“Happiness is walking in the grass in your bare feet“. Metafora di kaos ah-kong (kakek) yang saya jepret 30 Juli lalu di Paya Lebar, terkesan ngece. Bagi saya. Ngece (Jawa), atau mengejek standarisasi sebagian besar orang, tentang arti sesungguhnya menjadi bahagia.
Oleh: Sultan Yohana
MENJADI kaya raya adalah standar umum seseorang merasa bahagia. Beberapa pekan lalu, saya menemani seorang dokter dari Surabaya keliling S’pore. Ia seusia saya, langsing, dan tampak sehat walafiat. Profesinya yang dokter, sudah bisa dipastikan ia memahami dengan sangat segala seluk-beluk kesehatan tubuh manusia.
Hari pertama keliling S’pore dengan transportasi umum dan jalan kaki, dari mulutnya selalu muncul keluhan soal kaki-kakinya yang kecapean. Tak kuat jalan. Hari kedua, keluhan itu frekuensinya kian bertambah. Padahal, rata-rata di HP saya tercatat, banyaknya langkah kami terukur cuma di angka10an ribu saja. Itu angka rata-rata jarak jalan kaki yang sehari-hari saya tempuh.
Keluhan, dan ketidakmampuan tubuh si dokter mengatasi jalan kaki yang biasa saya tempuh sehari-hari, membuktikan, kesehatan tubuh itu sangat berkorelasi dengan kebahagiaan seseorang.
Ia mungkin punya banyak duit. Tapi, ketidakmampuan jalan, pada akhirnya membuat ia terus mengeluh. Orang yang mengeluh, itu sudah pasti tak lagi gembira, tak lagi bisa menikmati situasi yang ada.
Ketidakmampuan fisiknya, juga membuat dia urung mendapat kesempatan melihat banyak hal-hal menarik di S’pore. Membuat dia gagal memanfaatkan plesirannya untuk belajar banyak dari S’pore, untuk bisa memetik banyak manfaat. Melayang kesempatan untuk menjadi lebih pintar, lebih gembira.
.
“Saya jalan kaki, saya pintar, dan saya bahagia”. Kelak saya mungkin akan menulis metafora ini pada sebuah kaos yang saya kenakan. Karena, seperti Nabi SAW yang gemar jalan kaki ke pasar-pasar: dengan jalan kaki Anda bisa memperhatikan banyak hal. Bertemu dan ngobrol banyak orang. Menemukan ide. Melihat masalah secara langsung. Saling bantu-membantu. Menciptakan kepedulian. Belajar banyak hal. Sehat. Dan akhirnya, semua proses yang didapatkan dari jalan kaki itu, bisa mendekatkan kita pada apa yang disebut orang sebagai bahagia.
Anda bodoh, jika mengira bahagia itu dengan bisa mencuri emas 74 kilogram banyaknya. Yang ada justru kecemasan luar biasa, seumur hidup Anda. Lalu mati bergelimang hipertensi, diabetes, jantungan, atau malah dibacok suami perempuan yang Anda selingkuhi.
Kalau saya pribadi, bahagia itu, kalau masih bisa lari-lari nyeker di atas rumput di usia sekarang. Punya cukup tabungan. Anak-bojo sehat, ndak punya cicilan bank, dan punya waktu untuk hobi. Juga bisa makan apa pun makanan kegemaran yang diingini.
Sehat saja tanpa punya duit? Susahlah! Bahkan sekalipun sekedar berpura-pura bahagia, itu masih membutuhkan uang.
(*)
Penulis/ Vlogger : Sultan Yohana, Citizen Indonesia berdomisili di Singapura. Menulis di berbagai platform, mengelola blog www.sultanyohana.id


