PRESIDEN Amerika Serikat, Donald Trump, telah memberlakukan tarif resiprokal sebesar 32% untuk barang-barang dari Indonesia. Kebijakan ini menarik perhatian Badan Pengusahaan (BP) Batam, yang segera merespons situasi tersebut.
Deputi Investasi dan Pengusahaan BP Batam, Fary Djemy Francis, menyampaikan bahwa tarif tinggi ini jelas akan menjadi tantangan bagi neraca perdagangan Indonesia, termasuk di Kota Batam. Ia menekankan bahwa langkah kebijakan AS ini dapat mempengaruhi minat investasi dan peluang ekspansi ke pasar Amerika.
“Pada tahun 2024, kami memproyeksikan total ekspor Batam ke Amerika akan mencapai sekitar USD $4 Miliar, yang setara dengan 25% dari total ekspor kota ini,” ungkap Fary.
Namun, Fary juga mencatat bahwa BP Batam telah berpengalaman menghadapi berbagai perubahan kebijakan internasional. Dengan keyakinan, ia menyatakan bahwa Indonesia, khususnya Batam, akan mampu beradaptasi dan mengembangkan strategi untuk menghadapi tantangan ini.
“BP Batam berencana untuk melakukan penyesuaian kebijakan dan insentif, memperkuat industri bernilai tambah agar ekspor tetap berjalan ke AS, serta memaksimalkan status Batam sebagai Kawasan Perdagangan Bebas,” jelasnya.
Fary juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan pemerintah pusat dan sektor swasta untuk membangun rantai pasokan yang lebih kuat dalam perdagangan internasional.
Kelima langkah strategis yang telah dirumuskan BP Batam dipandang sebagai upaya efektif untuk mempertahankan daya saing di pasar global.
“Kami tidak akan menjauh dari AS sebagai tujuan pasar, tetapi kami akan berjuang untuk tetap kompetitif meskipun ada tarif yang berlaku,” tegasnya.
Fary menambahkan bahwa fokus BP Batam saat ini adalah meningkatkan daya saing dan menekan harga produk, sehingga barang-barang dari Indonesia tetap memiliki keunggulan saat memasuki pasar AS.
Dengan pertumbuhan pesat investasi Data Center di Batam, di mana banyak perusahaan AS menjadi konsumen utama, Fary meyakini bahwa Batam memiliki posisi unik yang tidak dapat tergantikan oleh lokasi lain.
“Keunggulan pasar yang besar dan kondisi geografis yang strategis menambah daya tarik Batam sebagai pusat investasi,” tutupnya.
(sus)