Hubungi kami di

Inspirasi

Kostum Badut Sang Guru Untuk Berantas Buta Huruf

iqbal fadillah

Terbit

|

RASANYA, apa yang dilakukan pria ini sudah sangat jarang terjadi. Sosok sukarelawan seperti Harris Rizki, 34 tahun. Pria asal Simokerto Surabaya itu rela menjadi badut dan blusukan ke perkampungan untuk mengajar membaca-menulis warga buta huruf.

Harris Rizki adalah seorang guru penjaga perpustakaan di SDN IV Bubutan, Surabaya, Jawa Timur. Ia rela blusukan dengan mengenakan kostum badut demi memberantas buta huruf di perkampungan kumuh. Pria itu diketahui merupakan alumnus Fakultas Ilmu Pendidikan Unesa.

“Kegiatan blusukan tersebut dimulai sejak 2009, tapi kalau memakai kostum badut, saya lakukan pada 2015, tujuannya agar anak-anak yang mengikuti belajar baca-tulis tidak bosan,” katanya seperti dikutip dari blog sumarno.

Kedatangan Harris Rizki di Jalan Pawiyatan cukup membuat warga merasa diperhatikan. Mereka secara serempak berkumpul waktu Harris datang untuk belajar di gardu yang belum selesai dibangun.

“Saya mengajar dari kampung ke kampung khusus kawasan kumuh. Sebelum mengajar, tentu saya survei dulu bagaimana kondisi masyarakatnya, jadi tidak sembarangan,” jelas Harris lagi.

Berkostum badut, lanjut Harris, memang sangat panas, namun itu tidak menjadi masalah saat melihat keinginan mereka dalam belajar, suasanya jadi seru dan ceria. Tidak hanya anak kecil, setidaknya ada empat lansia buta aksara menjadi murid dan didampingi keluarganya mengeja huruf alfabet dengan nyaring.

BACA JUGA :  Hal-Hal Yang Diprediksi Punah di 2025

Dalam melakoni aktifitas sosialnya, Harris ernyata tidak sendirian. Ia ditemani bonekanya bernama Ayis. Boneka lucu berwujud ayam itu aslinya juga dikendalikan Harris sendiri lewat suara perutnya. Kostum dan boneka tersebut sangat mudah diterima oleh masyarakat saat belajar.

“Tapi tidak sering saya juga mendapat penolakan dari warga, tapi saya terus mencobanya,” imbuh dia.

Pembelajaran dilakukan satu kali dalam seminggu dengan menyesuaikan waktu warga yang berada di lokasi. Harris tidak menarik biaya sepeser pun untuk yang ingin belajar bersamanya, ia senang membantu warga sekitar.

“Saya tak minta sepeser pun, tapi ini mengikuti nurani saya dan kepuasan batin,” imbuhnya.

Salah satu murid, Mak Aisyiah, yang sudah berusia 70 tahun tampak begitu antusias. Dia juga mengeja huruf dengan nyaring. “Pa-pa, Ma-Ma.. Be-li Ta-hu,” ucap nenek itu sambil sesekali menggendong cucunya.

Kegiatan Harris mendapat apresiasis dari salah satu warga sekitar, Eko Gondrong. Ia berharap kegiatan positif seperti ini sering diadakan. “Ya sepanjang itu edukasi dan hiburan bagus-bagus saja dan sangat kami terima. Apalagi ada unsur edukasi dan hiburannya untuk mengisi waktu luang,” ujarnya.

(yur/int)

Teruskan Membaca
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sebaran

Facebook