala itu.

Persinggungan saya dengan Singapura selama lebih dari 20 tahun (14 tahun terakhir tinggal di Singapura), membuka mata, ternyata modal TERBESAR sebuah negara bisa maju adalah MANUSIA-nya! Bukan kekayaan alam! Bukan letak strategis! Bukan sejarah masa lalu! Ya, manusia memegang peran utama kenapa sebuah negara bisa maju, atau justru sebaliknya.

Saya mencatat, ada sejumlah KARAKTER UNIK di masyarakat Singapura, yang saya anggap sebagai kunci keberhasilan mereka membentuk negara mereka menjadi seperti sekarang ini. Karakter khas yang tidak dimilik oleh rakyat dariu negara-negara lainnya. Karakter, yang mungkin bisa kita tiru, kita contoh, sebagai MODAL untuk membangun Indonesia lebih baik lagi. Catatan saya ini mungkin bisa diperdebatkan, karena pendekatan yang saya lakukan adalah “terjun langsung” di masyarakat Singapura, hidup bersama, dan berusaha mengamati dengan seksama. Tidak didasarkan pada kompetensi ilmu atau sebangsanya. Semoga bermanfaat.

Ini delapan karakter itu:

  1. Harga diri melebihi harga uang.
    Contoh paling gampang dari penjelasan karakter ini ada di depan mata. Jika Anda berkunjung ke Singapura, Anda dengan mudah akan menemukan orangtua-orangtua yang masih bekerja. Sebagai satpam, sebagai petugas kebersihan, sebagai pelayan restoran, menjaga toko, dls. Salah satu alasan atas fenomena “lansia bekerja” ini adalah soal harga diri itu. Di Singapura, orangtua pantang menerima duit dari anak-anak mereka, selagi masih bisa mencari sendiri. Harga diri mereka terlalu tinggi untuk sekedar minta-minta. Karakter ini, telah mendarah-daging, membentuk etos kerja serta model masyarakat yang anti “menengadahkan tangan”. Orang-orang Singapura, misalnya, merasa lebih mulia bekerja sebagai tukang cuci piring, ketimbang BERHARAP dapat HARTA WARISAN atau menjadi pemuka agama yang hidup dari pemberian masyarakat. Jejak-jejak karakter ini, di jaman internet sekarang misalnya, bisa Anda lihat dengan SEDIKITNYA orang Singapura yang jadi konten kreator, atau ngemis subcriber/like, dan lebih memilih bekerja di bidang yang lebih pasti. Karakter ini, menurut saya, sangat bertanggungjawab untuk menghindarkan Singapura terjebak sebagai masyarakat “pemimpi”. Mimpi, misalnya berharap datangnya “ratu adil”. Karena mereka tahu, “ratu adil” tidak datang begitu saja. “Ratu adil” harus diciptakan oleh mereka sendiri.
  2. Mengutamakan Pendidikan.
    Di masa muda, ibu mertua saya adalah ibu rumahtangga yang nyambi buruh kupas bawang dan menyetrika untuk mendapatkan uang belanja tambahan. Mereka dari kalangan keluarga miskin. Tapi, tiga dari empat anaknya semua sarjana. Anak pertama, perempuan, kapten di angkatan laut. Anak kedua, istri saya, seorang guru senior. Anak terakhir, bekerja di universtas. Hanya anak ketiga, laki-laki, yang tidak menamatkan SMP karena nakal, bekerja sebagai buruh pabrik. Buruh pabrik tidak buruk memang, tapi dibandingkan dengan ketiga saudaranya, dia yang paling tidak beruntung.

Dari situasi keluarga kami ini, kita bisa membayangkan, bagaimana pendidikan di Singapura berperan sangat penting bagi kesuksesan masa depan seseorang. Fakta ini kemudian membentuk masyarakat Singapura untuk mengutamakan pendidikan di atas kepentingan lainnya. Mereka tidak akan mau membeli kebutuhan-kebutuhan sekunder seperti mobil misalnya, jika pendidikan anak-anak mereka belum diberesi. Mereka lebih suka menghabiskan duit ratusan dolar per bulan untuk les pelajaran ini-itu, ketimbang membayar angsuran mobil.

Negara pun, kemudian mendesain pendidikan untuk bisa diakses siapa saja. Bisa diakses si miskin maupun si kaya. Bisa diakses si bodoh maupun si pinter. Di Singapura, Anda hanya butuh MAU dan KERJA KERAS untuk bisa sekolah setinggi yang Anda bisa. Negara telah menyediakan banyak cara untuk orang-orang yang MAU dan BEKERJA keras untuk menjadi pintar itu.

