Hubungi kami di

Berita

Geliat Ekonomi Warga Kayong Utara di Even “Sail Karimata 2016”

Mike Wibisono

Terbit

|

PEREKONOMIAN masyarakat di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat menggeliat melalui even “Sail Karimata 2016”.

Usaha rakyat mulai dari toko kelontong, rumah makan hingga penginapan warga menuai rezeki di gelaran Sail Selat Karimata.

Puluhan rumah makan yang biasanya buka hanya sampai pukul 21.00 WIB setiap harinya, kini buka hingga larut malam, bahkan beberapa buka 24 jam.

Contohnya Rumah Makan Bang Adit di Jalan Karang, Sukadana.

Biasanya rumah makan yang menyajikan nasi goreng dan penyetan ayam itu tutup setiap pukul 22.00 tapi sejak sepekan lalu, rumah makan itu siap melayani pelanggan hingga pukul 24.00.

“Sudah ada imbauan dari pemerintah kabupaten kalau restoran dan rumah makan harus buka lebih malam, kalau bisa 24 jam untuk menyambut Sail Karimata ini,” kata Jalaludin Romi (23) pemilik Rumah Makan Bang Adit, Jumat.

Sehari jelang puncak peringatan Sail Selat Karimata, Rumah Makan Bang Adit penuh sesak. Pengunjung harus antre untuk dapat duduk di bangku-bangku kayu sederhana.

“Rasanya senang lah dengan adanya acara ini. Pendapatan bisa naik hingga tiga kali lipat dibanding hari biasanya,” kata Romi yang mengaku tak mengambil kesempatan menaikkan harga makanan selagi ramai pembeli.

“Dengan banyaknya pengunjung, kami jadi rekrut lebih banyak pegawai. Sebelumnya cuma ada tujuh, sekarang kami rekrut lagi menjadi 17. Mereka cuma tenaga bantuan selama kami ramai pelanggan begini. Pegawainya ya orang-orang di sini lah, ada yang mantan pegawai, ada yang anak tetangga,” kata Romi.

Lebih lanjut Romi mengaku optimistis bahwa Sail Selat Karimata akan menjadi tonggak sejarah kemajuan perekonomian rakyat Kayong Utara. Jalan-jalan diaspal dan pantai-pantai kini dibersihkan dari sampah.

“Optimis nanti semakin ramai orang kemari karena orang sudah tahu Sukadana seperti apa kan,” katanya.

Selain rumah makan, usaha penginapanguest house pun turut menuai berkah pada gelaran nasional tahunan itu.

Rumah-Rumah penduduk di Kecamatan Sukadana disulap menjadi penginapan-penginapan bagi para tamu. Salah satunya adalah Yanto (37) yang menyewakan rumahnya di Jalan Sungai Mengkuang pada para tamu dari Jakarta.

“Ini sebenarnya adalah rumah kos-kosan. Isinya ada sembilan kamar,” kata Yanto yang terpaksa mengungsikan anak-anak yang indekos di rumahnya ke rumah tinggalnya sebulan sebelum puncak Sail Selat Karimata.

Kebanyakan anak indekos adalah pelajar dari pulau-pulau kecil di sekitar Selat Karimata yang menuntut ilmu di Sukadana.

“Di sini sekolah gratis, jadi mereka bersekolah di sini.” Jika disewakan pada pelajar indekos, Yanto menarik tarif Rp300.000 sebulan. Namun saat gelaran Sail Selat Karimata, Yanto menarik tarif Rp300.000 semalam.

Tak ada fasilitas mewah di rumah Yanto. Sekedar kasur kapuk setebal kira-kira 10 sentimeter, dua bantal, dan satu kipas angin usang. Rumahnya beralas lantai semen yang ditutup terpal.

“Kalau arahan dari Pak Bupati, satu kamar harus ada satu kamar mandi, tapi ini kan dari awal cuma rumah penduduk dan mendadak, jadi ya cuma ada dua kamar mandi untuk sembilan kamar,” katanya.

Yanto berharap dengan adanya Sail Selat Karimata daerahnya bisa semakin maju secara ekonomi.

