OLAHRAGA walking football mulai diperkenalkan secara serius di Kepulauan Riau, khususnya di Batam, meskipun masih terdengar asing di Indonesia. Berbeda dengan sepak bola tradisional, dalam cabang ini pemain tidak boleh berlari selama pertandingan, dan semua gerakan harus dilakukan dengan berjalan cepat saat menguasai atau mengejar bola. Wasit akan memberikan pelanggaran langsung jika ada pemain yang berlari.
Upaya pengenalan dilakukan melalui rencana pertandingan ekshibisi persahabatan antara Persejasi Kepri dan Johor Walking Football Association. Agenda ini bertujuan untuk memperluas ekosistem walking football di perbatasan Indonesia-Malaysia, dengan Batam sebagai lokasi terpilih karena fasilitas olahraga yang memadai dan lokasi strategis. Kegiatan ini juga menjadi uji coba kesiapan organisasi lokal dalam mengelola pertandingan internasional.
Delegasi JWFA yang dipimpin oleh Presiden Ricalin Iganam tiba di Batam pada Selasa, 20 Januari 2026, dan melibatkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta Dinas Pemuda dan Olahraga Batam. Tujuan kunjungan ini adalah untuk menjajaki perkembangan walking football dan membangun kolaborasi lintas negara. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Ardiwinata, sangat optimis terhadap potensi walking football sebagai daya tarik sport tourism yang dapat menarik atlet dan komunitas olahraga internasional, terutama dengan banyaknya amenitas yang tersedia untuk menampung peserta.
“Sebagai pemerintah, kami sangat mendukung rencana pertandingan persahabatan ini, dan berharap acara ini berjalan dengan baik. Kami ingin acara ini berkembang menjadi lebih besar dengan melibatkan negara-negara tetangga,” ujar Ardi.
Sementara itu, Naib Presiden JWFA, Khairi, menjelaskan bahwa walking football telah berkembang pesat di Johor, terutama di kalangan orang berusia di atas 40 tahun dan juga menarik minat perempuan. Model pengembangan di Johor diharapkan bisa menjadi referensi untuk Batam.
“Olahraga ini berkembang dengan baik, dengan peserta mayoritas di atas 50 tahun, meskipun banyak yang berusia 40-an,” jelas Khairi.
Ketua Persejasi Kepulauan Riau, Yudi Candra, optimis tentang perkembangan walking football di Batam, yang kini aktif menggunakan lapangan mini soccer untuk latihan dan pertandingan.
“Lapangan mini soccer di Batam sudah sering digunakan untuk walking football. Ini menunjukkan bahwa olahraga ini semakin dikenal dan berkembang,” ungkap Yudi.
Persejasi Kepri berkomitmen untuk menurunkan tim terbaik dalam pertandingan ekshibisi, yang terdiri dari tiga laga: dua kategori laki-laki di atas 40 tahun dan satu kategori perempuan di atas 35 tahun. Semua pertandingan dijadwalkan berlangsung pada 6–8 Februari 2026 dan akan melibatkan event organizer profesional.
(dha)


