Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Singapore Airlines Tambah Frekuensi Penerbangan Singapura–Amsterdam
    1 jam lalu
    BBM Subsidi Pertalite: Siapa yang Layak dan Apa Acuannya?
    1 jam lalu
    Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di Kampungku Dulu
    3 jam lalu
    Semarak Idul Adha di Perumahan Bida Asri 1 Batam
    5 jam lalu
    Polda Kepri Hentikan Kasus Kecelakaan Maut WNA Tiongkok Lewat RJ
    7 jam lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    27 Atlet Pelajar Kota Batam Ikuti Seleksi O2SN Cabor Panjat Tebing
    3 hari lalu
    Como 1907 Lolos Liga Champions Eropa, Klub Emil Audero Degradasi ke Serie B
    3 hari lalu
    Cetak Hatrick, Persib Bandung Jawara Indonesia Super League 2025/2026
    4 hari lalu
    Cadangan Air Waduk Batam Turun Tajam
    4 hari lalu
    Waktu SPMB Semakin Dekat, Pemko Batam Pastikan SPMB Gratis
    5 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Sultan Abdul Rahman I Muazzamshah (Sultan Riau Lingga Pertama)
    3 hari lalu
    Pulau Kasu, Batam
    1 minggu lalu
    Tabel Ringkasan Inflasi Kota Batam (April 2026)
    3 minggu lalu
    Data Kemiskinan di Batam Terbaru
    4 minggu lalu
    Data Kinerja Nilai Ekspor Batam Januari–Februari 2026 yang Turun
    4 minggu lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    3 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    4 bulan lalu
    “Kundur & Buru – Pesona dan Tradisi”
    4 bulan lalu
    “Karimun Besar – Harmoni Alam & Budaya”
    5 bulan lalu
    #Full Hendrik; Pujakesuma di DPRD Batam
    10 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

“Kuala Dai 1872; Bertemu Sultan Riau Lingga”

Jejak J.E. Teijsmann di Negeri Segantang Lada (Bagian 4)

Editor Admin 36 menit lalu 88 disimak
Ilustrasi, puncak gunung Dai (Daik) di Lingga dari kejauhan.

“Pegunungan di sekitarnya menyediakan air berlimpah yang mengalir melalui beberapa sungai. Di sekitar pegunungan juga ada air terjun yang indah. Airnya jernih seperti kristal“

Daftar Isi
Rumah Pribumi di Kampung DaiGunung Dai & SipientjanMenyusuri Sungai TandaMenuju Bukit SipientjanAkhirnya, Bertemu Sultan

…

“Pada jarak kira-kira 1 pal, kami melewati Sungai Tanda. Di atasnya, ada sebuah jembatan dari batang pohon. Hanya dapat dilewati pejalan kaki untuk melintas menuju kampung Marawang.“

…

“Pertemuan kami berlangsung hingga dua jam. Berbeda dengan pertemuan pertama, sultan lebih banyak berbicara saat ini dan terasa lebih hangat.” (J.E. Teijmann – Natuurkundig Tijdschrift Voor Netherlandsch Indie, Zevende Series, Deel IV’ tahun publikasi 1874)

Oleh: Bintoro Suryo


BAGIAN keempat dari catatan J.E. Teijsmann, memaparkan catatan pengamatannya di pulau Lingga pada perjalanannya di bulan Agustus–September 1872. Ia memaparkan kondisi sosial, ekonomi, dan geografi daerah itu dengan detail yang hidup. Mulai dari deretan rumah dagang orang Tionghoa yang ada di tepi sungai Dai, kehidupan orang Melayu di kampung Dai dan Sipientjan (Sepincan, pen.) hingga sisa-sisa istana Sultan di masa terdahulu yang sudah terbengkalai.

Selain gambaran permukiman, Teijsmann juga menelusuri lanskap Lingga. Ia mencatat banyak wilayah yang memiliki dataran aluvial subur. Terutama di kaki Gunung Dai dan Sipientjan. Sungai-sungai yang mengalir dari pegunungan itu, berpotensi untuk pengairan sawah, jika dibudidayakan di sana. Sementara hutan belantaranya menyimpan kekayaan flora langka seperti kayu kapur, getah perca, dan berbagai jenis Gesneriaceae. Ia juga mencatat kekayaan fauna setempat, terutama empat jenis kancil yang dikenal masyarakat Melayu.

