Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔮 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Siswa SMA Keluarga Mampu Bisa Tidak Lagi Jadi Prioritas Penerima MBG
    15 jam lalu
    ‘Rayap Besi’ Tutup Drainase di Terowongan Pelita Tertangkap
    15 jam lalu
    Data Pendaftar SPMB Batam Diduga Bocor
    16 jam lalu
    Tiga Orang Diamankan BNNP Kepri Terkait Peredaran Vape Mengandung Narkoba
    24 jam lalu
    Pelaku UMKM Kawasan Mega Legenda Diberi Waktu Relokasi Mandiri Hingga Akhir Tahun
    1 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Mengapa Judi ‘Online’ Masih Marak Meskipun Sudah Ada Aturan Pidananya?
    6 jam lalu
    Jangan Pakai Sepatu Lari: Untuk Jalan-jalan
    6 jam lalu
    Polibatam Perkuat Jejaring Internasional Lewat Global Knowledge Sharing 2026
    2 hari lalu
    Pendaftar Membludak, SMK Negeri 1 Batam Kelebihan Kuota Hingga 1.546 Siswa
    2 hari lalu
    Parade Kemilau Nusantara Kepri 2026
    3 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Pulau Benan, Lingga
    6 jam lalu
    Raja Ali ibn Daeng Kamboja (Yang Dipertuan Muda Riau V)
    1 hari lalu
    ANALISIS DATA: Cuaca Batam & Kepri Sepekan ke Depan
    3 hari lalu
    Sultan Sulaiman II Badrul Alamsyah (Sultan Riau Lingga Keempat 1857 – 1883)
    5 hari lalu
    Penduduk Batam Kategori Miskin 3,81 persen, Lingga Tertinggi di Kepri 9 persen
    7 hari lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    #ComingSoon LIMAS POTONG: ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’
    3 jam lalu
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    4 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    4 bulan lalu
    “Kundur & Buru – Pesona dan Tradisi”
    5 bulan lalu
    “Karimun Besar – Harmoni Alam & Budaya”
    5 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔮 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
In Depth

Antara Penurunan Angka, Perubahan Instrumen, dan Tantangan Adaptasi Kebijakan Literasi

IPLM Kepulauan Riau

Editor Admin 2 bulan lalu 255 disimak
Ilustrasi, literasiDisediakan oleh GoWest.ID

PENURUNAN Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) pada tahun 2025 bukan sekadar statistik yang mengejutkan, melainkan sebuah peristiwa kebijakan yang layak dibaca secara kritis.


KETIKA angka nasional turun dari 73,52 pada 2024 menjadi 40,06 pada 2025, dan ini terjadi juga di Provinsi Kepulauan Riau turun dari 74,24 (diatas IPLM Nasional) menjadi 36,04 (dibawah IPLM Nasional). Publik seolah dihadapkan pada satu narasi besar: literasi Indonesia dan Kepulauan Riau sedang melemah. Namun, apakah benar demikian?

Jika ditelaah lebih dalam, data Badan Pusat Statistik (BPS) justru menunjukkan realitas yang jauh lebih kompleks. Pada tingkat kabupaten/kota di Kepulauan Riau, penurunan terjadi secara drastis dan hampir merata. Kabupaten Karimun pada tahun 2024 mencatat di angka 59,01 turun menjadi 10,1 pada tahun 2025. Kabupaten Bintan turun dari 69,19 menjadi 6,1. Kabupaten Natuna turun dari 74,48 menjadi 10,91.Kabupaten Linga dari 69,14 menjadi 10,23. Kabupaten Kepulauan Anambas dari 92,9 menjadi 14,24. Kota Batam dari 48,52 menjadi 12,36. Dan Kota Tanjungpinang dari 74,73 menjadi 18,65.

Penurunan yang tajam, serentak, dan merata ini sulit dijelaskan hanya dengan asumsi perubahan perilaku masyarakat dalam satu tahun. Di titik inilah muncul pertanyaan krusial: apakah ini mencerminkan krisis literasi yang sesungguhnya, atau justru konsekuensi dari perubahan instrumen pengukuran?

Jawaban atas pertanyaan ini membawa kita pada satu kesimpulan penting: yang berubah bukan hanya kondisi, tetapi juga cara mengukur kondisi tersebut.

