Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Remisi Khusus Idul Fitri Diberikan Kepada 1.000 Warga Binaan di Batam
    2 hari lalu
    Walikota Batam Gelar Open House Idul Fitri di Wisma Batam
    2 hari lalu
    Sambut Idul Fitri, 12 Peserta Meriahkan Pawai Kereta Hias Kab. Karimun
    2 hari lalu
    Jelang Perayaan Idul Fitri Pemkab Bintan Tuntaskan Penyaluran THR ASN dan Insentif non ASN
    3 hari lalu
    Cahaya Obor Menghiasi Malam Takbiran di Kabupaten Bintan
    3 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Dua Karakter Berbeda Orangtua
    1 minggu lalu
    Aktifitas Kelompok Budidaya Laut Biru di Bintan
    1 minggu lalu
    Bassist God Bless, Donny Fattah Gagola Meninggal Dunia
    2 minggu lalu
    Larangan Akses Digital untuk Anak di Bawah 16 Tahun
    2 minggu lalu
    Pembelajaran Sekolah Rakyat di Tanjungpinang Saat Ramadan
    4 minggu lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Jumlah Penduduk Beragama Islam di Kota Batam
    2 minggu lalu
    Kualitas Udara di Batam, Jumat (27/2/2026)
    4 minggu lalu
    Gunung Bekaka, Pulau Sugi – Kabupaten Karimun
    2 bulan lalu
    Kecamatan Tanjungpinang Kota, Tanjungpinang
    2 bulan lalu
    Raja Hoesin (Raja Husin) Ibn Radja Ja’far YDM Riouw VI
    3 bulan lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    1 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    2 bulan lalu
    “Kundur & Buru – Pesona dan Tradisi”
    2 bulan lalu
    “Karimun Besar – Harmoni Alam & Budaya”
    3 bulan lalu
    #Full Hendrik; Pujakesuma di DPRD Batam
    8 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

Menengok Sejarah Gowok

Editor Admin 3 tahun lalu 794 disimak

“…Maksud kedatanganku kemari adalah ingin menyerahkan anakku Bagus Sasongko kepada Nyai Lindri. Dia akan nyantrik di sini beberapa waktu lamanya. Kuserahkan anakku sepenuhnya ke tanganmu, Nyai, supaya dia nanti memperoleh bekal kehidupan ketika akan memasuki alam kedewasaan,” kata Wedana Randu Pitu ketika mengantarkan putranya kepada seorang wanita dewasa yang dikenal dengan sebutan gowok dalam novel Nyai Gowok karangan Budi Sardjono.

Di masa silam, tradisi memberikan pendidikan berumah tangga, termasuk di dalamnya pendidikan seks, kepada calon suami yang tengah mempersiapkan diri menuju jenjang pernikahan dilakukan oleh masyarakat di wilayah Jawa, salah satunya di daerah Banyumas. Tradisi ini dinamakan gowokan.

Minimnya informasi mengenai seluk-beluk kehidupan rumah tangga, serta pandangan bahwa membicarakan pendidikan seks merupakan hal yang tabu, membuat para orang tua khawatir anak mereka tak bahagia dalam berumah tangga. Kekhawatiran itu mendorong lahirnya gagasan agar laki-laki yang hendak menikah dididik terlebih dahulu oleh orang yang telah berpengalaman.

Tugas untuk mendidik lelaki muda atau calon suami dilakukan oleh seorang wanita yang dianggap memiliki pengetahuan yang cukup mengenai kehidupan rumah tangga. Wanita ini bertindak seolah-olah seorang istri yang mengajarkan laki-laki yang hendak menikah bagaimana menjadi suami yang baik. Wanita ini dinamakan gowok.

M. Koderi dalam Banyumas: Wisata dan Budaya yang disunting Ahmad Tohari, menyebut tak semua wanita dapat menjadi gowok. “Tugas semacam itu merupakan keahlian tersendiri,” tulis Koderi.

Oleh karena itu, ada sejumlah persiapan yang harus dilakukan seorang gowok sebelum menjalankan tugasnya. Salah satunya keahlian dalam mengendalikan diri dan menghadapi godaan, sehingga saat menjalankan tugasnya tidak terjadi hal-hal di luar batas.

Dalam menjalankan tugasnya, gowok akan mendapat gaji atau upah dari orangtua yang menitipkan anaknya.

R. Prawoto dalam tulisannya, “Huwelijksgebruiken en met het Huwelijk Verwants Verhouding in Oude Ost-Banjoemas”, di majalah Tijdschrift voor Indische Taal- , Land- en Volkenkunde LXXI tahun 1931, menyebut gowok memiliki tarif tertentu yang bervariasi antara f.0,25 dan f.0,30 per hari. Biasanya orangtua yang menitipkan putranya kepada gowok berasal dari keluarga terpandang yang memiliki cukup uang. Sehingga, selain mendapat upah berupa uang, gowok juga mendapat tambahan beras, kelapa, dan lain-lain sebagai ungkapan terima kasih.

Meski mendapat upah dan beragam bingkisan tambahan, gowok tak bisa sembarangan dalam bertugas. Ia harus memenuhi kontrak yang dibuat dengan orangtua lelaki yang ia bimbing. Jika gowok –yang jarang atau tidak pernah terjadi– gagal memenuhi kewajibannya, Prawoto menyebut gowok diwajibkan untuk mengembalikan peningset atau seserahan yang diterimanya.

Selama membimbing pemuda untuk bersiap menjadi seorang suami, gowok biasanya bertindak selayaknya seorang istri dan menantu. “Ia harus memasak makanan untuk pemuda itu dan keluarganya, menyediakan kayu bakar, membawa pemuda itu ke tanah tempat ia bekerja, membawakan makanan, mengurus pakaian dan harta miliknya, menerima kunjungan untuknya, dll.,” tulis Prawoto.