Namun, di balik deskripsi alam dan sumber dayanya yang kaya, masyarakat di sana justeru masih bergantung pada produk turunan yang bersumber dari hasil alamnya sendiri, justeru melalui Singapura. Minimnya pengolahan hasil alam, karena faktor infrastruktur yang minim di wilayah pulau kediaman Sultan Riau Lingga itu.

Pada bagian keempat ini, ahli botani J.E. Teijsmann sempat bertemu dengan Sultan Riau Lingga yang memerintah negeri Segantang Lada tersebut, Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah. Sosok pribadi yang digambarkannya ramah serta terbuka.

Simak catatannya berikut ini


RUMAH orang Tionghoa terdiri dari dua blok, semua terhubung lurus satu sama lain dan membentuk deretan panjang. Di depannya ada alur jalan lebar, sejajar dengan sungai. Aliran sungai itu mengalir terus hingga kediaman Sultan, terus sampai ke kediaman Asisten Residen.

Ada ruas jalan lain di kampung ini yang umum digunakan. Melintasi teras depan rumah-rumah Tionghoa yang berlantai papan dan bertumpu pada tiang-tiang di bawahnya. Sama seperti di bagian depan, bagian dalam rumah mereka juga dipenuhi barang dagangan yang dipajang.

Di antara barang dagangan, ada pernak-pernik barang kebutuhan orang Eropa maupun hasil produksi dari Tionghoa dan Pribumi. Mereka juga menjual beras, sayuran kangkung, sawi, keladi, ubi, singkong, bawang merah, bawang putih, kacang tanah dan kacang hijau. Termasuk buah-buahan seperti manggis, rambutan, mangga, rambai, nanas; pinang, kapur sirih, kelapa, asam jawa, tembakau, obat-obatan, terasi dan ikan segar yang diperoleh dari nelayan yang melaut. Rumah-rumah Tionghoa ini juga menjual banyak ikan yang telah dikeringkan.

Ilustrasi, suasana kampung di Lingga sekitar tahun 1912 pada foto berjudul: ‘De Batam en het Chinese schip Betsy aan de aanlegsteiger te Penoeba, onderafdeling Lingga’. © Arsip Leiden University

Penduduk di sekitar Kuala Dai, bisa membeli barang kebutuhan mereka dengan mata uang Inggris, dihitung dalam dolar dan sen dolar. 1 Dolar sama dengan 100 sen atau setara dengan 400 duit. Dalam mata uang gulden Belanda, sekitar f 2,70. Uang sepuluh sen dan seperempat rupiah, bagaimanapun tidak diterima dengan nilai penuh.

Perdagangan kebanyakan mengarah ke Singapura, meskipun orang di sini juga senang menjalin hubungan dengan Jawa. Tapi, tidak seorang pun di sini yang berpikir untuk memanfaatkan hasil perkebunan seperti gambir, lada dan sagu yang merupakan hasil utama pulau ini. Padahal, produk seperti sagu, punya potensi bagus jika didirikan pabrik untuk pengolahan dan pemurnian bagi pasar Eropa. Pabrik seperti itu justeru ada di Singapura.

Hasil hutan seperti kayu juga berlimpah di sini. Sultan sebenarnya sangat bersedia untuk berunding tentang pemanfaatannya.

Rumah Pribumi di Kampung Dai

MENYUSURI sungai lebih ke hulu dari kampung Tionghoa, orang akan tiba di kampung Dai. Di sini, terlihat di kedua sisi sungai, rumah-rumah pribumi dengan pekarangan luas. Kebanyakan ditanami pohon buah-buahan.

Orang Melayu yang tinggal di sini menghidupi diri dengan menangkap ikan dan membuat perahu.

Di tengah kampung penduduk ini, ada bangunan milik Sultan di tepi kanan sungai. Bangunannya berupa beberapa rumah papan yang rapi. Tapi, tidak bisa disebut megah. Sementara di bagian sungai yang lebih ke hulu, Sultan terdahulu juga telah mendirikan sebuah rumah batu yang kolosal dengan bangunan tambahan yang menghabiskan biaya f 80.000.

