Terhubung Dengan Kami

Histori

Hikayat Hang Tuah Vs Taming Sari

ilham kurnia

Dipublikasi

pada

Ilustrasi, kitab Sulalatus Salatin : ist.

KESULTANAN Malaka didirikan oleh Parameswara (1344 – 1444). Di dalam Babad Tanah Melayu; Sulalatul Salatin, hal ini merujuk pada nama Iskandar Shah, yang juga merupakan raja terakhir Singapura (1389 – 1398).

Kerajaan Melayu ini sendiri dikisahkan jatuh dalam kekuasan Portugal pada tahun 1511.

Dalam Sulalatus Salatin diceritakan kedekatan hubungan antara Malaka dengan Pasai yang dipererat dengan adanya pernikahan putri Sultan Pasai (Sultan Zainal Abidin) dengan Raja Malaka (Parameswara/Sultan Ibrahimsyah).

Kemudian, Sultan Malaka pada masa berikutnya juga diceeitakan ikut memadamkan pemberontakan yang terjadi di kerajaan Pasai.

Selain itu untuk mengantisipasi kemungkinan adanya ancaman invansi dari Majapahit, Sultan Mansur Syah dari Malaka membina hubungan diplomatik dengan Batara Majapahit  dengan meminang dan menikahi putri Majapahit.

Di dalam sejarah melayu, terbitan Abdullah bin Abdulkadir Munsyi, dikisahkan tentang “pernikahan agung” Malaka dan Majapahit yaitu antara Sultan Mansyur Syah (Malaka), dengan Putri Majapahit Raden Galuh Chandra Kirana.

Pernikahan yang juga dihadiri oleh para Raja di Sumatra yaitu Maharaja Merlang (Indragiri), Raja Palembang, Raja Jambi, Raja Lingga serta Raja Tungkal ini, sayangnya tidak banyak diceritakan dalam naskah-naskah kuno Jawa.

Pada catatan silsilah Kesultanan Malaka, Raden Galuh Chandra (Cendera) Kirana tertulis sebagai anak dari Sang Aji Jaya ningrat dengan isterinya Raden Galuh Devi Kesuma (Tuan Putri Wi Kusuma). (sumber :silsilah malaka)

Raden Galuh Devi Kesuma (Tuan Putri Wi Kusuma) sendiri dalam Sejarah Melayu diinformasikan sebagai Ratu Majapahit dan puteri dari penguasa Majapahit sebelumnya.

Jika kita kaitkan dengan Sejarah Majapahit, sosok Raden Galuh Devi Kesuma (Ibunda dari Raden Galuh Chandra Kirana), sepertinya indentik dengan Ratu Suhita (memerintah Majapahit, 1427-1447, sementara Sultan Mansur Syah 1456-1477).

Sementara nama Sang Aji Jaya ningrat, indentik dengan Bhra Hyang Parameswara Ratnapangkaja.

Hikayat Hang Tuah

Dalam hal ini, diceritakan bahwa Sultan Mansur Syah kemudian mengutus seseorang bernama Hang Tuah untuk mempersembahkan surat lamaran dan bingkisan ke hadapan raja Majapahit, calon mertua baginda.

Sebagian besar masyarakat Melayu di Malaysia mempercayai bahwa Hang Tuah dilahirkan di Sungai Duyong – Malaka, dalam rentang tahun 1444.

Dalam Bahasa Indonesia, berarti Sungai Duyung.

Sementara bagi masyarakat Melayu Indonesia (khususnya Kepulauan Riau) Hang Tuah dan sahabat-sahabatnya dipercayai berasal dari Tanjung Pinang Kepulauan Riau.

Dalam Babad Tanah Melayu; Sulalatul Salatin, Hang Tuah sendiri disebut berasal dari Makasar, Sulawesi Selatan – Indonesia.

Dikisahkan dalam hikayat tersebut; Utusan dari Melaka datang berkunjung ke Kerajaan Goa. Ketika utusan akan kembali ke Kesultanan Malaka, mereka dihadiahi seorang anak yang cakap lagi rupawan, bernama; Daeng Merupawah.

Ini nama asli Hang Tuah menurut Babad tersebut. Seorang anak dari Raja Bajung.

Dikisahkan, setelah menerima titah dari Sultan, Mansur Syah maka Hang Tuah menerima sebagai utusan tersebut dan memohon untuk melakukan perjalanan.

Ia dianugerahi pakaian, sepuluh kati emas dan dua peti kain baju. Setelah itu, Laksamana berpamitan kepada Bendahara dan Temenggung, lalu berjalan keluar diikuti oleh Hang Jebat dan Kesturi yang serta membawa titipan surat dan bingkisan.

Hang Tuah pun masuk ke perahu. Setelah naik ke perahu, surat dan bingkisan itu disambut oleh Laksamana, lalu ia naik ke atas “Mendam Berahi”. Hang Tuah berlayar ke Jawa.

Dalam beberapa naskah Melayu, seperti hikayat Hang Tuah, dan Sulalatus Salatin, disebutkan bahwa Laksamana Kerajaan Malaka  yang bernama Hang Tuah pernah bertarung dengan seorang pendekar Majapahit yang bernama Tamingsari.

Dalam pertarungan tersebut diceritakan Hang Tuah mampu membunuh pendekar Majapahit meskipun ia punya ilmu kebal. Tamingsari dapat dibunuh setelah Hang Tuah merampas kerisnya, dan menikamkannya kepada Tamingsari.

Lalu dimanakah laga pertarungan kedua-dua pahlawan dari dua Negara itu bertarung?

