PT Pelindo I (Persero) diminta untuk menunda menaikkan tarif pas masuk Pelabuhan Sri Bintan Pura (SBP) Tanjungpinang, yang rencananya mulai berlaku 1 Agustus 2023.
Hal itu disampaikan Ketua Komisi II DPRD Kepulauan Riau (Kepri), Wahyu Wahyudin. Menurut dia kenaikan tarif pas masuk sebesar 50 persen, yaitu dari Rp 10 ribu menjadi Rp 15 ribu itu tidak selaras dengan peningkatan fasilitas dan layanan di Pelabuhan SBP Tanjungpinang.
“Pelayanan di pelabuhan SBP masih belum prima dan masih banyak kekurangan,” kata Wahyudin di Tanjungpinang, dikutip Antara, Kamis (20/7/2/23).
Ia mencontohkan atap dermaga yang sudah keropos dan toilet yang kerap menimbulkan bau tidak sedap sehingga mengganggu kenyamanan para penumpang.
“Pelindo jangan suka-suka naikkan tarif, sementara fasilitas pelabuhan belum memadai,” ujarnya.
Politisi PKS menegaskan seharusnya Pelindo saat ini fokus membenahi fasilitas dan layanan kepelabuhanan agar semakin baik dan prima.
Setelah itu, katanya, baru Pelindo membahas rencana kenaikan tarif pas masuk pelabuhan SBP. Itu pun harus melalui kajian yang matang dan melewati uji publik.
“Benahi dulu atap dermaga dan toiletnya, area parkir pun tidak tertata rapi, demikian pula ruang tunggu yang panas. Kalau sudah diperbaiki, barulah bicara kenaikan tarif,” tuturnya.
Lanjut Wahyudin juga meminta Pelindo menunda kenaikan tarif pas masuk pelabuhan hingga perekonomian masyarakat betul-betul pulih setelah terdampak pandemi Covid-19 selama sekitar tiga tahun ke belakang.
Sebagai BUMN, menurutnya, Pelindo seharusnya mendukung program pemulihan ekonomi yang selalu digaungkan pemerintah secara nasional.
“Saya minta kenaikan tarif itu dibatalkan, kasihan masyarakat. Ekonomi belum betul-betul pulih, tapi tarif pas masuk pelabuhan mau dinaikkan. Rp 15 ribu itu sudah dapat sekitar 1,3 kilogram beras,” ucapnya.
Sementara itu, Alfian, salah seorang mahasiswa di Tanjungpinang turut menyayangkan rencana kenaikan tarif pas masuk pelabuhan SBP
Menurutnya tarif pas masuk yang berlaku saat ini yakni Rp 10 ribu masih dalam batas wajar, mengingat fasilitas di pelabuhan itu juga tergolong belum begitu baik.
“Saya kerap mengambil kiriman barang dari keluarga kampung lewat pelabuhan SBP. Akan sangat berat jika harus merogoh kocek Rp 15 ribu untuk masuk ke dalam pelabuhan itu,” kata Alfian.
(*/pir)