  1. Rasa solidaritas yang tinggi.
    Karakter ini mungkin seperti “anti-tesis” dari anggapan banyak orang yang menyebut orang Singapura individualistik. Memang secara umum, orang Singapura enggan membuat hubungan perkawanan yang terlalu intim. Saya menyebutnya, hubungan mereka biasanya sekedar “asal kenal” saja. Tapi di luar itu, saya melihat orang Singapura punya rasa solidaritas yang sangat tinggi di antara mereka. Mereka kerap berbondong-bondong menjadi sukarelawan di kegiatan apa saja, termasuk kegiatan kemanusiaan, atau sekedar kegiatan pemerintah yang dianggap bermanfaat. Ingat ya, SUKARELAWAN! Bukan pasukan nasi bungkus! Orang Singapura juga mudah “mengulurkan bantuan” pada masyarakat yang membutuhkan. Di lingkungan terkecil, mereka juga senang membangun kelompok-kelompok kecil untuk berkegiatan dan beraktivitas bersama. Seperti kelompok senam, kelompok jalan kaki, atau kelompok berkebun. Karakter ini mungkin datang karena latarbelakang masyarakat Singapura yang sebagian besar perantau.
  2. Susah dulu, senang belakangan.
    Masyarakat Singapura tidak mengenal “jalan pintas”. Mereka menyadari, sehebat apa pun background orangtua, background itu tidak berarti apa-apa jika ia tidak bekerja keras, tidak sekolah yang serius, atau membuktikan bahwa ia bisa. Setiap orang Singapura sadar, untuk bisa senang, mereka harus bersusah-susah dulu. Tidak ada budaya nepotisme di sini, lebih-lebih memaksa mengubah undang-undang agar anaknya yang belum cukup umur bisa jadi wakil presiden. Soalnya di Singapura, tidak ada jabatan wakil presiden, hehehe. Yang ada wakil perdana menteri, dan itu pun orang yang menjabat harus orang hebat. Tidak plonga-plongo macam wapres kita.
  3. Suka menabung dan tidak show-off.
    Salah satu tabungan legend itu namanya CPF (tentang CPF ini, bisa dibaca di sini https://batamseksi.blogspot.com/2023/10/cara-masyarakat-singapura-merencanakan.html?q=cpf ). Ini tabungan wajib, yang setiap warga Singapura yang bekerja, gaji mereka dipotong (rata-rata 20 persen), kemudian disimpan di akun negera, dan hanya bisa diambil untuk beli rumah, biaya pendidikan, atau usia setelah 65 tahun. Tabungan ini juga difungsikan sebagai uang pensiun. Negara juga bisa “meminjam” tabungan ini untuk modal pembangunan. Untuk modal mendirikan BUMN, yang keuntungannya dikembalikan kepada masyarakat. Bukan dibagi-bagikan ke komisaris-komisaris pendukung penguasa. Doktrin pemerintah untuk gemar (baca: memaksa) menabung ini, bisa jadi membuat masyarakat Singapura terbiasa untuk menabung.

Selain suka menabung, mereka juga tidak suka show-off apa yang mereka punya. Mereka cenderung memperlihatkan gaya hidup sederhana, meskipun kaya raya. Sehari-hari, mereka terbiasa naik angkutan umum, meski punya mobil mewah di rumah. Mereka terbiasa makan di pujasera murah, memakai pakain murah. Meski jika diperlukan, mereka tiba-tiba bisa tampil mewah.

  1. Kuat di perencanaan.
    Salah satu karakter penting orang Singapura adalah mereka kuat di perencanaan. Merencanakan apa saja. Dengan detil dan presisi. Saya misalnya, jika ingin bepergian ke mana saja, saya biarkan istri yang membuat rencana dan menyiapkan segala kebutuhan dalam perjalanan. Saya tahu, jika ia yang membuat rencana, semuanya akan berjalan dengan lancar, tak lupa satupun barang atau sesuatu yang kami perlukan. Jika saya yang merencanakan? Biasanya bubrah. Hehe.
  2. Religius.
    Karakter ini mungkin mengejutkan Anda! Tapi benar, orang Singapura, terlepas dari apa pun agama mereka, rata-rata sangat religius. Kuil-kuil selalu penuh. Masjid-masjid penuh. Gereja-gereja aktif.
  3. Kiasu.
    Yang terakhir ini, yang jelas, saya tak perlu menjelaskan lagi.

(*)

Penulis/ Vlogger : Sultan Yohana, Citizen Indonesia berdomisili di Singapura. Menulis di berbagai platform, mengelola blog www.sultanyohana.id 
.

Kaitan batam, Catatan, indonesia, netizen, singapura
Admin 21 Agustus 2025 21 Agustus 2025
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali1
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Asal Sejarah Gim Roblox
Artikel Selanjutnya Amsakar Achmad Tegaskan Pimpinan BAZNAS Kota Batam Harus Memiliki Integritas

APA YANG BARU?

Karimon Eilanden; Perjalanan Van Den Berg dan Raja Abdullah, 1854
Histori 12 jam lalu 130 disimak
Dihadiri Ribuan Warga, Walikota Batam Buka MTQH XXXIV
Artikel 16 jam lalu 124 disimak
Mulai Efektif Berjalan, Ratusan Permohonan Perizinan Telah Diterbitkan BP Batam
Artikel 17 jam lalu 125 disimak
Modus Bukti Transfer Fiktif, Pelaku Ditangkap Sebelum Kabur
Artikel 1 hari lalu 147 disimak
Pemko Batam Masih Kaji WFH, ASN Tetap Masuk Kantor
Artikel 1 hari lalu 134 disimak

POPULER PEKAN INI

Selama Kegiatan MTQH XXXIV, Disdukcapil Buka Layanan Adminduk di Lokasi Acara
Artikel 4 hari lalu 340 disimak
Terkait ODGJ dan Orang Terlantar, Dinsos Batam Respon Cepat Laporan Masyarakat
Artikel 5 hari lalu 295 disimak
Tekan Tingkat Kobocoran, ABH Buka Legalisasi Sambungan Air
Artikel 5 hari lalu 286 disimak
45 Komunitas Ramaikan Jong Race Festival 2026 di Bintan
Artikel 5 hari lalu 268 disimak
Lonjakan Kebakaran Hutan di Tanjungpinang Saat Musim Kemarau
Artikel 6 hari lalu 265 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?