Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Lomba Cerdas Cermat Kader Posyandu Tanjungpinang Diikuti 145 Tim
    9 jam lalu
    Tersangka Pembakar Rumah Kos di Komplek Wijaya Kusuma Tertangkap
    9 jam lalu
    Polisi Amankan 34 Calon Pekerja Migran Ilegal di Batam Centre
    10 jam lalu
    Kecelakaan Lalu Lintas di Kepri Didominasi Usia Produktif serta Pelajar
    10 jam lalu
    Terseret Arus di Pantai Golden Beach, Remaja 13 Tahun Ditemukan Telah Meninggal
    24 jam lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    “Pulau Minyak dan Karantina; Sambu, 1929”
    12 menit lalu
    Karimon Eilanden; Perjalanan Van Den Berg dan Raja Abdullah, 1854
    3 hari lalu
    Kampanye Keselamatan Berlalu Lintas Digelar di SMKN 1 Batam
    3 hari lalu
    Berapa Lama Emas Harus Disimpan Agar Menguntungkan?
    5 hari lalu
    Pemko Batam Rencanakan Bangun Zona Selamat Sekolah di SD Negeri 001 Batam Kota
    6 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Jumlah Penduduk Beragama Islam di Kota Batam
    1 bulan lalu
    Kualitas Udara di Batam, Jumat (27/2/2026)
    2 bulan lalu
    Gunung Bekaka, Pulau Sugi – Kabupaten Karimun
    2 bulan lalu
    Kecamatan Tanjungpinang Kota, Tanjungpinang
    3 bulan lalu
    Raja Hoesin (Raja Husin) Ibn Radja Ja’far YDM Riouw VI
    3 bulan lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    2 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    2 bulan lalu
    “Kundur & Buru – Pesona dan Tradisi”
    3 bulan lalu
    “Karimun Besar – Harmoni Alam & Budaya”
    4 bulan lalu
    #Full Hendrik; Pujakesuma di DPRD Batam
    9 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

Kota Kara di Kaki Gunung Bintan

Editor Admin 2 tahun lalu 1.6k disimak
Plang nama di jalan menuju situs kota Kara di kaki gunung Bintan. © F. Yodha/ GoWest.ID

SEBUAH kota tua yang disebut Kota Kara, dipercaya pernah berdiri di kaki gunung Bintan, kabupaten Bintan, ratusan tahun lalu.


KOTA itu dipercaya sebagai bagian dari sebuah kerajaan yang sempat berdiri sebelum adanya Kerajaan Melayu Singapura, Johor, Melaka, Riau.

Berdasarkan cerita pusaka yang melegenda, di sekitar Kawasan Bukit Batu, dan Sekuning menyebutkan, Kota Kara sebagai tempat raja. Lokasinya di kawasan di kaki sebelah utara Gunung Bintan. Pada periode ini, Kota Kara disandingkan dengan Kopak, sebagai pusat pemerintahan raja Malaka yang terakhir.

Melansir dari situs Kemendikbud RI, terdapat juga kompleks makam Kota Kara. Itu merupakan kompleks makam raja Kerajaan Melayu Bentan. Terdapat 3 makam yang sangat penting yakni makam Ratu Mpuan Bintan Iskandasryah, makam Tengku Bungsu, dan Makam Isersyah (Bisamsyah).

Makam Ratu Mpuan Bintan Iskandar Syah merupakan ratu dari kerajaan Melayu Bentan. Makam Isersyah adalah makam dari Raja Kerajaan Melayu Bentan 1 dengan posisi makam berada di sisi timur laut dari makam Ratu Mpuan Iskandarsyah.

Menurut pewaris, kompleks makam ini merupakan makam keluarga kerajaan saat ibukota masih berada di Kota Kara.

Kompleks Makam Kota Kara merupakan makam keluarga Kerajaan Melayu Bentan saat pusat ibukota masih berada di Kota Kara. Makam berada di lahan datar dikelilingi oleh perkebunan penduduk. Pada kompleks makam terdapat sekitar 5 makam, namun 3 diantaranya merupakan makam yang penting dalam hal Kerajaan Melayu Bentan yakni  Makam Ratu Mpuan Bintan Iskandasryah, Makam Tengku Bungsu, dan Makam Isersyah (Bisamsyah). Ketiga makam tersebut masing-masing telah diberi jirat tembok yang dilapisi dengan keramik berwarna cokelat.