Bangunan kolosal itu, sempat ditempati oleh sultan penggantinya. Namun, karena alasan yang saya tidak diketahui, saat ini sudah ditinggalkan. Menyisakan bangunan terbengkalai. Penduduk telah membongkar dan mengambil bagian bangunan yang dapat diangkut. Menyisakan reruntuhan dan banyak parasit yang mulai tumbuh dimana-mana. Sekelilingnya telah berubah menjadi belantara. Tidak ada lagi yang menghuni, hanya menyisakan jalan setapak berlumpur yang membawa Anda ke reruntuhan ini.

Akhirnya pada jarak beberapa pal dari kampung Tionghoa atau kira-kira satu pal dari kediaman Sultan — alur sungai makin mengecil dan tidak dapat dilayari perahu lebih jauh lagi.

Dari sini, ada sebuah jalan melintang menuju rumah-rumah Asisten Residen dan Kontrolir yang terletak di tanah datar terbuka. Sekitarnya ditumbuhi belukar. Di lahan terbuka itu, ada juga sebuah gedung dengan tiga kamar untuk kepentingan biro pemerintahan dan sebuah gedung panjang untuk tempat tinggal para opas bersenjata.

DI sisi kiri sungai, terletak kampung Sipientjan. Sementara rumah-rumah para pejabat tidak terlalu luas, tapi indah. tiang-tiang bangunannya terbuat dari kayu bulat yang tidak dipahat. Lantainya lebih rendah dari papan. Sementara dinding dan langit-langitnya dari tikar kajang.

Daerah di sekitarnya berawa, dan suhu sangat cepat berubah — termometer Fahrenheit naik dan turun kadang-kadang dalam beberapa jam dari 95° sampai 72°, tetapi biasanya dari 86° sampai 74° — wilayah ini, sama tidak sehatnya seperti seluruh pulau.

Gunung Dai & Sipientjan

DI atas dataran luas, yang terletak di kaki pegunungan Dai dan Sipientjan, orang bisa melihat pegunungan yang indah. Puncak tertinggi mencapai 5604 kaki, terlihat seperti bertumpu pada dua piramida setinggi kira-kira 200 kaki. Pada masa lalu, ada puncak ketiga di bagian tengah, tetapi kemudian roboh ke dalam jurang.

Jika diperhatikan baik-baik, puncak-puncak gunung Dai merupakan dinding luar dari sebuah puncak masif, dahulu. Puncak Utara adalah yang paling kolosal, sedikit lebih tinggi dari yang lain, lebih meruncing. Tetapi keduanya tidak dapat didaki.

Yang terakhir di sisi timur laut dan yang pertama di sisi timur. Keduanya terbelah tegak lurus di bagian tengah. Hanya sisi barat daya dan barat yang masih berdiri. Pada masa lalu, puncak-puncak itu tampaknya merupakan satu kesatuan. Namun intinya dan sisi timurnya telah runtuh ke dalam jurang.

Dari puncak tertinggi ini turun tiga punggung gunung sampai ke laut. Yang pertama membentang ke arah selatan dengan rantai enam puncak besar dan beberapa puncak kecil. Semua menyandang nama berbeda dan juga memiliki rupa yang berbeda. Ada yang kondisi alamnya lebih subur, ada juga yang kurang subur.

Gunung Dai dan Gunung Tanda memiliki rupa yang subur dan hijau tua. Gunung Kuhur Cina yang berikutnya, sampai dengan Gunung Kukus, hanya memiliki sedikit vegetasi alam. Di sekitarnya banyak dinding batu curam dari batuan merah dan keputih-putihan. Sementara Bukit Samah dan Bukit Bungang, memiliki bentuk dan kaya vegetasi alam.

Seluruh punggung gunung menurun landai sampai ke laut. Dari ibu kota, seluruhnya terlihat.

Yang kedua membentang ke arah Timur Laut dan turun curam, membuat pemisah dengan pegunungan Sipientjan. Orang dapat menyebutnya sebagai kelanjutan dari pegunungan Dai, jika jurang yang dalam, yang turun sampai kira-kira 500 kaki di atas laut, tidak terlalu menonjolkan pemisahan itu.

