BERDASARKAN catatan Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Kota Batam, sepanjang Januari 2026 telah terjadi 30 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Dari jumlah tersebut, dua kasus merupakan kekerasan terhadap perempuan dewasa, sementara 28 kasus lainnya melibatkan anak. Untuk kasus pada anak, masih didominasi kekerasan seksual.
Plt Kepala UPTD PPA Kota Batam, Suratin, mengatakan seluruh laporan yang masuk telah ditangani sesuai prosedur.
“Semua kasus yang masuk sudah kami tangani,” ujar Suratin, Kamis (12/02/2026).
Ia menjelaskan, penanganan kasus dilakukan melalui tahapan identifikasi masalah, pendampingan dan pengumpulan data, asesmen korban atau saksi, hingga penyusunan rencana intervensi.
Selanjutnya dilakukan konseling oleh pekerja sosial maupun psikolog, review kasus, rujukan bila diperlukan, evaluasi, hingga terminasi kasus.
Jenis kekerasan yang paling sering dialami perempuan adalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Sementara pada anak, kasus yang paling dominan adalah kekerasan seksual.
Selain menerima pengaduan melalui layanan nasional SAPA 129, call center, aparat penegak hukum, dan lembaga swadaya masyarakat, UPTD PPA juga melayani laporan langsung ke kantor serta melakukan penjangkauan ke lokasi kejadian perkara.
“Kasus-kasus ini adalah yang dilaporkan. Bisa jadi yang belum terlapor jumlahnya lebih banyak. Ini menjadi tanggung jawab bersama untuk mencegah dan menangani kekerasan terhadap perempuan dan anak,” tegasnya.
Sebagai perbandingan, sepanjang tahun 2025 UPTD PPA Batam mencatat 338 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Rinciannya, 70 kasus kekerasan terhadap perempuan dan 268 kasus melibatkan anak, baik laki-laki maupun perempuan.
Adapun pada tahun 2024 tercatat 265 kasus, terdiri dari 47 kasus kekerasan terhadap perempuan dan 218 kasus terhadap anak.
UPTD PPA Batam juga memberikan layanan pendampingan mulai dari pemeriksaan di kepolisian (BAP), persidangan di pengadilan, visum, konsultasi psikiater, pemulihan traumatis, reintegrasi dan reunifikasi keluarga, pendampingan pendidikan, hingga pendampingan program ekonomi keluarga.
(*/Batampos)