Terbitnya Peraturan Perpustakaan Nasional Nomor 7 Tahun 2025 tentang Pengukuran IPLM menjadi kunci untuk memahami fenomena ini. Regulasi ini menghadirkan perubahan mendasar dalam pendekatan pengukuran literasi. Jika sebelumnya IPLM lebih menitikberatkan pada aspek kuantitatif; seperti jumlah perpustakaan, koleksi buku, dan tingkat kunjungan, kini pengukuran bergeser ke aspek yang lebih substansial: kualitas literasi, tingkat pemanfaatan, dampak sosial, serta keterlibatan masyarakat.

Secara konseptual, perubahan ini adalah langkah maju. Negara mencoba keluar dari jebakan angka semu menuju pengukuran yang lebih bermakna. Literasi tidak lagi dilihat dari seberapa banyak buku tersedia, tetapi dari seberapa besar pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat. Ini adalah pendekatan yang lebih relevan dalam konteks pembangunan manusia.

Namun, setiap lompatan kebijakan selalu membawa konsekuensi. Dalam kajian akademik, fenomena ini dikenal sebagai rebaselining, yaitu perubahan baseline yang menyebabkan data tidak dapat dibandingkan secara langsung antarperiode.

Masalahnya, perubahan ini tidak sepenuhnya diikuti dengan kesiapan sistem.

Di banyak daerah, termasuk di Kepulauan Riau, pemerintah daerah belum sepenuhnya memahami indikator baru. Sosialisasi yang terbatas, pendampingan yang minim, serta ketidaksiapan dalam pengumpulan data berbasis dampak membuat angka IPLM 2025 lebih mencerminkan ketidaksiapan sistem daripada kondisi riil literasi masyarakat.

Di sinilah letak persoalan yang sebenarnya: bukan pada literasi yang tiba-tiba jatuh, melainkan pada kebijakan yang belum sepenuhnya siap diimplementasikan.

Ketua Pengurus Wilayah Forum Taman Bacaan Masyarakat (Forum TBM) Kepulauan Riau, Harken, menyampaikan kritik yang tajam sekaligus konstruktif:“Penurunan IPLM ini tidak bisa dibaca secara sederhana sebagai kemunduran literasi. Ada perubahan instrumen yang signifikan. Namun, jika daerah tidak dipersiapkan, maka data ini justru berpotensi menyesatkan arah kebijakan.”

Pernyataan ini menegaskan bahwa persoalan utama bukan pada angka, melainkan pada interpretasi dan kesiapan. Ketika indikator berubah tanpa diiringi pemahaman yang memadai, maka data kehilangan fungsi utamanya sebagai alat evaluasi.

Lebih jauh, kondisi ini berpotensi melahirkan kebijakan yang keliru. Pemerintah daerah bisa saja terjebak pada upaya memperbaiki angka secara administratif, tanpa menyentuh akar persoalan. Program literasi menjadi sekadar formalitas, kehilangan makna sebagai gerakan sosial.

Padahal, literasi tidak pernah lahir dari kebijakan semata. Ia tumbuh dari budaya, dari kebiasaan, dan dari ruang-ruang sosial yang hidup di tengah masyarakat. Taman Bacaan Masyarakat (TBM), komunitas literasi, dan berbagai inisiatif lokal merupakan aktor utama dalam membangun ekosistem tersebut.

Harken kembali mengingatkan: “Jangan sampai kita sibuk mengejar angka, tetapi lupa membangun ekosistem. Literasi itu bukan proyek jangka pendek, melainkan gerakan jangka panjang. Jika gerakannya tidak hidup, maka angka setinggi apa pun tidak memiliki arti.”

Fenomena ini seharusnya menjadi refleksi bagi para pembuat kebijakan: keberhasilan literasi tidak bisa diukur hanya dari indikator teknis, tetapi dari keberlanjutan gerakan di masyarakat.

Dalam konteks ini, penurunan IPLM 2025 seharusnya dibaca sebagai alarm. Bukan alarm kegagalan masyarakat, melainkan alarm ketidaksiapan kebijakan.

Lalu, apa yang harus dilakukan?

Pertama, pemerintah pusat perlu menyediakan bridging data, yaitu data transisi yang menghubungkan metode lama dan baru. Tanpa ini, perbandingan antar tahun menjadi tidak valid dan berpotensi menyesatkan.

Kedua, sosialisasi indikator baru harus dilakukan secara masif dan sistematis. Pemerintah daerah, pegiat TBM, akademisi, sektor swasta, hingga masyarakat perlu memahami apa yang berubah dan bagaimana menyesuaikannya.