Yang ketiga membentang ke barat dan merupakan yang terendah, tetapi juga jadi yang terpanjang. Di tengah panjangnya yang lebih rendah itu, berbentuk pelana. Selanjutnya bentukan pegunungan itu mengarah ke laut, lalu naik lagi dan berakhir dalam kondisi curam di selat Dassie.


PEGUNUNGAN Sipientjan setinggi kira-kira 500 kaki. Membentang jauh di atas pulau. Sebenarnya tidak memiliki puncak. Dari Dai, terlihat lebih berbentuk peti mati. Sementara jika dilihat dari Pantai Utara tampak sama seperti gunung Dai. Pegunungan ini juga terdiri dari tiga punggung gunung, yang mengarah ke timur, utara dan barat. Yang pertama menurun perlahan di tengah pulau, lalu tiba-tiba curam ke bawah, untuk dari sana selanjutnya berakhir di medan berbukit. Dua lainnya mengarah ke pantai utara.

Puncak-puncak tertinggi gunung-gunung ini kebanyakan terselubung awan, yang di atasnya tampaknya seolah-olah melekat, melayang lama dan kemudian entah larut, atau dengan datangnya massa awan baru, disertai angin kencang, tercurah di atas tanah rendah. Pegunungan ini banyak menyumbang pada pembentukan dan pengumpulan awan. Akibatnya, iklim menjadi lembap dan relatif sejuk.

Tanah datar yang rendah di kaki gunung, sebagian terdiri dari dataran aluvial dengan lempung putih kekuningan yang subur. Juga terdiri dari humus dengan tanah lempung kekuningan yang subur. Kondisinya cocok untuk dijadikan persawahan.
Untuk itu Sultan telah memperoleh kira-kira empat puluh orang Sunda dari Jawa.

Pegunungan di sekitarnya menyediakan air berlimpah yang mengalir melalui beberapa sungai. Di sekitar pegunungan juga ada air terjun yang indah. Airnya jernih seperti kristal, mengalir di atas batu-batu raksasa, atau jatuh dari bongkahan batu setinggi rumah.

Namun sayang, kondisi jalan-jalan di sini buruk. Seperti sudah dikatakan, hanya ada satu jalan besar dari kampung Tionghoa, sejajar dengan, alur sungai di sepanjang alur menuju kediaman Sultan hingga ke rumah Asisten Residen.

Jika berbelok dari alur jalan tersebut, menyimpang di sana tegak lurus dari sungai dan berjalan hampir lurus ke Bukit Cengkeh, kita akan kembali ke titik awal dalam alur berbentuk segitiga. Alur itu mengarah kembali ke kediaman Sultan (jaraknya kira-kira 5 pal). Jalan yang paling baik di daerah ini, sebenarnya juga masih kurang terpelihara. Sementara jalan-jalan lainnya di seluruh pulau merupakan jalan setapak berlumpur, hampir tidak dapat dilalui.

Menyusuri Sungai Tanda

PADA tanggal 27 Agustus 1872, kami bersama asisten residen, tuan Goldman berjalan bersama. Ia menemani saya di jalan memutar besar tersebut, karena tidak ada jalan lain yang lebih dekat ke pegunungan untuk meninjau sumber-sumber Sungai Tanda, salah satu sungai utama. Kami ingin memastikan apakah air sungai itu dapat atau tidak dialirkan untuk budidaya padi ke dataran yang kami jelaskan tadi. Setelah peninjauan, kami yakin bahwa aliran air dari pegunungan bisa digunakan untuk mengaliri area persawahan jika dibangun di sini. Asalkan dilakukan oleh orang Jawa yang ahli. Orang-orang tersebut telah didatangkan ke wilayah ini dan akan ditunjukkan arah saluran air yang akan digali.

Pada jarak kira-kira 1 pal, kami melewati Sungai Tanda. Di atasnya, ada sebuah jembatan dari batang pohon. Hanya dapat dilewati pejalan kaki untuk melintas menuju kampung Marawang. Jembatan kayu itu juga biasa digunakan untuk menuju ke medan yang lebih atau kurang bergelombang sampai kira-kira 4 pal melalui jalan setapak yang sempit dan licin. Lokasinya berada di kaki pegunungan. Tanah di sekitarnya banyak didominasi batu-batuan.