Nisan makam sangat sederhana dengan mempergunakan bahan yang telah disediakan oleh alam. Pada makam Ratu Mpuan Iskandarsyah makam terbuat dari bahan yang bagi masyarakat dinamai dengan batu garam. Sedangkan nisan makam lainya memakai batu andesit yang berada di sekitar. Orientasi makam Utara-Selatan, yang menghadap kiblat. Makam hampir semua tidak ditutupi oleh kain kuning, hanya nisan kepala Isersyah yang hanya dilapisi dengan kain kuning.

Keberadaan Kota Kara

Konon, Kota Kara terdapat di dua wilayah, yakni di Johor dan di Bintan. Sebagai benteng terluar, Kota Kara di Sungai Bintan berfungsi untuk melindungi Kopak, Bukit Batu, Pantar dan lainnya.

Sultan Mahmud sendiri, mengukuhkan tapak pemerintahannya yang baru di Pulau Bintan sejak Januari 1513, dengan membangun Kota Kara.

Kota tersebut berfungsi sebagai benteng dan untuk melindungi Kopak. Sultan Mahmud berada di Bintan, selama empat tahun berikutnya.

Lalu, dia pindah ke Pagoh sekitar tahun 1518 atau tahun 1519. Kemudian di tahun 1520, Antonio Correa menyingkirkanya dari Pagoh. Dan akhirnya, Sultan Mahmud kembali lagi ke Bintan 1526.

Armada Portugis yang dipimpin Admiral Mascarenhas, dengan dukungan 20 buah kapal yang membawa 550 orang Portugis dan 600 orang Melayu baru.

Mereka berhasil membungkam Kota Kara, yang dipertahankan oleh Sultan Mahmud di bawah Sang Setia dan Laksanama Hang Nadim. Diperikrakan, terjadi pada tanggal 23 Oktober 1526 silam.

Setelah itu, barulah Kopak dikuasai. Di mana, armada Portugis membutuhkan waktu 14 hari untuk melumpuhkan Kota Kara. 

Menurut penelitian sejarah, penyerangan armada Portugis terhadap Sultan Mahmud di Kapak, termasuk beberapa tempat di hulu Sungai Bintan.

Sehingga, diperkirakan Kota Kara di Bintan berada di atas Sungai Bintan. Hal itu diperkuat dengan penelitian arkeologi Pulau Bintan 1981, yang melaporkan adanya tumpukan batu yang disebut batukara di sekitar muara Sungai Bintan.

Kini, situs yang masih tersisa yakni runtuhan bangunan benteng, di sisi kiri Sungai Bintan yang diperkirakan peninggalan Kota Kara.

Serta kompleks makam yang diyakini sebagai petinggi Kota Kara, yang hingga mati tetep mempertahankan keutuhan Kota Kara.

(dha/berbagai sumber)

Kaitan Bekapur, Bentan', bintan, Bintan Buyu, Kota kara, melayu
Admin 6 Januari 2024 6 Januari 2024
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Kewenangan Bersilang dan Pelaksanaannya di KPBPB Batam
Artikel Selanjutnya Petisi Rakyat Inggris untuk Usir Dubes Israel

APA YANG BARU?

“Pulau Minyak dan Karantina; Sambu, 1929”
Histori 12 menit lalu 67 disimak
Lomba Cerdas Cermat Kader Posyandu Tanjungpinang Diikuti 145 Tim
Artikel 9 jam lalu 104 disimak
Tersangka Pembakar Rumah Kos di Komplek Wijaya Kusuma Tertangkap
Artikel 9 jam lalu 106 disimak
Polisi Amankan 34 Calon Pekerja Migran Ilegal di Batam Centre
Artikel 10 jam lalu 102 disimak
Kecelakaan Lalu Lintas di Kepri Didominasi Usia Produktif serta Pelajar
Artikel 10 jam lalu 138 disimak

POPULER PEKAN INI

Kapolda Kepri Pastikan Proses Hukum Kematian Bripda Natanael Dijalankan Secara Transparan
Artikel 5 hari lalu 376 disimak
BP Batam Pastikan Pengadaan Pot Bunga Pakai Dana CSR
Artikel 5 hari lalu 324 disimak
BP Batam Segera Bangun Dua Jaringan Pipa Distribusi
Artikel 5 hari lalu 324 disimak
Penertiban Tambang Pasir Ilegal di Kampung Jabi, Batu Besar
Artikel 5 hari lalu 303 disimak
Karimon Eilanden; Perjalanan Van Den Berg dan Raja Abdullah, 1854
Histori 3 hari lalu 295 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?