“Bayangkan, begitu sibuknya pulau kecil ini melayani kapal-kapal uap besar dan kecil, termasuk kapal layar dagang yang secara reguler memiliki interaksi dengan Singapura. Apalagi bila telegram informasi tiba: “Singapura hari ini dinyatakan terjangkit karena pes”
…
“Pada akhir pekan, Orang-orang Eropa biasanya mengunjungi klub societiet. Sementara orang pribumi beserta istri dan anak-anak mereka, duduk di atas koran yang dibawa di lapangan hingga tangga societiet untuk menyaksikan pertunjukan gambar hidup dari bioskop terbuka.”
…
“Hubungan dengan Singapura dari Samboe, dilayani oleh sebuah kapal uap kecil. Ada jadwal dua kali sehari berlayar ke kedua arah“ (Ons Zeewezen 15 Maart 1929)
Oleh: Bintoro Suryo
MESKI jarang disinggahi kapal penumpang dan kurang dikenal masyarakat luas, Pulau Sambu (Samboe, pen.) di utara Kepulauan Riau pada masa lalu, punya peran vital sebagai pelabuhan minyak sekaligus gerbang karantina Hindia Belanda yang menjaga kelancaran lalu lintas pelayaran di Selat Malaka.
Pulau kecil itu mulai ditetapkan sebagai depo penampungan minyak oleh pemerintah kolonial Belanda sejak menjelang akhir abad 19.
Ketika kolera dan pes melanda Singapura, seluruh kapal yang hendak masuk ke Nusantara harus melewati satu pintu: Pulau Sambu. Pulau ini juga sempat beberapa kali menjadi pusat disinfeksi. Seperti pada wabah kolera dan pes yang melanda Asia Tenggara pada sekitar tahun 1929.
Pulau Sambu jadi penjaga gerbang wilayah Hindia Belanda — tempat kapal-kapal dagang berhenti untuk diasapi belerang sebelum bebas berlayar ke Nusantara.
Sebuah artikel dari majalah Ons Zeewezen edisi 15 Maret 1929, melaporkan situasi dan aktifitas di pulau kecil yang lebih dulu berkembang dibandingkan pulau utama, Batam pada masa itu.
PULAU MINYAK DAN KARANTINA
POELAU-SAMBOE
OLEH
R. V.
TERMASUK pelabuhan-pelabuhan penting di Kepulauan Hindia Belanda adalah pulau “Poelau Samboe”. Terletak di pantai utara Karesidenan Riouw dan Daerah Takluknya, tepat berhadapan dengan Singapura. Di kalangan masyarakat luas, pulau ini kurang dikenal. Tidak ada rute umum dan kapal penumpang yang menyinggahi poelau Samboe dalam keadaan normal.
Pentingnya pelabuhan ini terutama ketika Singapura dinyatakan terjangkit wabah kolera atau pes. Wabah yang melanda wilayah itu pada 8 hingga 9 bulan dalam setahun ini (tahun 1929, pen.). Pada kira-kira 2 hingga 3 bulan dari jangka waktu itu, Poelau Samboe berfungsi sebagai pelabuhan karantina.
Pemerintah Kolonial telah membantu pelayaran dengan menetapkan pulau ini sebagai pelabuhan karantina utama, sebelum kapal-kapal dagang dinyatakan bebas masuk wilayah Hindia Belanda. Ini juga perlu karena di dekat Singapura dan Selat Malaka, terdapat banyak pelabuhan kecil Hindia yang menjadi tujuan perdagangan. Aktifitas para pelaku pelayaran akan menjadi kehilangan banyak waktu, bila mereka harus berlayar dulu ke pelabuhan besar di Jawa untuk proses disinfeksi. Terutama kapal-kapal dari pelabuhan Singapura.
Bayangkan, begitu sibuknya pulau kecil ini melayani kapal-kapal uap besar dan kecil, termasuk kapal layar dagang yang secara reguler memiliki interaksi dengan Singapura. Apalagi bila telegram informasi tiba: “Singapura hari ini dinyatakan terjangkit karena pes”, dari Kepala Dinas Kesehatan Sipil, diterima. Suasana langsung berubah menjadi sangat sibuk.
Semua orang lalu bergerak. Dalam dua puluh empat jam, personel ekstra sudah direkrut lagi dan kapal-kapal Clayton disiapkan.
