Hubungi kami di

Natuna

FKUB Natuna Gelar Dialog Lintas Agama

Terbit

|

Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Natuna, mengadakan dialog temu tokoh lintas agama menuju Natuna rukun, damai, dan berkemajuan di Natuna, Selasa (29/11/2022). F. Kominfo Natuna

GUNA mengantisipasi sumber konflik vertikal maupun horizontal, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menggelar dialog temu tokoh lintas agama menuju Natuna rukun, damai, dan berkemajuan.

Ketua FKUB Kabupaten Natuna, Umar Natuna, mengatakan dialog lintas agama diharapkan dapat membangun, memperkuat, dan memperkokoh kerukunan, kedamaian, dan kemajuan hidup umat beragama di Kabupaten Natuna.

Selain itu, ia juga berharap dialog tersebut mampu menghadirkan suasana rukun, harmonis, dan damai, serta kemampuan dalam bertoleransi sebagai umat beragama untuk mengantisipasi sumber konflik vertikal maupun horizontal.

“Karena, jika ada konflik internal umat beragama maka akan mudah memicu konflik global,” kata Umar Natuna, Selasa (29/11/2022).

BACA JUGA :  Wali Kota Tanjungpinang Bagikan Seragam Gratis untuk 7.514 Siswa SD dan SMP

Sementara, Wakil Bupati Natuna, Rodhial Huda, sekaligus Ketua Dewan Penasehat FKUB Natuna mengatakan bahwa masyarakat Kabupaten Natuna patut bersyukur akan toleransi umat beragama yang telah berjalan baik selama ini.

“Kita patut bersyukur kerukunan, keharmonisan, dan toleransi umat beragama di Natuna masih sangat tinggi,” katanya.

Ia menjelaskan, hal tersebut tidak terlepas dari peran serta para tokoh agama yang senantiasa memfokuskan upaya meningkatkan kualitas umat saling toleransi dan menjaga serta menghargai nilai-nilai pelaksanaan peribadatan keagamaan.

“Tentunya kondisi ini harus kita jaga dan pelihara bersama, tidak hanya dari pemuka agama namun juga syiar kedamaian dan toleransi harus terus diembuskan dalam nafas pembangunan menuju kemajuan yang mewujudkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

BACA JUGA :  Batam Mulai Berlakukan Fuel Card 3.0 untuk Pembelian BBM Solar

Ia juga mengatakan bahwa implementasi ke masyarakat lebih penting daripada dialog secara formal.

“Sebenarnya dialog antar tokoh menjadi sia sia ketika implementasi masyarakat di bawah tidak seperti kita. Hari ini kita selalu menonjolkan toleransi secara formal, tapi di bawah tidak terjadi seperti ini. Sebenarnya yang paling penting adalah pelaksanaannya di lapangan,” katanya.

“Silakan saja berbicara sebebas bebasnya pada kamar masing-masing, tetapi ketika di ruang tengah kita berkumpul berbicara tentang persatuan dan kebersamaan,” katanya menambahkan.

(*)

Sumber: Antara

Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Sebaran

Facebook

id
enid

id
enid