Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Rencana Batas Belanja Pegawai 30% pada APBD 2027, Nasib PPPK Bintan Terancam
    7 jam lalu
    Warga Tanjungpinang Terpaksa Beli Air Karena Kekeringan Panjang
    7 jam lalu
    Pungli di Pelabuhan Batam Center, Ombudsman Kepri Minta Perketat Pengawasan Pelayanan Publik
    12 jam lalu
    Kemarau Panjang, Pemko Batam dan Warga Gelar Salat Istisqa
    12 jam lalu
    Lonjakan Arus Balik di Pelabuhan Sekupang
    12 jam lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Tidak Ada “Kota Hantu” di Singapura
    11 jam lalu
    Atasi Volume Sampah di Batam, Pembangunan TPA Blok Baru di Kabil
    12 jam lalu
    Tahun 2026 Kemenag Batam Buka PMB Satu Pintu Jalur Prestasi Pada MTs Negeri
    2 hari lalu
    Debut Manis Herdman, Timnas Menang 4-0 Atas Saint Kitts
    3 hari lalu
    Dua Karakter Berbeda Orangtua
    2 minggu lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Jumlah Penduduk Beragama Islam di Kota Batam
    3 minggu lalu
    Kualitas Udara di Batam, Jumat (27/2/2026)
    1 bulan lalu
    Gunung Bekaka, Pulau Sugi – Kabupaten Karimun
    2 bulan lalu
    Kecamatan Tanjungpinang Kota, Tanjungpinang
    2 bulan lalu
    Raja Hoesin (Raja Husin) Ibn Radja Ja’far YDM Riouw VI
    3 bulan lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    1 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    2 bulan lalu
    “Kundur & Buru – Pesona dan Tradisi”
    2 bulan lalu
    “Karimun Besar – Harmoni Alam & Budaya”
    3 bulan lalu
    #Full Hendrik; Pujakesuma di DPRD Batam
    8 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
In Depth

‘Retak Mencari Belah; Keresahan Warga Rempang’

Editor Admin 3 tahun lalu 1.7k disimak
Ilustrasi, © disediakan oleh GoWest.ID

SUASANA di kampung-kampung adat yang ada di Pulau Rempang, Galang, Kota Batam, Kepulauan Riau, terpantau lebih kondusif paska kejadian konflik terbuka dengan aparat, pada Kamis (7/9) kemarin. Namun siapa tau isi hati masyarakat setempat. Serba rasa. Hidup di tanah moyang terkatung-katung, sekarang hanya menunggu ‘retak mencari belah’.

Daftar Isi
Spirit Masyarakat Nelayan MeredupRempang dengan 3 Pilar DasarPeradaban Melayu Asing di Tanah SendiriRancangan Investasi hingga Lingkungan yang Tak Terpisahkan dari Orang Pulau

MASYARAKAT Melayu di Rempang sedang resah karena harus berpisah dari tanah leluhur. Mereka harus meninggalkan sisa-sisa kenangan, budaya dan lingkungan yang sudah bersama sejak ratusan tahun silam, turun temurun.

Banyak kritikan dan komentar datang dari para pesohor soal kemelut yang sedang terjadi di pulau Rempang sekarang. Dari aktivis sampai politisi. Mulai dari Rocky Gerung sampai Menkopolhukam, Mahfud MD.

Ada pula maklumat yang keluar dari lembaga yang mengatasnamakan Melayu, walaupun itu tak seragam.

NGO lingkungan buka suara. Ialah Akar Bhumi Indonesia (ABI) yang bermarkas di Batam. Lantas bagaimana pendapat mereka soal investasi yang mengancam kelangsungan hidup masyarakat adat dengan alamnya?

Spirit Masyarakat Nelayan Meredup

Founder ABI, Hendrik Hermawan, tak menutup mata soal peluang investasi di Batam. Namun dia juga tak ingin masyarakat pesisir jadi korban.

“Kami adalah organisasi lingkungan yang menomor satukan lingkungan, tapi bukan menomor duakan manusia. Pada perkembangannya, Akar Bhumi menyentuh kepada aspek manusia, yakni masyarakat pesisir,” kata dia, Jumat (8/9/2023) kemarin pada GoWest.ID.

