KEPALA Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Pertanahan (PUPRP) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Hendrija, menyebutkan bahwa Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepri menganggarkan dana Rp 17 miliar untuk pergantian pipa air induk Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Kepri di Kota Tanjungpinang.
Menurut Hendrija, anggaran perbaikan tersebut sudah dialokasikan di Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) murni tahun 2023. “Sudah dianggarkan melalui APBD murni Kepri 2023,” ujarnya di Tanjungpinang, Kamis (22/12/2022.
Dia mengatakan pergantian pipa induk tersebut sangat mendesak dilakukan, mengingat kerap mengalami kebocoran hingga menyebabkan distribusi air bersih masyarakat di Tanjungpinang jadi terhambat.
Apalagi, lanjutnya, pipa induk yang terletak di Jalan D.I Pandjaitan, Kilometer 8, itu juga tak pernah diganti sejak pertama kali dipasang sekitar tahun 1970-an.
Kendati pergantian pipa induk tersebut belum sepenuhnya dapat mengatasi tingkat kebocoran air di Kota Gurindam itu, namun paling tidak mampu menekan angka kebocoran air yang saat ini mencapai 34 persen.
“Pipa induk yang lama dibuang dan diganti yang baru. Pipa itu akan digeser dari yang awalnya di tengah jalan ke pinggir jalan, sehingga tak mengganggu kondisi lalu lintas ketika ada perbaikan,” ujarnya.
Hendrija mengutarakan untuk pemenuhan kebutuhan air jangka panjang bagi masyarakat Pulau Bintan (Tanjungpinang-Bintan), diperlukan anggaran sekitar Rp1,6 triliun buat pembangunan DAM atau bendungan Busung di Kabupaten Bintan.
Kemudian, dibutuhkan lagi anggaran sekitar Rp800 miliar untuk mengganti pipa air baru yang mengkoneksikan wilayah Gesek, Kawal, hingga Sei Enam di Kabupaten Bintan.
“Namun, untuk jangka pendek diperlukan anggaran sekitar Rp200 miliar guna mengoptimalkan pipa air yang ada di Gesek, Bintan,” ujarnya.
Hendrija menegaskan bahwa penanganan kebutuhan air masyarakat menjadi salah satu program strategis Gubernur Kepri, Ansar Ahmad, pada 2023.
Air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat, apalagi setiap tahun jumlah penduduk makin bertambah sehingga kebutuhan air juga ikut bertambah.
“Makanya kita pikirkan ini dari sekarang agar ketersediaan air bersih bisa mengimbangi lajunya pertumbuhan penduduk dan kebutuhan air,” kata Hendrija.
(*)
Sumber: Antara