“Harapannya ya ingin ada perbaikan ke depan, terutama listrik. Selama ini masih nyambung dari Ketapang jadi masih sering mati listrik,” kata Yanto.

Ada sekitar 3.000 tamu yang dipastikan hadir dalam acara puncak Sail Selat Karimata pada Sabtu (15/10).

Selain Pantai Pulau Datok tempat diselenggarakannya acara puncak Sail Selat Karimata, Kayong Utara memiliki sejumlah destinasi pariwisata alam yang potensial seperti Air Pauh, yakni sejenis air terjun mini yang mengakirkan air dari gunung yang dipercaya warga setempat memiliki khasiat untuk kesehatan.

Ada juga Air Terjun Lubuk Baji, Taman Nasional Gunung Palung serta Pantai Tambak Rawang.

Sulit jadi prioritas

Bupati Kayong Utara Hildi Hamid mengatakan wisatawan asing ada yang berkunjung, namun kebanyakan hanya para peneliti yang berniat mempelajari keanekaragaman hayati di Taman Nasional Gunung Palung.

“Selebihnya enggak ada. Di sana orang lihat flora dan fauna. Bisa melihat orangutan. Lihat bekantan dan sebagainya,” kata Hildi.

Bupati berencana mengembangkan potensi pariwisata Pulau Karimata. Sayangnya, untuk menjadi daerah destinasi wisata, diperlukan promosi.

“Ya inilah promosi saya. Promosi saya ini bukan hanya soal pariwisata. Namun masih banyak masyarakat Indonesia atau pejabat di pusat ini yang enggak tahu Kayong Utara itu di mana. Akibatnya, kami begitu sulit untuk mendapatkan program-program prioritas. Padahal, ini adalah daerah tertinggal,” katanya.

Hildi menuturkan Pulau Karimata masuk ke dalam daftar cagar alam laut.

“Artinya Kayong Utara ini di antara taman nasional Gunung Palung dan kepulauan karimata itu taman nasional dan cagar alam laut. Kalau begitu, kekayaan alam di dalamnya masih originial,” kata Hildi.

Sail Selat Karimata, kata Hildi, dijadikan pemerintah pusat sebagai media untuk mengintervensi percepatan pembangunan. “Itu yang sebenarnya yang kami harapkan. Kedua, dengan adanya Sail Selat Karimata ini, memberikan pendidikan sosial bagi masyarakat kami. Pertama soal kebersihan dan lainnya,” kata dia.

Bandara Sukadana Guna mendorong kemajuan potensi patiwisata dan ekonomi Kabupaten Kayong Utara yang berpenduduk 124 ribu jiwa tersebut, pemerintah kabupaten mengusulkan dibangunnya sebuah bandar udara (bandara) mengingat akses menuju Kayong Utara cukup sulit yakni harus ditempuh dengan kapal cepat atauspeedboat menyusuri Kapuas dan Laut Selat Karimata sekitar lima jam dari Kota Pontianak. Ada juga jalan darat melalui Ketapang, namun rutenya cukup terjal.

“Soal bandara yang belum juga bisa terbangun, itu persoalannya teknis. Karena Kementerian Pehubungan itu berpegangan, karena melihat ini lahan gambut, biaya akan besar sekali. Inilah yang kami bicarakan masalah teknis untuk pembangunan bandara ini walaupun izin prinsip dari Dirjen pada saat itu sudah diterbitkan. Untuk bangub bandra di sini, bisa sampai triliunan katanya dan sekarang kan itu metodenya tidak ada lagi seperti masa lalu, bangun pesawat perintis dulu dan lain sebagainya. Maunya langsung. Tapi, kalau untuk sebagai penunjang pariwisata itu bisa jadi prioritas. Dengan dibuka itu, akan memudahkan akses orang ke sinilah,” katanya.

Kabupaten Kayong Utara tahun ini mencetak APBD Rp756 miliar yang sebagian besar pendapatan diperoleh dari pemerintah pusat.

“Paling pendapatan di sini itu Rp17an miliar. Dari retribusi-retribusi kecil-kecil kekayaan alam,” kata Bupati Hildi. ***

Teruskan Membaca
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sebaran

Facebook