Sedikit lebih jauh, kami tiba di hutan belantara lebat. Ada dua sungai; Sungai Kubur Cina dan Sungai Mingkara yang mengalir menjadi satu membentuk Sungai Tanda. Kemiringan aliran airnya cukup untuk membuat saluran air untuk mengalir hingga ke dataran, tempat kami memperkirakan lokasi sawah bisa dibangun. Dataran yang agak bergelombang di sekitarnya memberi kesan bahwa lokasi itu pernah digarap untuk area perkebunan. Namun sekarang, hanya ditutupi rumput dan semak, terutama Riang-riang (Ploiarium elegans).

Di sungai, terdapat bongkahan batu raksasa, yang lebih ke hulu beralih menjadi massa batu yang padat. Airnya jernih seperti kristal dan murni. Di atas dan di antara batuan, sepanjang dan di sungai, saya menemukan beberapa tanaman menarik. Sebagian besar termasuk keluarga Gesneriaceae, yang mungkin sepenuhnya baru bagi para peneliti Botani.

Sepanjang sungai, ada alur menanjak tapi landai, sepertinya merupakan jalan setapak. Kelihatannya, penduduk pribumi sering melalui alur ini untuk mengumpulkan hasil hutan atau berburu Napu/ kancil (Moschus Napu). Mengikuti jalan ini, saya juga menemukan banyak tumbuhan yang tidak dikenal. Tetapi yang paling mengejutkan saya adalah semak pertama yang saya lihat dari jenis Dryobalanops camphora (kayu kapur). Saya juga menemukan ratusan semak muda dan sejumlah besar batang tua dewasa. Dalam perjalanan ini, saya mengumpulkan banyak sampel tumbuhan.

Saya puas lalu kembali ke rumah.


PADA tanggal 28 Agustus saya gunakan untuk merawat sampel yang kemarin dikumpulkan berupa tumbuhan, biji dan herbarium. Hari itu sangat cocok untuk hal itu karena sepanjang hari hampir tidak henti-hentinya hujan. Kondisi hujan mencapai maksimumnya menjelang tengah malam. Saat itu disertai badai, guntur dan kilat. Rasanya, rumah yang saya diami ini seperti akan terangkat karena badai.

Pada 29 Agustus 1872, kondisi masih masih selalu hujan dengan langit berawan tebal.

Menuju Bukit Sipientjan

PADA tanggal 30 Agustus 1872, langit seluruhnya cerah. Saya bisa berjalan-jalan ke Bukit Sipientjan. Kata “Bukit” di sini dipakai untuk pegunungan rendah. Sementara “Gunung” untuk yang lebih tinggi. Yang dimaksud di sini tampaknya adalah titik terendah, antara gunung Dai dan Sipientjan.

Setelah menyeberangi Sungai Dai dengan perahu, saya berada di kampung Sipientjan. Kampung ini tampak kotor sekali. Di jalan setapak, kaki orang bisa terbenam lumpur hingga di atas mata kaki. Untuk menghindarinya, orang telah meletakkan balok atau batang pohon sehingga kita bisa berjalan di atasnya untuk menghindari lumpur. Tapi, tanpa tongkat, sulit menjaga keseimbangan.

Setelah berhasil keluar dari kampung ini, kondisi malah lebih parah. Jalan setapaknya berlumpur dan sempit. Di sekitarnya, ditumbuhi rumput tinggi atau semak. Jalan selanjutnya mengarah melalui belukar dan padang Resam, (sejenis Gleichenia) yang begitu tinggi dan rapat tumbuh satu sama lain. Mustahil orang bisa melewatinya tanpa membuat terobosan.

Kami harus melewati jalan itu dan kemudian menyeberangi Sungai Sipientjan dua kali — tanpa jembatan — digendong di punggung pribumi.

Sekali-kali, kami melewati daerah yang masih ditutupi hutan liar yang sebagian besar merupakan belukar. Tanah di sini, dulu pernah digarap; yaitu pada masa ketika aktifitas perompakan laut masih begitu marak. Banyak penduduk yang memilih menetap di darat untuk menghindari para perompak.


