Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Arus Mudik Lebaran, 43 Ribu Warga Tinggalkan Batam Pake Jalur Laut
    1 jam lalu
    Menhan Sjafrie Sjamsoedin Resmikan Masjid Lanud Hang Nadim Batam
    2 jam lalu
    Kota Batam Sah Miliki Perda Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan (Adminduk)
    4 jam lalu
    Pemko Batam Gandeng PT UJKM Bangun Kembali Pasar Induk Jodoh
    16 jam lalu
    Pengesahan Ranperda PSU Ditunda, Tim Pansus DPRD Batam Minta Tambahan Waktu
    21 jam lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Dua Karakter Berbeda Orangtua
    3 hari lalu
    Aktifitas Kelompok Budidaya Laut Biru di Bintan
    3 hari lalu
    Bassist God Bless, Donny Fattah Gagola Meninggal Dunia
    1 minggu lalu
    Larangan Akses Digital untuk Anak di Bawah 16 Tahun
    1 minggu lalu
    Pembelajaran Sekolah Rakyat di Tanjungpinang Saat Ramadan
    3 minggu lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Jumlah Penduduk Beragama Islam di Kota Batam
    5 hari lalu
    Kualitas Udara di Batam, Jumat (27/2/2026)
    3 minggu lalu
    Gunung Bekaka, Pulau Sugi – Kabupaten Karimun
    1 bulan lalu
    Kecamatan Tanjungpinang Kota, Tanjungpinang
    2 bulan lalu
    Raja Hoesin (Raja Husin) Ibn Radja Ja’far YDM Riouw VI
    2 bulan lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    4 minggu lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    1 bulan lalu
    “Kundur & Buru – Pesona dan Tradisi”
    2 bulan lalu
    “Karimun Besar – Harmoni Alam & Budaya”
    2 bulan lalu
    #Full Hendrik; Pujakesuma di DPRD Batam
    8 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

Raden Saleh Melawan dengan Lukisan

Editor Admin 4 tahun lalu 734 disimak

DI awal film Mencuri Raden Saleh (2022) seorang mahasiswa seni bernama Piko (Iqbaal Ramadhan), sedang asyik melukis ulang lukisan H. Widajat. Seniman muda itu mencari uang dengan memalsukan lukisan untuk membebaskan ayahnya dari penjara.

Setelah lukisan palsu itu laku ratusan juta rupiah, Piko mendapat tawaran mencuri lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh Sjarif Boestaman (1811–1880) yang dijaga ketat di Istana Negara. Piko menerima tawaran itu dan membentuk tim yang terdiri dari Ucup (hacker), Sarah (atlet bela diri), Gofar (mekanik), Tuktuk (pembalap liar), dan Fella (bandar judi kampus). Masing-masing mengincar uang yang ditawarkan sebagai imbalan dari pencurian tersebut. Film yang skenarionya ditulis dan disutradarai Angga Dwimas Sasongko ini lalu bergulir seru.

Film drama laga ini masuk dalam sepuluh film Indonesia terlaris tahun 2022 dengan meraup lebih dari dua juta penonton.

Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh yang menjadi target pencurian ternyata memiliki ceritanya sendiri.

Pangeran Diponegoro memimpin perlawanan terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda selama lima tahun (1825–1830). Perang Jawa berakhir setelah Diponegoro ditangkap pada 28 Maret 1830 sehari setelah Lebaran. Penangkapan itu terjadi setelah lebih dari sebulan Belanda dan Diponegoro sepakat untuk rehat dari peperangan yang melelahkan.

“Hanya selepas bulan puasa pembicaraan yang lebih serius dapat dilakukan,” tulis Peter Carey dalam Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro.

Pangeran Diponegoro bersama para panglimanya yang masih muda dan pasukan bertombak masuk kota Magelang yang dikuasai Belanda pada hari ke-12 puasa. Dia bertemu Letnan Jenderal De Kock.

“De Kock dan Diponegoro saling cerita, bertukar lelucon saat bertemu,” tulis Carey. Pada pertemuan itu, De Kock tidak menangkap Pangeran Diponegoro. Barulah pada 28 Maret 1830, ketika Diponegoro datang bertemu De Kock, pasukan militer Belanda di Magelang sudah bersiap.

Di luar ruang pertemuan, Komandan Artileri Letnan Kolonel Aart de Kock van Leeuwen dan Komandan Kavaleri Mayor Johan Jacob Perie mengawasi pasukan Diponegoro. Di dalam ruangan ada Letnan Kolonel Roest, Mayor de Steur, dan penerjemah Kapten J.J. Roeps.

Pangeran Diponegoro telah melakukan apa yang dilakukan beberapa penguasa Jawa sebelumnya. Memberontak dulu lalu diakui menjadi penguasa daerah feodal baru di bekas daerah Mataram. Seperti Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengkubuwono I), pendiri Kesultanan Yogyakarta, atau Raden Mas Said (Pangeran Mangkunegaran I), pendiri Keraton Mangkunegaran. Namun, Diponegoro tak mendapatkan seperti yang didapat Raden Mas Said dan Pangeran Mangkubumi. Dia malah ditangkap dalam pertemuan itu.

Suasana penangkapan itu diabadikan dalam lukisan oleh Nicolaas Pieneman (1809–1860) tahun 1835. Lukisannya berjudul De onderwerping van Diepo Negoro aan luitenant-generaal baron De Kock atau Penyerahan Pangeran Diponegoro kepada Jenderal De Kock. Lukisan ini merupakan hasil penafsiran Pieneman karena dia tidak hadir dalam peristiwa penangkapan Diponegoro.