Mereka akan langsung difungsikan sebagai pengawas atas peralatan pengasapan belerang. Biasanya merupakan personel berkewarganegaraan Inggris.
Begitu Singapura dinyatakan terjangkit, kapal-kapal berdatangan ke pelabuhan Samboe. Jumlahnya puluhan. Seluruhnya harus diasapi dengan belerang. Tidak jarang, 50 sampai 60 wangkang dan perahu, berderet bersama di rede untuk didisinfeksi. Selain itu masih ada sepuluh kapal uap dengan tujuan sama mengantri tempat bersandar di lautan.
Pegawai kantor dan pegawai lapangan dari dinas pelabuhan, kemudian terus-menerus, dari pukul 6 pagi hingga pukul 8 malam. Mereka sibuk dan sering kali mengabaikan jam kerja delapan jam.
Selain kesibukan karantina ini, kegiatan utama di pulau ini, yakni hilir mudik kapal-kapal tangki yang berlayar ke Samboe untuk datang membongkar dan memuat, tetap berjalan. Selain itu masih datang sejumlah ekstra kapal tangki untuk diasapi belerang.
Saat-saat seperti itu menjadi waktu-waktu tersibuk Syahbandar, wakil syahbandar dan para petugas pandu. Mereka harus memastikan semua terlayani dengan cepat, agar lalulintas kapal-kapal tidak mengalami hambatan.
Kondisi Samboe Masa Itu
SEBAGAI pelabuhan minyak, Samboe sangat penting. Area tambatnya cukup dalam untuk memberikan tempat berlabuh kepada kapal-kapal besar.

Di sisi Barat pulau, berdiri 22 tangki minyak dan di bukit-bukit di sisi Timur berdiri rumah-rumah orang Eropa. Terdapat juga tempat tinggal para pekerja, yang disebut bangsal. Sekitar empat puluhan keluarga, Belanda dan Inggris, tinggal di Samboe. Sementara jumlah pekerja pribumi dan China sekitar 2000 orang yang ditempatkan di bangsal-bangsal.
Air minum untuk penduduk pulau karantina minyak ini harus didatangkan dari Singapura. Rumah-rumah tinggal dan instalasi minyak diterangi dengan listrik.
Sehubungan dengan jarak yang kecil antara Singapura—Samboe, jarak mana dengan kapal penghubung ditempuh dalam waktu satu jam, banyak terjadi kontak antara pejabat Pemerintah Inggris dan Belanda, yang selalu bekerja sama dalam harmoni yang baik.
Karena Bataafsche Petroleum Mij.(Perusahaan pengelola minyak milik Hindia Belanda, pen.) sangat memperhatikan kesejahteraan pegawainya, maka pegawai-pegawai Pemerintah juga ikut menikmatinya.
Ada gedung klub yang sangat bagus di sini, tempat bagi pegawai B.P.M. maupun Pegawai Pemerintah untuk saling bertemu. Jam operasinya adalah mulai pukul 3 sore hingga pukul 10 malam. Klub hiburan ini dilarang buka pada jam kerja di siang hari, dari jam 12 hungga jam 3 sore.
Langkah ini kemungkinan diambil oleh direksi agar para pekerja usia muda tidak tergoda mendatangi klub hiburan societiet pada jam kerja siang hari.

Pulau kecil ini juga memiliki fasilitas hiburan lain. Setiap hari, di waktu luang, warga Eropa biasa bermain tenis dan sepak bola. Sementara pada hari Sabtu dan Minggu malam, diadakan pertunjukan bioskop terbuka.
Pada akhir pekan, Orang-orang Eropa biasanya mengunjungi klub societiet. Sementara orang pribumi beserta istri dan anak-anak mereka, duduk di atas koran yang dibawa di lapangan hingga tangga societiet untuk menyaksikan pertunjukan gambar hidup dari bioskop terbuka.
Penonton Pribumi dan Tionghoa yang sering terdiri dari lebih dari 1000 orang. Mereka selalu menjadi penonton yang antusias. Mereka menyaksikan pertunjukan film, tak jarang ikut meluapkan pendapatnya tentang apa yang mereka tonton.
Selain pertunjukan bioskop, orang Pribumi di pulau kecil ini juga menyimak pagelaran wayang komedi dan musik gamelan di masa luang mereka. Bagi penduduk Samboe, hiburan dan fasilitas yang dinikmati di sini tergolong melimpah dan mewah dibanding wilayah lain di sekitarnya.
