Hubungi kami di

Tanah Air

Pembangunan Pelabuhan Logistik & Perikanan Teluk Buton Mulai Dibahas

Terbit

|

Gubernur Kepri, Ansar Ahmad dalam rapat terbatas virtual dengan Dubes KBRI Tokyo Heri Akhmadi. © Humas & Protokol Kepri

RENCANA pembangunan pelabuhan terpadu Samudera sebagai pelabuhan logistik dan perikanan di Teluk Buton, Kabupaten Natuna, mulai dibahas pengerjaannya.

Pelabuhan ini rencana akan dibangun di atas tanah seluas 1,7 hektar untuk sementara, dan bisa saja diperluas lagi dengan melakukan pembebasan tanah masyarakat di sekitarnya.

Diharapkan pelabuhan ini menjadi pelabuhan terpadu yang multifungsi, selain menjadi pelabuhan perikanan dan logistik, secata tidak langsung juga menjadi pelabuhan yang bisa mendukung pertahanan dan keamanan negara.

Gubernur Kepri, Ansar Ahmad dalam rapat terbatas virtual dengan Dubes KBRI Tokyo Heri Akhmadi memaparkan, bahwa sejatinya di Kabupaten Natuna sudah ada pelabuhan terpadu di Sekat Lampa untuk pelabuhan logistik dan perikanan.

Hanya saja jarak menuju Selat Lampa sangat jauh dan melalui jalur yang terjal. Sehingga kurang bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat untuk pelabuhan perikanan dan logistik. Atau cenderung lebih banyak dimanfaatkan oleh TNI untuk mendukung kegiatan pertahanan.

“Kita membutuhkan dukungan dari pak Dubes terkait rencana pembangunan Pelabuhan Samudera ini. Kepada Menteri Perhubungan juga sudah kita bahas, dan apa yang menjadi tanggungjawab kami di Pemerintah Daerah sudah kami lakukan, dari masalah studi kelayakan, DED dan sebagainya,” kata Ansar.

Saat ini Pemerintah Provinsi Kepri bersama Pemkab Natuna telah menyiapkan lahan seluas 1,7 hektar dan sudah menyediakan anggaran untuk studi kelayakan sebesar Rp2,5 miliar. Adapun biaya pembangunan pelabuhan diusulkan kepada Menteri Perhubungan RI sebesar Rp200 miliar.

BACA JUGA :  Dubes China : "Natuna Milik Indonesia, Kami Tidak Pernah Permasalahkan"

“Saya sempat diundang rapat bersama Menko Marves dan Menhub. Disampaikan bahwa pelabuhan di Selat Lampa akan diserahkan ke TNI AL untuk mendukung kegiatan pertahanan. Dan disepakati dibangun pelabuhan alternatif, yakni pelabuhan Samudera yakni pelabuhan Logistik dan perikanan di Teluk Buton,” kata Ansar lagi.

“Kami di daerah ini sudah sangat siap, semoga segera terealisasi. Dan apapun yang menjadi domain tugas kami, kami akan lakukan semampu dan sebisa kami,” tambah Bupati Natuna, Wan Siswandi yang hadir juga dalam rapat.

Tidak hanya menyangkut rencana pembangunan pelabuhan terpadu Samudera di Teluk Buton, Ansar juga memohon agar Dubes KBRI Tokyo ikut mendorong terwujudnya kawasan KEK khusus di Natuna dan bisa mempromosikan keunggulan Jepang kepada investor yang ada di Jepang.

Sementara itu Dubes KBRI di Tokyo Heri Akhmadi menyatakan menyambut baik rencana ini. Namun dia menegaskan jika posisi KBRI hanya sebagai perwakilan yang hanya menjalankan kebijakan, dan bukan pengambil kebijakan.

“Karena saya hanya menjalankan kebijakan, maka saya akan menyampaikan hal ini kepada yang mengambil kebijakan. Kita juga akan tawarkan segala potensi yang ada di Natuna kepada pengusaha Jepang intuk invest di Natuna,” katanya.

BACA JUGA :  MOMEN Kedatangan WNI Asal Wuhan di Halim Perdana Kusuma

Heri juga mengaku sudah sempat berdiskusi dengan Menko Marves, Menhan dan Menteri KKP terkait rencana pengembangan pelabuhan terpadu di Natuna. Dan semuanya diakui mendukungnya. Bahkan hal ini nantinya akan menjadi salah satu benteng pertahanan masyarakat melalui program penguatan ekonomi.

“Pada intinya, masalah pertahanan dan keamanan kita tidak hanya terfokus dengan memperkuat armada perang saja. Namun lebih penting membangun penguatan ekonomi masyarakat. Dan pelabuhan terpadu di Teluk Buton ini selain menjadi alat untuk memperkuat ekonomi, juga akan menjadi benteng pertahanan dan keamanan negara,” katanya.

Hal ini juga, lanjut Heri sudah sempat dibicarakan juga dengan JICA (Japan International Cooperation Agency), yakni sebuah lembaga kerjasama pemerintahan Jepang. Dan pihak JICA diakui Heri membuka lampu hijau untuk andil dalam proyek di Natuna tersebut.

“Kita sudah sempat membuka pembicaraan dan JICA membuka pintu untuk hal tersebut. Kita juga mau agar pelabuhan terpadu di Natuna ini memiliki value yang bisa menjadikan Natuna sebagai pusat perikanan internasional kedepannya,” ujar Heri.

Bahkan JICA sendiri ditegaskan Heri telah ikut andil dalam pembangunan pulau-pulau terluar yang ada di Indonesia sebagai upaya pemakmuran ekonomi dan keterisoliran di Indonesia.

(*/gas)

Teruskan Membaca
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sebaran

Facebook