“Pieneman melukis Diponegoro melalui ekspresi bahasa tubuhnya, bahwa dia menerima penaklukannya. Diponegoro dan para pengikutnya mengekspresikan secara fisik bahwa keputusan Jenderal De Kock baik untuk semua,” tulis Werner Kraus dalam Raden Saleh dan Karyanya.

Orang-orang dalam lukisan Pieneman tidak semua orang Belanda. Nebojsa Djordjevic dalam The Depiction Of A (National) Hero: Pangeran Diponegoro In Paintings From The Nineteenth Century Until Today mencatat keterlibatan pasukan Tulungan dalam penangkapan itu dan mereka ada dalam lukisan. Pasukan Tulungan dari Minahasa, Sulawesi Utara, dalam lukisan itu diwakili oleh Johannis Inkiriwang, Hendrik Werias Supit, Tololiu H.W. Dotulong, dan Benjamin Thomas Sigar.

Makam Benjamin Thomas Sigar yang berasal dari Langowan, Minahasa, pernah dikunjungi Prabowo Subianto ketika masih muda. Dalam postingannya di twitter @prabowo (22/12/2012), Prabowo menyebut “Waktu itu usia saya 17 tahun. Saya ikut melayat ke makam Opa Benyamin Thomas Sigar bersama Alm. Ayah dan Alm. Bunda.”

Dua dekade lebih setelah penangkapan Pangeran Diponegoro, pada 1857 Raden Saleh melukis ulang peristiwa penangkapannya. Saat itu Diponegoro baru dua tahun wafat di Makassar. Seperti Pieneman, Raden Saleh tidak melihat langsung kejadian penangkapan Diponegoro. Dia juga punya tafsirannya sendiri atas peristiwa penangkapan itu.

“Ini adalah lukisan bersejarah yang menawarkan interpretasi ulang atas karya Nicholas Pieneman,” tulis Amir Sidharta, kurator seni, dalam Depicting History Indonesian Modernism in Transition: Selected Masterpieces from the Indonesian National Gallery.

Kraus mencatat, setelah selesai, lukisan itu dikirimkan Raden Saleh kepada Raja Belanda Willem III, yang berkuasa dari 1849 hingga 1890 dan dikenal bukan sosok pecinta seni. Tidak diketahui tentang tafsiran sang raja. Lukisan itu pernah terdampar di rumah sakit militer Bronbeek sebelum dikirim lagi ke Indonesia dan menjadi koleksi penting Indonesia.

Piko menyebut lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh merupakan simbol perlawanan. Tak hanya tergambar jelas perlawanan Diponegoro dan pengikutnya dalam lukisan itu, tapi juga perlawanan Raden Saleh terhadap lukisan Pieneman dan pemikiran feodal Belanda. Jadi, Raden Saleh telah menunjukan bahwa melawan kolonialisme Belanda bisa juga dengan karya dalam hal ini lukisan.

Oleh karena itu, sejarawan Asvi Warman Adam, menilai Raden Saleh sebagai pelopor seni lukis modern Indonesia layak diangkat menjadi Pahlawan Nasional.

Asvi menyebut lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh memberi contoh bagaimana pelukis menjadi bagian dari perjuangan melawan kolonialisme. Dengan lukisan itu, Raden Saleh hendak menentang lukisan karya Pieneman. Melalui lukisan itu pula Raden Saleh memperlihatkan bahwa Diponegoro adalah sosok yang tegar dan dihormati.

(*)

Sumber: historia.id

Kaitan lukisan, Raden Saleh
Admin 17 September 2022 17 September 2022
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Hasil Kualifikasi Piala Asia U-20 2023: Timnas Indonesia Pesta Gol ke Gawang Hong Kong
Artikel Selanjutnya Disbudpar Tanjungpinang Umumkan Pemenang Lomba Semarak Museum Dihatiku, Ini Daftar Pemenangnya!

APA YANG BARU?

Arus Mudik Lebaran, 43 Ribu Warga Tinggalkan Batam Pake Jalur Laut
Artikel 1 jam lalu 34 disimak
Menhan Sjafrie Sjamsoedin Resmikan Masjid Lanud Hang Nadim Batam
Artikel 2 jam lalu 28 disimak
Kota Batam Sah Miliki Perda Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan (Adminduk)
Artikel 4 jam lalu 37 disimak
Pemko Batam Gandeng PT UJKM Bangun Kembali Pasar Induk Jodoh
Artikel 16 jam lalu 38 disimak
Pengesahan Ranperda PSU Ditunda, Tim Pansus DPRD Batam Minta Tambahan Waktu
Artikel 21 jam lalu 101 disimak

POPULER PEKAN INI

Kebijakan Pembebasan PBB-P2 bagi Veteran dan Pensiunan di Batam
Artikel 5 hari lalu 227 disimak
Lonjakan Harga Tiket Pesawat Domestik Jelang Lebaran 2026
Artikel 5 hari lalu 212 disimak
Jumlah Penduduk Beragama Islam di Kota Batam
Statistik 5 hari lalu 197 disimak
Sambut Hari Raya Idul Fitri 1447 H, Pemko Batam Gelar Pawai Takbir Keliling
Artikel 3 hari lalu 186 disimak
Hutan dan Lahan di Bintan Terbakar Lagi, Waspada di Musim Panas
Artikel 3 hari lalu 178 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?