NILAI ekspor Kota Batam pada Januari–Februari 2026 tercatat sebesar US 3.107,47 juta, turun 3,67 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencapai US 3.107,47 juta, turun 3,67 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencapai US3.107,47 juta.
Kepala BPS Batam, Eko Aprianto, menyatakan penurunan itu disebabkan melemahnya kinerja ekspor baik di sektor nonmigas maupun migas. Ekspor nonmigas turun 2,93 persen dari US 3.083,58 juta menjadi US 3.083,58 juta menjadi US 3.083,58 juta menjadi US2.993,39 juta, sedangkan ekspor migas turun lebih tajam, 19,82 persen, dari US 142,27 juta menjadi US142,27 juta menjadi US 142,27 juta menjadi US 114,08 juta.
Meski secara kumulatif menurun, kinerja ekspor pada Februari 2026 menunjukkan perbaikan. Nilai ekspor bulan itu mencapai US 1.514,65 juta, naik 4,44 persen dibanding Februari2025. Peningkatan terutama berasal dari ekspor nonmigas yang naik 5,53 persen menjadi US1.514,65 juta, naik 4,44 persen dibanding Februari 2025.
Dari sisi komoditas, ekspor Batam masih dikuasai produk industri. Mesin dan peralatan listrik (HS 85) menjadi kontributor utama dengan nilai US1.561,44juta (52,161.561,44 juta (52,16% dari ekspor nonmigas).
Produk utama lainnya meliputi mesin/pesawat mekanik (HS 84) US1.561,44juta(52,16356,13 juta, minyak dan lemak hewan/nabati (HS 15) US 194,46 juta, serta produk besi dan baja (HS73) US 194,46 juta, serta produk besi dan baja (HS 73) US194,46juta.
Amerika Serikat tetap menjadi pasar utama Batam, dengan ekspor Januari–Februari 2026 sebesar US860,32juta (27,69860,32 juta (27,69% dari total), naik 30,71% dari tahun sebelumnya. Singapura berada di posisi kedua dengan US860,32juta (27,69704,47 juta (22,67%).
Sepuluh negara teratas — termasuk AS, Singapura, India, Tiongkok, Jepang, Filipina, Australia, Uni Emirat Arab, Jerman, dan Vietnam — menyumbang 83,32% dari total ekspor.
Berdasarkan pelabuhan, sebagian besar ekspor keluar melalui Pelabuhan Batu Ampar senilai US 2.006,96 juta, disusul Sekupang US2.006,96 juta, Kabil/Panau US 436,39 juta, BelakangPadang US 436,39 juta dan Bandara Hang Nadim US$18,20 juta — kelima pintu tersebut menyumbang 99,88% dari total ekspor.
Dari segi volume, Batu Ampar juga dominan dengan 297,27 ribu ton, diikuti Belakang Padang 252,60 ribu ton, Kabil/Panau 245,95 ribu ton, Sekupang 33,16 ribu ton, dan Pulau Sambu 15,50 ribu ton.
Di sisi impor, Batam mencatat kenaikan. Nilai impor Januari–Februari 2026 mencapai US 2.963,80 juta, naik 10,202.963,80 juta, naik 10,20% dibanding tahun sebelumnya.
Pada Februari 2026, impor mencapai US 2.963,80 juta, naik 10,201.384,67 juta, naik 3,91%. Impor nonmigas naik 4,00% menjadi US1.378,50 juta,sedangkan impor migas turun 12,631.378,50 juta ,sedangkan impor migas turun 12,636,17 juta.
Komoditas impor terbesar adalah mesin dan peralatan listrik (HS 85) senilai US 1.271,24juta (43,091.271,24 juta (43,09% dari impor nonmigas). Tiongkok menjadi pemasok utama dengan total pasokan US 1.271,24juta (43,091.450,64 juta (48,95% dari total impor).
Dilihat menurut pelabuhan, sebagian besar impor masuk lewat Batu Ampar senilai US 2.054,06 juta, kemudian Sekupang US2.054,06 juta, Pulau Sambu US 142,04 juta, Kabil/Panau US 142,04 juta, dan Belakang Padang US$7,50 juta — kelima pelabuhan tersebut menyumbang 99,93% dari total impor.
Volume impor terbesar juga melalui Batu Ampar (471,43 ribu ton), disusul Kabil/Panau 93,54 ribu ton, Pulau Sambu 67,52 ribu ton, Sekupang 65,10 ribu ton, dan Belakang Padang 1,58 ribu ton.
Secara keseluruhan, data menunjukkan aktivitas perdagangan luar negeri Batam pada awal 2026 masih bergerak dinamis meski ekspor terkoreksi dan impor meningkat.
(dha)


