SAMBIL hiking masuk hutan, Kamis (25/12/2025) pagi lalu, kawan saya, seorang India pensiunan tentara Singapura, bercerita soal masalah saudaranya, yang kecanduan minuman keras.
Oleh: Sultan Yohana
“Memang, salah satu masalah terbesar kami (etnis India) adalah soal kecanduan itu,” begitu ia menjelaskan.
Saya setuju dengan pendapatnya. Orang India Singapura, begitu gandrung dengan miras. Di mana-mana mereka nongkrong, setidaknya bir atau gepengan menemani mereka. Kedai-kedai India, sekalipun kecil, selalu tak lupa menjual miras.
Di kedai dekat rumah saya, Ace, orang India lah yang paling gemar memborong miras. Penduduk etnis China, paling banter cukup dengan memborong bir untuk konsumsi sehari-hari, tapi masyarakat India, kerap menyertainya dengan Jack Daniels dan sebangsanya dalam konsumsi sehari-hari.
“Kalau orang Cina, masalah mereka kecanduan judi,” kawan saya menambahkan.
Saya juga setuju dengan pendapatnya. 15 tahun tinggal di Singapura, saya bisa menyimpulkan itu.
“Mereka juga gampang stres, depresi. Karena khawatir berlebihan. Apa saja dikuatirkan,” saya menambahkan.
“Kalau kalian?” tanya rekan saya memaksudkan masalah etnis Melayu Singapura. Saya yang Jawa, di Singapura, memang dimasukkan dalam etnis Melayu.
“Kegemukan, dan kalau mapan sedikit, kawin lagi,” dia terbahak mendengar jawab saya.
Kami kontan, secara otomatis, sama-sama teringat dengan satu kawan bola kami, yang baru saja menikah dengan orang Batam, dan tiap minggu kudu bolak-balik ke sana. Meski usianya tak lagi muda, dan tak lagi bisa main bola dengan kami.
(*)
Penulis/ Vlogger : Sultan Yohana, Citizen Indonesia berdomisili di Singapura. Menulis di berbagai platform, mengelola blog www.sultanyohana.id