Di pulau itu sangat sedikit pekerja perempuan. Sering terjadi bahwa satu perempuan pribumi memasak untuk tiga hingga empat laki-laki pribumi.
Budaya Arisan ke Singapura
ADA aktifitas dan kebiasaan lucu dari para pekerja pribumi di sini; mereka membentuk kelompok-kelompok yang terdiri dari 5 hingga 6 orang, yang bertujuan menabung bersama dalam apa yang disebut uang keluar (arisan, pen.).
Tiap anggota kelompok menyetor setiap minggu kira-kira $1.—. Kemudian, sekali sebulan 5 atau 6 orang ini menggelar undian. Orang yang mendapat undian, bisa menggunakannya untuk bersenang-senang di Singapura. Warga yang sudah mendapat undian, tidak ikut dalam undian bulan berikutnya. Tetapi, tentu saja tetap harus menyetor bagiannya, dan menunggu sampai semua anggota kelompok mendapat giliran undian ke Singapura.
Mereka tampaknya lebih suka pergi ke Singapura sesekali dengan uang yang banyak hasil dari undian tersebut, daripada setiap bulan pergi ke Singapura dengan hanya beberapa dolar saja.
Hubungan dengan Singapura dari Samboe, dilayani oleh sebuah kapal uap kecil. Ada jadwal dua kali sehari berlayar ke kedua arah melalui Singapura. Dari Samboe pukul setengah sembilan pagi dan pukul dua siang. Sementara dari Singapura pukul setengah dua belas dan pukul empat sore.

Biasanya ongkos berbelanja di kota Singapura mahal. Bukan karena harga barang toko di sana yang tinggi. Tetapi karena waktu antara kedatangan dan keberangkatan kapal begitu singkat. Pengunjung sering belum selesai berbelanja, tetapi kapal sudah berangkat lagi. Jadi orang di Samboe yang berangkat ke Singapura, biasanya menginap.
Di sana, mereka biasa bertemu saudara atau kenalan, minum di bar John Little atau di tempat lain. Setelahnya, makan siang di tempat mewah yang tidak mereka dapati di pulau Samboe. Hal-hal begitu yang membuat pengeluaran mereka terasa lebih besar selama berkunjung ke Singapura. Tapi biasanya mereka tidak terlalu keberatan.
Pulau kecil yang Padat
Di luar jam kerja biasanya sangat sepi di pulau ini. Bila tidak ada hal khusus yang harus dikerjakan, orang-orang di sini pergi tidur pukul sembilan malam, untuk bangun pagi-pagi, saat fajar menyingsing pada pukul lima.
Di pulau ini tinggal sekitar dua ribu pekerja. Jadi, pulau kecil ini terasa begitu padat oleh penghuni, namun suasananya selalu tenang. Gangguan ketertiban atau keamanan yang serius sudah lama tidak terjadi. Keributan yang pernah dilaporkan adalah saat kerusuhan oleh pekerja harian Tionghoa yang datang dari Singapura. kadang-kadang, mereka memang mencoba mengganggu ketertiban. Tetapi upaya itu segera dipatahkan.
Syahbandar, yang sekaligus menjadi magistraat di pulau ini, tidak terlalu sibuk dengan jabatannya. Biasanya, perkara-perkara kecil yang terjadi di kantor pelabuhan, sudah diselesaikan secara kekeluargaan antara pukul 11 hungga 12 siang. Namun, ada kalanya ia menjadi sangat sibuk dan terpaksa harus menunda sidang untuk sementara. Hal itu terjadi jila ia dipanggil untuk memandu kapal masuk, sementara para pemandu masih sibuk dengan kapal-kapal lain.
Karena Poelau-Samboe ini terletak begitu dekat dengan Singapura, lokasi depo minyak ini sangat diminati oleh para pegawai “Bataafsche” dan “Asiatic”. Mereka lebih menyukai penempatan di pulau Samboe daripada di Pangkalan Brandan yang jauh dan panas atau tempat-tempat lain.
(*)
Penulis/ Videografer: Bintoro Suryo – Ordinary Man. Orang teknik, Mengelola Blog, suka sejarah & Videography.
Artikel ini diterbitkan sebelumnya di: bintorosuryo.com


