Hubungi kami di

Budaya

Kasual hingga Formal, Cocok Dipakai Kalangan Milenial

ilham kurnia

Terbit

|

Foto : © ist mediacenter Batam

BATIK kini tak hanya memiliki kesan formal, namun bisa mengikuti mode kekinian yang kasual, agar cocok digunakan kalangan milenial.

Seperti yang dikembangkan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Batam bersama Pemerintah Kota (Pemko) Batam, yang menjadikan Batik Batam bisa diterima kalangan milenial. Apa rahasianya?

Foto : © ist mediacenter Batam

Para model itu melenggang di catwalk dengan balutan kain batik dengan motif khas Batam. Ada beragam busana dan corak yang mereka tampilkan. Ada yang berbusana muslimah, hingga busana kekinian. Semua model itu terlihat menawan, saat berlenggak-lenggok di atas catwalk.

Mereka memang tengah memamerkan pesona batik khas Batam, saat gelaran Batam Batik Fashion Week (BBFW) 2020 di Dataran Engku Hamidah, Batam Center, Rabu (9/9) sore kemarin.

Banyak corak batik yang ditampilkan; Marlin Dua Alam, Cengkrama Marlin, Ikan Marlin Berseri Gonggong Menari, Ikan Marlin Gelombang Berseri, Marlin Terumbu, bahkan Marlin Berlak.

Foto : © ist mediacenter Batam

Batik yang digunakan pun tak menggambarkan kesan formal. Para model binaan Dekranasda Batam itu, terlihat luwes dan santai saat menunjukkan pesona batik khas kota pariwisata itu.

Foto : © ist mediacenter Batam

Bersama para desainer ternama Batam, Dekranasda Batam ternyata memang mengincar kalangan milenial agar mau mengenakan batik, tentunya dengan model kekinian agar bisa diterima kawula muda tersebut.

Foto : © ist mediacenter Batam

Ketua Dekranasda Kota Batam, Marlin Agustina Rudi mengatakan, desain dan corak batik kekinian ini memang dirancang agar kalangan milenial mau dan mengenal Batik Batam.

Bahkan, pihaknya dalam BBFW 2020 ini menggandeng tujuh desainer ternama seperti Aritas, HM Fashion, Andi Hikmah, Batik 37, Teras, Rahmah Eka Permatasari, dan Althafunissa untuk menggaungkan Batik Batam khusus bagi kalangan milenial.

Marlin Agustina, Foto : © ist mediacenter Batam

“Kita terus berupaya, agar Batik Batam ini diterima di semua kalangan. Namun, saat ini kota fokus agar batik juga diterima kalangan milenial,” ujar Marlin.

Ia bersyukur dengan upaya yang sudah dilakukan. Karena, hingga roadshow ke seluruh kecamatan se-Kota Batam, kalangan milenial sangat antusias menerima Batik Batam. Bahkan, tak sedikit yang ingin memiliki batik dengan ragam corak dan warna tersebut.

“Selama ini banyak yang belum mengenal Batik Batam, namun setelah turun langsung ke kecamatan, alhamdulillah mereka menyambut baik. Malah, ada yang minta diajarkan membatik,” ujar Marlin.

Ia tak ingin, antusiasme kawula muda dalam menggemari Batik Batam ini, tak diiringi dengan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni dalam penyediaan batik. Untuk itu, Dekranasda sudah menggelar pelatihan agar Batik Batam terus berkembang.

“Tak hanya sebatas membuat baju, Batik Batam juga sudah kita arahkan ke pembuatan aksesoris seperti tas, masker, dan sebagainya. Ini perlu dikembangkan terus,” ujarnya.

Dipakai Finalis Miss Tourism Worldwide

BATIK Batam tak hanya mengembangkan sayap di tingkat nasional, namun juga sudah merambah internasional. Beberapa kali, Batik Batam mengikuti pameran di negeri jiran; Singapura dan Malayasia.

Bahkan, Batik Batam pun sempat dikenakan para finalis Miss Tourism Worldwide 2019.

Dengan begitu, diharapkan batik Batam makin dikenal di seluruh dunia. Marlin terus berupaya agar karya batik Batam makin dikenal luas. Keberhasilan Batam dalam mengembangkan batik khasnya ini, akan ia tularkan ke daerah lain se-Kepri.

Foto : © ist mediacenter Batam

“Semua daerah punya ciri khas batik. Ke depan, semua batik khas yang ada di Kepri ini bisa dipadukan dalam satu acara besar agar batik asal Kepri bisa dikenal dimana-mana,” ujarnya.

Khusus Batik Batam, kata Marlin, pihaknya sudah mematenkan motif batik yang ada. Total, sudah ada enam motif batik ikan marlin yang dipatenkan ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Ia menyatakan, motif yang ada di Batik Batam merupakan satu-satunya di Indonesia.

Sementara itu, Wali Kota Batam, Muhammad Rudi, mengapresiasi upaya Dekranasda dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Batam dalam mengembangkan Batik Batam. Ia berpesan, agar Batik Batam mempertimbangkan kemauan pasar agar makin diterima dan dikenal.

Walikota Batam HM Rudi, Foto : © ist mediacenter Batam

“Coraknya harus disesuaikan untuk milenial. Dilihat dulu apa maunya kalangan milenial, kalau suka tak ramai, bikin yang coraknya jarang,” ujarnya. Dalam kesempatan itu, Rudi bertugas membuka BBFW 2020 yang akan berlangsung hingga Minggu (13/9/2020) mendatang.

Tak hanya corak, ia pun mengingatkan soal warna yang dipilih. Ia meminta para pengrajin hingga desainer, untuk mengikuti selera saat ini. Tujuannya, agar Batik Batam tak ketinggalan zaman.

“Kalau semua sudah sesuai, Batik Batam tak kalah dengan batik yang ada di Jawa,” kata dia.

Jika Batik Batam tak bagus, lanjut pria yang juga Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam itu, orang yang datang ke Batam tak akan melirik Batik Batam. Untuk itu, ia meminta Batik Batam harus lebih bagus dari batik-batik yang sudah lebih dulu berkembang di Indonesia.

“Kita kota pariwisata, banyak wisatawan yang datang. Buat mereka tertarik untuk membeli Batik Batam sebagai oleh-oleh saat pulang ke daerah mereka masing-masing,” kata Rudi.

Selain itu, untuk promosi Batik Batam pun harus merambah ke wilayah lebih besar lagi. Untuk itu, ia mengajak semua pihak untuk bersama melawan Covid-19, agar acara-acara yang akan mempromosikan Batik Batam, bisa lebih meriah hingga ke keluar daerah.

“Kalau Covid-19 sudah selesai, bisa kita kenalkan Batik Batam ke tingkat lebih tinggi lagi. Batik Batam harus lebih berkembang,” ujarnya.

(*/nes)

Teruskan Membaca
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sebaran

Facebook