KIAN menyusutnya pasokan gas bumi ke Kota Batam sejak 2024, sangat berdampak ke berbagai sektor ekonomi dan industri. Biaya produksi industri melonjak hingga tarif listrik ikut terdorong naik.
Kondisi ini berpotensi mengancam daya saing Kota Batam sebagai kawasan industri di Kepri maupun Nasional.
Berdasarkan catatan dari berbagai sumber, harga gas untuk industri di Batam kini sekitar 16,5 dolar AS per MMBTU.
Angka ini dianggap pengusaha jauh di atas harga ideal bagi sektor manufaktur yang menjadi penopang ekonomi kota ini.
Sebagai pembanding, 10 tahun lalu harga gas bumi yang dijual ke industri di Batam sekitar 6 dolar AS per MMBTU kemudian sempat naik ke 8 dolar AS. Artinya harga gas sudah naik dua kali lipat.
Kenaikan tersebut tak hanya membebani industri, tetapi juga memicu naiknya tarif listrik PLN Batam karena mahalnya bahan bakar pembangkit.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam, Rafki Rasyid, menilai lonjakan biaya energi telah menekan arus kas perusahaan.
“Kenaikan harga gas langsung menaikkan biaya produksi. Ditambah lagi tarif listrik ikut terdorong karena bahan bakar pembangkit mahal,” jelas Rafky dalam keterangan resminya, Senin (12/01/2026).
Menurut Rafki, tekanan energi ini membuat posisi Batam semakin sulit bersaing dengan kawasan industri di negara tetangga yang menawarkan harga gas dan listrik lebih murah.
“Kalau dibiarkan, investor bisa berpikir Batam sudah tidak kompetitif lagi,” katanya.
Pemerintah pusat mendorong sejumlah solusi, mulai dari pengembangan jaringan gas rumah tangga atau Jargas hingga rencana pembangunan pipa gas Natuna–Batam.
Namun dunia usaha menilai langkah tersebut belum mampu meredam tekanan jangka pendek.
“Pasokan gas baru harus segera direalisasikan. Jalur Natuna–Batam jangan terus jadi wacana,” kata Rafki.
Ia juga meminta pemerintah memprioritaskan kebutuhan domestik dibandingkan ekspor gas.
“Kalau pasokan dalam negeri terganggu, dampaknya sistemik.” tambahnya.
Sementara itu, Area Head PGN Batam, Wendi Purwanto mengatakan, pasokan gas pipa dari Sumatera turun lebih dari 50 persen dalam dua tahun terakhir.
Pada pertengahan 2025 lalu, PT Perusahaan Gas Negara (PGN) telah menyampaikan, kenaikan harga gas di Batam terjadi karena perubahan sumber pasokan.
“Saat ini gas yang digunakan pelanggan berasal dari kombinasi gas pipa dan LNG domestik. Gas pipa harganya sekitar USD 8–9 per MMBTU, sementara LNG lebih mahal karena dipengaruhi harga minyak dan proses perolehannya,” jelas Wendi Purwanto.
Menurut Wendi, penurunan produksi sumur gas di Sumatera membuat PGN harus mengandalkan LNG untuk menjaga pasokan ke industri dan pembangkit listrik. Sejak 2024, PGN menerima LNG domestik dari Bontang, Donggi, dan Tangguh yang dikirim melalui Lampung sebelum disalurkan ke Batam.
Terkait harga, Wendi menegaskan PGN mengikuti regulasi pemerintah, termasuk program Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) sebesar USD 6–7 per MMBTU untuk industri tertentu.
“Industri penerima HGBT tetap mendapatkan harga lebih murah. Pelanggan di luar skema itu menerima sisa alokasi dengan harga lebih tinggi,” katanya.
PLN termasuk penerima HGBT, meski volumenya terbatas. Sekitar 70–80 persen kebutuhan PLN Batam dipenuhi dari gas pipa, sementara sisanya menggunakan LNG.
Terkait gas Natuna, PGN menyatakan mendukung kebijakan pemerintah untuk mengalihkan sebagian pasokan ekspor ke kebutuhan domestik melalui skema domestic swap.
Namun Wendi mengakui, sejumlah proyek pipa baru masih bersifat jangka panjang dan baru bisa terealisasi dalam beberapa tahun ke depan. (*)