Tentang konflik di Rempang, ia belum melihat secara jelas tentang master plan wacana pengembangan industri hilirisasi di sana. Tapi, seyogyanya pemerintah perlu bertindak bijak.

“Pada dasarnya, Akar Bhumi tidak setuju jika pengembangan Pulau Rempang yamg kemudian menggusur warga dan menceraikan mereka dengan lingkungannya. Menceraikan masyarakat dari lingkungan itu tidak kalah jahatnya dengan merusak lingkungan,” kata Hendrik.

Hendrik cukup tau dan dekat dengan masyarakat pesisir di Kepri. Pasalnya, ABI kerap keluar masuk hutan, mengair di laut dan juga merasakan suasana kehidupan para nelayan.

“Memang, rata-rata, sebanyak 70 sampai 80 persen masyarakat pesisir khususnya nelayan di Kepri berada di bawah garis kemiskinan. Meski demikian, bukan berarti orang-orang itu tak menikmati hidup. Mereka masih cukup makan, meski ‘kais pagi makan pagi, kais petang makan petang’. Mereka juga masih bisa menyekolahkan anak”, katanya.

“Miskin itu kalau kita lihat dari harga, ini beda dengan bahagia. Tapi di sana, bukan berarti mereka tak bahagia. Saya dapat info masyarakat (bakal) dipindahkan ke darat untuk berbudidaya garam. Saya tidak setuju, itu namanya membunuh spirit nelayan,” lanjut Hendrik.

Rempang dengan 3 Pilar Dasar

Secara kehidupan, bagi ABI, ada beberapa sektor penting yang tak lepas dari manusia, yakni ekonomi, sosial budaya dan lingkungan. Semua itu adalah pilar hidup. Hendrik mengamati bahwa Rempang adalah pilar dari ketiganya. Apabila dasar-dasar itu tak dijaga, maka bisa berbahaya.

Hendrik melihat ada satu dari tiga pilar itu yang sangat rentan, adalah sosial budaya. Sudahlah masyarakat pesisir hidup dengan tingkat perekonomian yang rata-rata rendah, ditambah lagi pemerintah yang cuai. Tak heran jika masyarakat di pulau-pulau itu merasa dianaktirikan.

“Di Rempang ini yang sangat rentan adalah pilar sosial budaya. Makanya kami melihat adalah Pemko Batam belum berhasil menyejahterakan masyarakat pesisir, ditambah menggusur masyarakat di sana. Itu menambah dosa,” ujarnya.

Peradaban Melayu Asing di Tanah Sendiri

Puluhan bahkan ratusan tahun silam, sejarah mencatat bahwa peradaban di Kepri, termasuk Batam, merupakan kepunyaan orang-orang dari bangsa Melayu. Hendrik juga mengamininya. Namun sekarang, rakyat tempatan malah terkesan diasingkan.

Dia mencontohkan soal Batam yang kian hari makin banyak pendatang. Para perantau menggurita. Tidak sedikit dari mereka yang sukses dan menjadi kaya.

“Kita tahu orang-orang pendatang rumahnya semakin besar, parkirannya semakin luas, mobilnya bahkan tak cukup di parkiran. Tapi kalau pergi ke pesisir itu, untuk masuk ke rumah mereka (nelayan) jalannya pun susah. Kasian mereka seperti itu. Ada 90 persen desa dan kelurahan di Kepri ini berada di pesisir, sementara mereka terpinggirkan,” kata dia.

“Jangan salahkan mereka tentang pendidikan dan lainnya, berarti kita tidak punya sense social justice, secara ini tanah orang Melayu,” tambah Hendrik.

Garis besarnya, ABI bukan hanya memperhatikan soal faktor lingkungan, tapi juga spirit dan historis masyarakat pesisir dengan alamnya. Jika itu tak diperhatikan, akan menjadi kesalahan besar seluruh pihak lantaran peradaban akan lenyap.

