AKSI kejahatan bermodus percintaan kian meraja-lela. Seperti biasa, pelaku dan bakal korban menjajaki komunikasi awal. Bila percakapan lewat pesan singkat terus berlanjut dan semakin intens, maka pada akhirnya tatap muka via kamera pun dilakukan; video call sex (VCS).
Asmara dunia maya. Ya, bisa dibilang begitu. Hanya saja yang merasakan kepuasan tentu korban yang notabene kaum pria. Pelaku -wanita- jelas hanya ingin cuan. Semakin banyak uang, semakin tinggi pendapatan.
Setelah asyik VCS, pelaku kemudian mengancam korban dengan berbagai cara. Entah itu dengan menangkap gambar layar hasil obrolan, atau merekam secara diam-diam. Pada intinya, korban merasa ketakutan akan ranah privatnya. Mau tidak mau, harus mengikuti permintaan pelaku yang inginkan uang.
Begitulah kira-kira konsep love scamming atau ‘Jagal Babi’ yang dijalankan oleh ratusan Warga Negara Asing (WNA) asal Cina.
Mereka melancarkan aksinya di Kota Batam, Kepulauan Riau. Polisi pun menangkap para pelaku yang terdiri dari lelaki dan perempuan. Sampai saat ini, yang sudah diamankan sebanyak 132 orang.
Penangkapan Puluhan Pelaku Love Scamming di Batam
Sebanyak 88 warga asal Cina diamankan Ditreskrimsus Polda Kepri dan Divisi Hubungan Internasional (Hubinter), serta join operation dengan Kementerian Keamanan Publik Tiongkok Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Selasa (29/8/2023) lalu di Kawasan Camo Industry, Batam.
Pada penangkapan pertama itu, telah diamankan juga dua orang yang diduga merupakan otak dari aksi kejahatan tersebut. Namun, polisi belum bisa mengekspos keduanya sebab masih dalam tahap pendalaman.
Kabid Humas Polda Kepri, Kombes Pol. Zahwani Pandra mengaminkannya. Puluhan warga Cina itu merupakan pelaku tindak pidana love scamming atau pemerasan berkedok video syur.

“Modusnya mereka melakukan video sex atau video scamming dan melakukan pemerasan terhadap korban melalui jaringan komunikasi daring,” kata dia, di lokasi penggerebekan, tempo hari.
Dugaan yang menjadi korban selama ini rata-rata merupakan warga negara di Cina. Meski begitu, polisi masih melakukan penyelidikan dan pendalaman.
Penangkapan Sindikat Jaringan yang Sama di Belakangpadang
Puluhan pelaku love scamming kembali diamankan polisi pada Selasa (5/9/2023) kemarin sekitar pukul 17:30 WIB, di Pulau Kasu dan Pulau Bontong, Belakangpadang. Total ada 42 orang yang ditangkap. Mereka juga merupakan pelaku dari sindikat yang sama dari sebelumnya.
Kala itu, pihak kepolisian mendapati informasi keberadaan WNA asal Cina tersebut oleh masyarakat. Aparat dari Ditkrimsus, Interpol Hubinter Polri, Satreskrim Polresta Barelang dan Polsek Belakangpadang langsung menuju ke TKP.