Ketiga, penguatan kapasitas daerah menjadi keharusan. Tidak semua daerah memiliki kemampuan yang sama dalam mengelola data berbasis dampak. Tanpa pendampingan, kesenjangan akan semakin lebar.

Keempat, ekosistem literasi berbasis komunitas harus diperkuat. TBM tidak boleh dipandang sebagai pelengkap, tetapi sebagai ujung tombak. Di sanalah literasi hidup, tumbuh, dan berdampak langsung pada masyarakat.

Kelima, literasi harus diintegrasikan dalam kebijakan lintas sektor. Ia tidak bisa berdiri sendiri sebagai program perpustakaan semata. Pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, bahkan pembangunan desa harus menjadikan literasi sebagai fondasi.

Keenam, evaluasi dan audit independen perlu dilakukan secara berkala untuk memastikan bahwa data IPLM benar-benar mencerminkan kondisi riil, bukan sekadar hasil proses administratif.

Namun, yang lebih penting dari semua itu adalah perubahan cara pandang.

Selama ini, literasi sering dipersepsikan sebagai urusan membaca dan menulis. Padahal, dalam konteks modern, literasi adalah kemampuan memahami, mengolah, dan memanfaatkan informasi untuk meningkatkan kualitas hidup. Dengan kata lain, literasi adalah fondasi daya saing.

Jika kita gagal membangun literasi, maka kita sedang membangun masyarakat yang renta. Renta terhadap disinformasi, ketimpangan, dan stagnasi.

Dalam perspektif ini, penurunan IPLM bukan sekadar persoalan angka, melainkan peringatan bahwa pembangunan manusia tidak bisa berjalan tanpa fondasi literasi yang kuat.

Sebagaimana ditegaskan oleh Harken: “Literasi adalah perubahan perilaku menuju arah masa depan bukan sekadar indikator, Jika salah membaca data, maka kita juga akan salah menentukan arah kebijakan.”

Perubahan instrumen pengukuran melalui Peraturan Perpustakaan Nasional Nomor 7 Tahun 2025 adalah langkah maju yang menuntut adaptasi dari seluruh pemangku kepentingan.

Tantangan utama saat ini bukan rendahnya angka, melainkan kemampuan untuk memahami dan merespons perubahan tersebut secara tepat. Literasi harus dipandang sebagai fondasi pembangunan manusia, bukan sekadar indikator administratif.

Pada akhirnya, pertanyaan yang harus dijawab bukanlah apakah IPLM turun atau naik, tetapi apakah kita siap membangun sistem literasi yang lebih jujur, lebih kuat, inklusif, dan berkelanjutan di masa depan.

(*)

Kaitan batam, kepri, kepulauan riau, Literasi, membaca, Menulis, tanjungpinang
Admin 5 April 2026 5 April 2026
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Pemko Batam Prioritaskan Pelebaran Jalan Jembatan dan Pembangunan SMK di Bengkong
Artikel Selanjutnya Lonjakan Kebakaran Hutan di Tanjungpinang Saat Musim Kemarau

APA YANG BARU?

#ComingSoon LIMAS POTONG: ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’
Documentary 3 jam lalu 114 disimak
Mengapa Judi ‘Online’ Masih Marak Meskipun Sudah Ada Aturan Pidananya?
Catatan Netizen 6 jam lalu 124 disimak
Jangan Pakai Sepatu Lari: Untuk Jalan-jalan
Catatan Netizen 6 jam lalu 125 disimak
Pulau Benan, Lingga
Wilayah 6 jam lalu 112 disimak
Siswa SMA Keluarga Mampu Bisa Tidak Lagi Jadi Prioritas Penerima MBG
Artikel 15 jam lalu 183 disimak

POPULER PEKAN INI

Kalah Dari Australia, Nova Arianto Segera Evaluasi Tim Garuda Muda
Sports 5 hari lalu 622 disimak
ANALISIS DATA: Cuaca Batam & Kepri Sepekan ke Depan
Statistik 3 hari lalu 582 disimak
Piala Dunia 2026, Korea Selatan Comeback (2-1) Atas Republik Ceko
Sports 4 hari lalu 559 disimak
Proyek Jembatan Batam–Bintan Senilai Rp17 Triliun Masih Mandek, Investor Belum Ada
Artikel 4 hari lalu 559 disimak
Gagal ke Final, Tim Garuda U19 Kalah Tipis dari Australia
Sports 5 hari lalu 555 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?