“Ketika kita sudah tidak memperhatikan mereka, ini menjadi kesalahan besar karena jumlah peradaban dimana kita berdiri di atas kematian peradaban yang lain. Tidak bisa dipungkiri, merekalah pemilik tanah ini. Tapi secara legal, Indonesia mengangkanginya,” katanya.

Rancangan Investasi hingga Lingkungan yang Tak Terpisahkan dari Orang Pulau

Setelah lahan dialokasikan ke perusahaan, pasti ada potensi kerusakan. Ketika sesuatu itu direncanakan dengan matang, maka potensi itu akan semakin kecil.

ABI menilai, rancangan investasi di Rempang itu perlu restrukturisasi dengan melibatkan banyak stakeholder. Karena bila bicara soal kerusakan lingkungan, itu sudah jadi prioritas dunia, apalagi kerusakan di wilayah pesisir. Hendrik menyebut, bahwa tidak ada satupun orang yang mau menolak pembangunan apabila itu dijalankan dengan benar dan baik.

“Masyarakat Melayu itu sangat welcome. Mereka bahkan disakiti pun tak mau membalas menyakiti. Mereka mau hidup damai. Mereka punya kebahagiaan yang tidak bersumber dari materi, salah satunya dari lingkungan. Ada kemewahan dari mereka yang tidak dimiliki oleh orang-orang kaya di luar sana,” kata Hendrik.

ABI melihat bahwa jika rancangan investasi itu tidak digagas ulang, potensi kerusakan dan daya tahan kawasan laut di Kepri itu berubah. Mungkin saja bisa dicegah dengan melakukan akselerasi terhadap kerusakan akibat pembangunan dengan berbagai cara. Contohnya menanam pohon dengan dana yang besar dan melibatkan banyak orang.

“Tapi ini bukan mengenai kalkulasi seperti itu, ini ada spirit yang harus dijaga. Saya selalu bilang, mangrove dan pulau-pulau kecil tidak akan terpisahkan. Demikian juga masyarakat pulau yang tidak terpisahkan dengan lautan,” terangnya.

Lingkungan bukan hanya tempat bagi masyarakat Rempang berkembang biak. Bukan pula hanya tempat mengais rezeki. Tetapi juga tempat orang-orang itu mengakarkan budaya, sejarah dan pengetahuan.

(ahm)

Kaitan Akar bumi Indonesia, batam, budaya, Ecocity, Rempang
Admin 22 September 2023 22 September 2023
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali1
Sedih1
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Pertemuan di Mapolres Barelang Soal Pembatalan Aksi Solidaritas Rempang
Artikel Selanjutnya Uniknya Nama-Nama Anak Bos Tesla Elon Musk

APA YANG BARU?

Rencana Batas Belanja Pegawai 30% pada APBD 2027, Nasib PPPK Bintan Terancam
Artikel 7 jam lalu 105 disimak
Warga Tanjungpinang Terpaksa Beli Air Karena Kekeringan Panjang
Artikel 7 jam lalu 99 disimak
Tidak Ada “Kota Hantu” di Singapura
Catatan Netizen 11 jam lalu 121 disimak
Atasi Volume Sampah di Batam, Pembangunan TPA Blok Baru di Kabil
Lingkungan 12 jam lalu 124 disimak
Pungli di Pelabuhan Batam Center, Ombudsman Kepri Minta Perketat Pengawasan Pelayanan Publik
Artikel 12 jam lalu 136 disimak

POPULER PEKAN INI

Akhir Maret ini SPPG Batam Mulai Distribusikan Kembali MBG ke Sekolah
Artikel 4 hari lalu 309 disimak
Diskominfo Batam Sosialiasikan Larangan Penggunaan Medsos Anak Dibawah 16 Tahun
Artikel 4 hari lalu 304 disimak
Kantor Imigrasi Batam Tindak Lanjuti Keluhan Pemerasan Kepada WNA di Pelabuhan
Artikel 4 hari lalu 302 disimak
Terapkan WFA, Rabu 25 Maret ASN Pemko Batam Mulai Bekerja Kembali
Artikel 7 hari lalu 294 disimak
Volume Air Waduk Menurun, BP Batam Pastikan Layanan Air Bersih Tetap Terjaga
Artikel 3 hari lalu 246 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?