“Di Pulau Kasu, kami mengamankan 10 orang. Kemudian di Pulau Bontong, mereka (pelaku) melarikan diri ke hutan, namun berhasil kami amankan sebanyak 32 orang. Jadi totalnya ada 42 orang. Terdiri dari 34 laki-laki dan 8 wanita,” ujar Dirreskrimsus Polda Kepri, Kombes Pol Nasriadi, saat konferensi pers di Mapolres Barelang, Rabu (6/9/2023).
“Mereka berada di beberapa TKP di Batam. Setelah penangkapan kemarin di Camo Industry, mereka melarikan diri,” tambahnya.
Barang bukti yang diamankan dari hasil penangkapan itu yakni 32 unit ponsel, satu unit laptop, uang Rp 79 juta, enam paspor dan 13 ID card.
“Untuk barang bukti uang ini, kita akan selidiki dari mana mereka mendapat mata uang rupiah itu,” pungkas Nasriadi.
Para pelaku tersebut kini berada di Polresta Barelang dan diserahkan untuk didata serta diperiksa lebih lanjut oleh polisi China. Total yang sudah diamankan saat ini sebanyak 132 orang.
Rumah Warga di Belakangpadang jadi Markas Persembunyian
Polisi hingga kini masih berusaha mencari keberadaan pelaku lainnya dan menyisir tempat-tempat persembunyian mereka. Beberapa TKP telah dicek. Termasuk rumah yang digunakan para pelaku untuk bersembunyi dari kejaran aparat di Belakangpadang.
“Mereka kita tangkap di rumah warga. Warga itu melarikan diri dan kita masih dalam tahap pengejaran,” kata Nasriadi.

Dari hasil penyidikan, lanjutnya, bahwa ada warga Indonesia yang memfasilitasi dan memberikan tempat kepada para pelaku. Polisi terus mendalaminya, termasuk juga perihal keuntungan dan aset yang mereka miliki di Indonesia.
“Akan kami cek keuntungan apa yang mereka dapat dan kita cari keberadaannya. Kita akan melakukan tracking aset atau money laundry dengan aset-aset yang mereka beli dan usaha lainnya dari hasil kejahatan ini,” ujar dia.
Buronan Polisi Cina, Aston Martin dan Jalur Masuk ke Indonesia
Polisi Cina yang ikut turun langsung ke Batam, akhirnya berhasil mengamankan seorang buronan di negara asalnya. Ialah pria berinisial LX. Diketahui, LX jadi salah satu penggerak sindikat love scamming yang beroperasi di Bandar Dunia Madani.
“Yang berharga dari penangkapan kedua ini, kita mendapatkan buronan polisi Cina berinisal LX. Dia sebagai pemimpin, pengatur, perencanaan dan pimpinan jaringan ini,” ujar Nasriadi.

Lalu, pada saat penangkapan pertama para pelaku, Polda Kepri turut mengamankan sebuah mobil mewah produsen asal Britania Raya; Aston Martin. Dari keterangan polisi, mobil itu digunakan oleh dua otak pelaku yang juga telah ditangkap.
“Aston Martin yang di Polda itu adalah kendaraan yang digunakan oleh dua tersangka (otak pelaku) yang ditangkap. Kita akan cek itu dibeli dimana, siapa yang membelinya, statusnya bagaimana dan lain sebagainya,” katanya.
Kemudian, mengenai jalur masuk para WNI asal Cina itu, Nasriadi menyebut ada dua rute yang dilewati hingga pada akhirnya tiba di Batam.
Rute Pertama, para pelaku masuk lewat jalur laut di Pelabuhan Internasional Batamcenter dengan jalur Cina – Singapura – Batam, Indonesia.
Rute kedua, mereka melakukan penerbangan dengan jalur Cina – Malaysia – Batam, Indonesia.
“Kami telah berkoordinasi dengan Imigrasi, mereka masuk ke sini lewat jalur tersebut,” ujar Nasriadi.
Para pelaku juga terbilang cerdik. Mereka masuk ke Batam secara berkala. Artinya tidak berkelompok. Dokumen masuk yang digunakan juga adalah visa kunjungan. Sementara untuk paspor merupakan wewenang dari kepolisian Cina.
“Mereka datang ke Batam dengan alasan pekerjaan dan dengan menggunakan visa kunjungan. Mereka datang secara berkala dan tidak berkelompok,” kata dia.
Polisi terus melakukan berbagai upaya untuk memburu para pelaku dari sindikat love scamming tersebut karena diyakini ada indikasi bahwa pelaku masih berada di Batam. Akan tetapi, polisi tidak tau berapa jumlahnya.
(ahm)


