Hubungi kami di

Ini Batam

Harga Cabe Meroket di Batam

Terbit

|

Ilustrasi : ist.

PASKA pesta demokrasi dan jelang bulan suci Ramadhan, harga komoditas cabe dan daging ayam mulai merangkak naik. Salah satunya di pasar Botania Batam Centre. Harga cabe rawit meroket hingga Rp. 60 ribu perkilogramnya. Sementara daging ayam mencapai Rp. 38 ribu perkilogram.

Di momen paska pemilu dan memasuki bulan suci Ramadhan tahun ini, harga sejumlah bahan pangan di beberapa pasar tradisional di Batam mulai naik. Salah satunya di pasar Botania 1 Batam Centre. Beberapa komoditas pangan di pasar ini mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan.

Seperti cabe rawit dan cabe merah.  Harganya mengalami kenaikan yang cukup tinggi. Harga cabe merah dari Rp. 40 ribu perkilogramnya naik menjadi Rp. 50 ribu perkilogram. Cabe rawit yang sebelumnya berada di kisaran harga Rp. 40 ribu per kilogram, naik menjadi Rp. 60 ribu perkilogram. Sementara cabe hijau naik dari harga Rp. 28 ribu ke harga Rp. 36 ribu rupiah perkilogram.

BACA JUGA :  Rudi-Amsakar Cuti Mulai Akhir September 2020

Kenaikan harga cabe ini menurut pedagang disebabkan karena minimnya stok serta mahalnya biaya kargo pesawat. Cabe-cabe ini sendiri didatangkan dari luar daerah seperti Surabaya dan Yogyakarta. Dengan biaya kargo yang mahal, para pedagang terpaksa menjual cabe dengan harga yang cukup tinggi di Batam.

Sementara itu harga daging ayam segar juga ikut menyusul kenaikan harga cabe. Bahkan kenaikan harga daging ayam segar ini sudah dimulai sebelum pemilu. Harga daging ayam segar naik dari Rp. 32 ribu perkilogramnya menjadi Rp. 38 ribu perkilogram. Harga ini diperkirakan akan terus naik mengingat pasokan dan stok yang minim.

BACA JUGA :  HARRIS Resort Barelang Tawarkan Paket Arisan Bertema Outdoor

Naiknya sejumlah komoditas pasar ini membuat daya beli masyarakat menurun. Sebagian pedagang juga mengeluh karena pendapatan mereka juga berkurang. Para pedagang meminta pemerintah dan pihak terkait untuk terus megawasi harga komoditas pasar menjelang bulan suci Ramadhan serta meninjau ulang biaya kargo yang cukup mahal. Batam bukan daerah penghasil komoditas pangan, sehingga untuk memenuhi permintaan. para pedagang harus mendatangkan dari luar daerah.

(*)

Teruskan Membaca
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sebaran

Facebook