AKHIRNYA, kami masih harus menyeberang sebuah anak cabang dari Sungai Sipientjan. Kami harus melompat di atas batu-batu besar yang terletak di sungai, untuk bisa menyeberang dan masuk ke hutan belantara yang sesungguhnya. Medannya terus menanjak, dengan kondisi hutan terdiri dari belantara lebat dan padang resam atau glaga. Jalur setapak yang kami lalui, hampir seluruhnya tertutup tumbuhan liar. Alur ini jarang dilalui penduduk, meskipun di sini dahulu sampai ke titik tertinggi, yang saya taksir kira-kira 600 kaki, pernah ada kebun.

Hal ini terbukti dari adanya pohon mangga dan pohon buah-buahan yang masih terdapat di sana-sini.

Menjelang tengah, kami sudah tiba di wilayah yang lebih tinggi. Dari atas sini, tampak ada jalan setapak lain di sisi yang berbeda, menurun. Mungkin menuju ke Pantai Utara. Dari sini, hampir seluruhnya tertutup pohon dan belukar yang rapat. Hampir tidak terlihat alur lagi. Jarak dari ibu kota Dai dari sini, saya taksir kira-kira 5 pal.

Perjalanan yang melelahkan ini, bagaimanapun dibayar dengan baik. Saya kembali dengan membawa banyak sampel tumbuhan. Sebagian besarnya, justru saya peroleh di titik tertinggi yang saya daki. Misalnya, saat makan siang, saya menemukan jenis baru Chloranthus atau “kras tulang” seperti yang pernah saya temui di hutan gunung Bintan.

Jenis tanaman itu sangat disukai oleh sultan karena memiliki banyak khasiat baik. Usai penemuan di Bintan sebelumnya, Datoe Aboe Hassan bercerita bahwa ya telah mengirim pemduduk untuk mencari lebih banyak lagi jenis tanaman itu.

Pohon kamper juga banyak terdapat di sini. Juga Isonandra gutta (Getah perca). Tanaman itu, dahulu banyak dieksploitasi di sini.


SUNGAI Sipientjan memiliki aliran dan air yang berlimpah. Sangat bisa digunakan untuk mengairi sawah. Saat ini, kami sudah berada di titik tertinggi pegunungan Sipientjan dan mendengar suara seperti menderu di kedalaman. Belantara lebat menghalangi kami untuk melihat sumber suara itu.

Seperti halnya di tempat lain di Riau Lingga, wilayah ini juga jarang didapati jenis burung dan hewan berkaki empat, kecuali babi hutan. Hewan yang dianggap hama oleh penduduk, tapi mereka terlalu malas untuk memburunya.

Dari marga Moschus, di sini katanya terdapat empat jenis. Dilihat dari ukurannya, dapat dibedakan menjadi beberapa sebutan; yaitu Kancil: Moschus Javanicus, Pelanduk: M. sp. Napu: M. Napu dan Mengkunuh: M. sp.

Yang pertama dan terakhir, tidak saya temui di sini. Pelanduk sangat mirip dengan kancil Jawa, tetapi berbeda coraknya. Di sini, ukurannya sedikit lebih tinggi pada kakinya.

Napu jauh lebih besar dan juga berwarna lebih gelap.

Mengkunuh, harusnya masih jauh lebih besar dan merupakan pertengahan antara Napu dan Kidang Cervus Muntjac. Jenis ini tampaknya juga terdapat di Borneo. Saya ingat pernah melihatnya pada pameran terakhir tahun 1866 di Batavia. Disebut sebagai hewan yang berasal dari Banjarmasin.

Sultan berjanji akan mengirimkan beberapa ekor dari jenis napu kepada saya , saat saya kembali ke Buitenzborg nanti. Katanya, di Singkep banyak terdapat di wilayah pegunungan. Pelanduk dan Mengkunuh, tampaknya belum memiliki nama ilmiah, karena dari kepulauan ini hanya dikenal jenis Moschus Javanicus dan Moschus Napu.


CUACA pada perjalanan pergi memang sangat panas. Tetapi itu sebenarnya menguntungkan. Pada perjalanan pulang, turun sedikit hujan yang cukup untuk membuat rumput dan semak menjadi basah. Cuaca ini membuat perjalanan kami sedikit terhambat. Semak-semak yang tumbuh di sepanjang jalan membuat saya basah kuyup. Sementara lumpur menjadi hambatan lain.

Tanggal 31 Agustus 1872. Pagi hari hujan lebat. Kondisinya berulang beberapa kali di sepanjang hari.