Sementara itu, menurut Koderi, bila masa “pendidikan” yang dijalani telah rampung, gowok akan melaporkan hasilnya kepada orangtua pemuda yang menjadi muridnya. “Setelah anaknya lulus menjalani gowokan, barulah orangtua mengirim undangan untuk perkawinan anaknya,” tulis Koderi.

Pembahasan mengenai gowok dan tradisi gowokan menarik minat sejumlah pengarang. Novel dan tulisan mengenai gowok bermunculan, salah satunya Nyai Gowok karya Budi Sardjono.

Dalam novel tersebut, Budi mencoba merunut sejarah kehadiran gowok di pulau Jawa. Ia menyebut Goo Wook Niang sebagai perempuan yang pertama kali memperkenalkan cara mendidik anak lelaki yang beranjak dewasa dengan diajak tinggal di rumahnya selama beberapa hari.

Menurut Budi, kegiatan itu telah dilakukan Goo Wook Niang sejak masih tinggal di Tiongkok. “Dan, hanya anak-anak lelaki dari kalangan istana yang ia didik supaya kelak jadi lelaki sejati, mengenal betul setiap inci dari tubuh perempuan, dan akhirnya bisa membahagiakan perempuan yang dijadikan pasangan hidupnya,” tulis Budi.

Jauh sebelum Budi Sardjono, seorang pengarang keturunan Tionghoa bernama Liem Khing Hoo telah menulis roman berjudul Gowok tahun 1936.

Menurut Claudine Salmon, penulis dan peneliti asal Prancis, dalam “Fiksi Etnografis dalam Kesusastraan Melayu Peranakan”, termuat dalam Panggung Sejarah: Persembahan Kepada Prof. Dr. Denys Lombard, roman karangan Liem itu mendapat banyak tanggapan dari kalangan pers setelah diterbitkan.

Dalam roman tersebut, penulis yang memiliki nama pena Romano, menceritakan kisah Soemanda, putra seorang kepala desa, yang telah menyelesaikan pendidikan lanjutannya di sekolah Belanda dan berusaha menghindari tradisi gowokan yang ia anggap tak sesuai dengan moralnya.

Meski begitu ayah Soemanda telah mengatur segalanya dan mendatangkan seorang gowok bernama Soembangsih pada waktu yang telah ditentukan. Pembicaraan antara Soemanda dan Soembangsih tentang pendidikan rumah tangga yang dipandang Soemanda terbelakang telah mengubah pemikirannya. Soemanda menyadari Soembangsih merupakan wanita yang cerdas. Akhirnya, ia tak hanya setuju menimba ilmu kepada Soembangsih, tetapi juga jatuh cinta kepada sang gowok.

Roman karangan Liem Khing Hoo ini menjadi perbincangan publik tak lama setelah terbit. Sebab, tak sedikit orang yang menganggap bahwa tradisi gowokan telah lama punah. Namun, dalam catatan kaki tulisannya, Claudine Salmon menulis, redaksi Sin Po menambahkan catatan berisi rujukan pada artikel R. Prawoto yang menjelaskan bahwa adat itu pada 1931 masih hidup di daerah Bukateja yang berlokasi di dekat Banyumas.

Menurut Prawoto, istilah gowokan umum digunakan di desa-desa pegunungan di perbatasan Banyumas lama. Sementara di daerah bawah yang berbatasan dengan Wonosobo, istilah yang digunakan adalah sentongan. Seiring berjalannya waktu, tradisi gowokan lambat laun memudar. Perbedaan pandangan terkait nilai-nilai dalam masyarakat disinyalir menjadi salah satu faktor yang membuat tradisi ini mulai ditinggalkan.

(*)

Sumber: historia.id

Kaitan Banyumas, Gowok, pernikahan, Tradisi
Admin 17 November 2022 17 November 2022
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Resmikan Rusun Stisipol Raja Haji, Gubernur Kepri Beri Motivasi Mahasiswa
Artikel Selanjutnya Resesi Global 2023 | Apa Kata Kadin?

APA YANG BARU?

Remisi Khusus Idul Fitri Diberikan Kepada 1.000 Warga Binaan di Batam
Artikel 2 hari lalu 115 disimak
Walikota Batam Gelar Open House Idul Fitri di Wisma Batam
Artikel 2 hari lalu 108 disimak
Sambut Idul Fitri, 12 Peserta Meriahkan Pawai Kereta Hias Kab. Karimun
Artikel 2 hari lalu 107 disimak
Jelang Perayaan Idul Fitri Pemkab Bintan Tuntaskan Penyaluran THR ASN dan Insentif non ASN
Artikel 3 hari lalu 179 disimak
Cahaya Obor Menghiasi Malam Takbiran di Kabupaten Bintan
Artikel 3 hari lalu 168 disimak

POPULER PEKAN INI

BMKG Perkirakan Cuaca Batam Cerah Saat Hari Raya Idul Fitri
Artikel 4 hari lalu 349 disimak
Ngemplang Pajak Daerah 4 Miliar Lebih, Bos Da Vienna Hotel Terancam di Penjara
Artikel 6 hari lalu 266 disimak
Chery C5 CSH Resmi Hadir di Batam, Siap Temani Mobilitas Dinamis Kota Industri dan Maritim
Artikel 5 hari lalu 252 disimak
Tinjau Posko Mudik, Bupati Bintan Pastikan Pemudik Aman di Perjalanan
Artikel 5 hari lalu 226 disimak
80 Kendaraan Hias Meriahkan Pawai Takbir Keliling Idul Fitri Pemko Batam
Artikel 4 hari lalu 222 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?