Sangat disayangkan, bahwa untuk membangun rumah, orang di sini harus membeli papan dari Singapura yang kualitas kayunya tidak sebaik yang ada di Lingga. Padahal bahan baku kayu bagus sangat berlimpah di sini. Saya sering mendapati, jenis kayu terbaik seperti kayu kamper, justeru tergeletak membusuk di hutan.

Saya berharap ada pengusaha Eropa yang datang menetap di sini. Baik untuk kepentingan Sultan maupun diri mereka sendiri; mereka mau mengeksploitasi secara bersama. Saya yakin, sultan akan dengan senang hati bekerja sama untuk hal ini. Tetapi, untuk melakukannya sendiri dan mengandalkan penduduk pribuminya saja, jelas tidak akan mampu.

Pembangunan jalan yang baik, tentu menjadi syarat utamanya. Dengan karakter orang Melayu, rasanya tidak ada yang dapat terlalu diharapkan. Tetapi, sultan bisa berharap pada pekerja Tionghoa.

Akhirnya, Bertemu Sultan

PADA 1 September 1872, hampir sepanjang hari masih hujan. Sultan tiba hari ini dari Singkep (bukan Sinkep). Aktifitas dan kediamannya lebih banyak dihabiskan di sana karena sibuk dengan penambangan timah.

Tanggal 2 September 1872, pagi hari masih selalu hujan, tetapi kemudian cuaca membaik.

Foto Sultan van Lingga en Riouw, Soeleiman Badroe Alamsjah. © Arsip Leiden University

Sore hari pukul 5, saya bersama tuan Goldman mengunjungi Sultan yang baru tiba di Dai. Ia menerima kami di hadapan adiknya dan beberapa orang Istana lainnya dengan sangat ramah. Setelah berbincang selama satu jam, kami akhirnya pamit. Kami puas bisa bertemu sultan, seorang yang terhormat dan patut dihargai.

Pada 5 September 1872, sepanjang hari, hujan dengan badai guntur; baru menjelang sore langit cerah.

4 September 1872. Sore hari, kami menerima kunjungan balasan dari Sultan. Pertemuan kami berlangsung hingga dua jam. Berbeda dengan pertemuan pertama, ia lebih banyak berbicara saat ini dan terasa lebih hangat.

(*)

Bersambung

Penulis/ Videografer: Bintoro Suryo – Ordinary Man. Orang teknik, Mengelola Blog, suka sejarah & Videography. 
Artikel ini diterbitkan sebelumnya di: bintorosuryo.com

Kaitan batam, bintan, History, Je Teijsmann, karimun, Rhio, riau, Riau lingga, Riouw, sejarah, tanjungpinang
Admin 27 Mei 2026 27 Mei 2026
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Singapore Airlines Tambah Frekuensi Penerbangan Singapura–Amsterdam

APA YANG BARU?

Singapore Airlines Tambah Frekuensi Penerbangan Singapura–Amsterdam
Artikel 1 jam lalu 83 disimak
BBM Subsidi Pertalite: Siapa yang Layak dan Apa Acuannya?
Artikel 1 jam lalu 107 disimak
Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di Kampungku Dulu
Artikel 3 jam lalu 108 disimak
Semarak Idul Adha di Perumahan Bida Asri 1 Batam
Artikel 5 jam lalu 150 disimak
Polda Kepri Hentikan Kasus Kecelakaan Maut WNA Tiongkok Lewat RJ
Artikel 7 jam lalu 152 disimak

POPULER PEKAN INI

Bawa Inter Milan Raih Double Winner, Cristian Chivu Perpanjang Kontrak dan Naik Gaji
Sports 6 hari lalu 741 disimak
Bintan Usulkan Perluasan Free Trade Zone ke Seluruh Wilayah
Artikel 6 hari lalu 725 disimak
Tour de Bintan 2026: Kembali Digelar dengan Identitas Baru dan Kategori UCI 1.2 Point Race
Sports 6 hari lalu 716 disimak
Perbaikan Jalan Yos Sudarso (Underpass Pelita), Sementara Jalan Difungsikan Satu Lajur
Artikel 5 hari lalu 683 disimak
Waktu SPMB Semakin Dekat, Pemko Batam Pastikan SPMB Gratis
Pendidikan 5 hari lalu 606 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?