Rujukan Kitab Negarakertagama

Pada naskah di kitab Negara Kertagama yang selesai ditulis pada Tahun 1365 Masehi, khususnya pada pupuh (Paragraf) ke 86 sampai 87 disebutkan:

Pupuh 86

Dua hari kemudian berlangsung perayaan besar. Di utara kota terbentang lapangan bernama Bubat. Sering dikunjungi Baginda, naik tandu bersudut tiga. Diarak abdi berjalan, membuat kagum tiap orang. Bubat adalah lapangan luas lebar dan rata. Membentang ke timur setengah krosa sampai jalan raya. Dan setengah krosa ke utara bertemu tebing sungai. Dikelilingi bangunan menteri di dalam kelompok.Menjulang sangat tinggi bangunan besar di tengah padang. Tiangnya penuh berukir dengan isi dongeng parwa. Dekat di sebelah baratnya bangunan serupa istana. Tempat menampung Baginda di panggung pada bulan Caitra.

Pupuh 87

Panggung berjajar membujur ke utara menghadap barat. Bagian utara dan selatan untuk para raja dan arya. Para menteri dan dyaksa duduk teratur menghadap timur. Dengan pemandangan bebas luas sepanjang jalan raya. Disitulah Baginda memberi rakyat santapan mata: pertunjukan perang tanding, perang pukul, desuk mendesuk, perang keris, adu tinju, tarik tambang,menggembirakan sampai tiga empat hari lamanya baru selesai. Seberangkat Baginda, sepi lagi, panggungnya dibongkar. Segala perlombaan bubar; rakyat pulang bergembira. Pada Caitra bulan petang Baginda menjamu para pemenang. Yang pulang memabawa pelbagai hadiah bahan pakaian.

Berdasarkan naskah Negara Kertagama di atas (ditulis 100 tahun sebelum kedatangan Hang Tuah ke Majapahit), diperoleh suatu gambaran informasi bahwa pada masa dahulu, kerajaan Majapahit dalam setiap bulannya menggelar hiburan untuk rakyat, hiburan tersebut adalah hiburan Pertarungan atau laga manusia, dari mulai Tinju (Pertarungan Tangan Kosong) Pertarungan Senjata (Menggunakan Keris) sampai pada pertarungan ringan (Tarik Tambang) mirip pertarungan gladiator zaman Romawi Kuno.

Dalam Naskah tersebut juga diinformasikan bahwa tempat laga pertarungan manusia itu digelar di sebuah tempat yang bernama Bubat.

Sebuah lapangan luas yang jauh dari Istana Majapahit.

Hang Tuah menjabat sebagai Laksamana Kerajaan Malaka pada saat Malaka dipimpin oleh Sultan Mansur Shah yang memerintah 1456-1477.

Kemudian jika merujuk pada penulisan Negara Kertagama 1365, maka dapatlah difahami bahwa Tradisi laga manusia (Pertarungan Manusia) sudah 100 tahun lebih digelar di Majapahit sebelum kedatangan Hang Tuah kemudian ke Majapahit.

Memahami hal tersebut dapatlah kemudian disimpulkan bahwa Hang Tuah ketika bertarung dengan Taming Sari rupanya dalam rangka mengikuti Adu laga manusia yang biasa digelar setiap bulannya di Bubat.

Oleh karena Hang Tuah telah memenangkan pertarungan maka Hang Tuah diberi hadiah oleh Batara Majapahit (ada kemungkinan baju-baju indah, dan perhiasan) selain itu juga Keris Sakti yang dimiliki oleh Tamingsari kemudian dihadiahkan untuk Hang Tuah.

Keris ini kemudian dijadikan lambang keagungan Malaka. Karena keris itu sebuah tanda bahwa seorang Melayu Malaka mampu mengalahkan seorang pendekar dari Majapahit.

Apakah benar begitu? Wallahualam.

Referensi:

1.  Abdul Kadir Munsyi, Sejarah Melayu
2. Raffles. TS, (1921) Sulalatus Salatin, Malay Annals.
3. https:// kerisnusantara.wordpress.com
4. https://kompasiana. com
5. www.historyofcirebin.id

Advertisement



Klik untuk memberi komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Rupa Rupa

Hidup Sehat1 hari lalu

Masuk Bilik Sterilisasi Kemudian Disemprot Desinfektan? Ini Kata WHO

BELAKANGAN, banyak masyarakat di Indonesia yang tinggal di komplek perumahan bergotong royong membuat Bilik Sterilisisasi atau Bilik Disinfektan. Harapannya bisa...

Hidup Sehat2 hari lalu

TONGKAT ALI DARI GUNUNG JANTAN

GUNUNG Jantan, begitu masyarakat Tanjung Balai Karimun menyebut gunung yang berada di Desa Pongkar, Kecamatan Tebing di kabupaten Karimun ini. Beberapa...

Gaptek? Gak Lah!2 hari lalu

Ada Stiker STAY HOME Di Instagram, Begini Cara Pakainya

UNTUK menekan laju penyebaran virus corona atau Covid-19, Instagram merilis stiker Stay Home pada 22 Maret 2020. Stiker ini mendorong...

Hidup Sehat6 hari lalu

Hantavirus Yang Lagi Viral, VIRUS APA LAGI ITU?

HANTAVIRUS atau virus Hanta jadi yang paling dibicarakan oleh netizen pada sejak Selasa (25/3/2020). Kata “Hangtavirus” pun melesat jadi trending...

Histori1 minggu lalu

Corona dan Pandemi-Pandemi Yang Pernah Terjadi Di Dunia

PANDEMI virus corona masih terus terjadi di berbagai belahan dunia sekarang ini. Secara umum, wabah ini memiliki dampak yang cukup...

Ide2 minggu lalu

Cara Pengemudi Taksi Ini Bentengi Diri Dari Covid-19

WABAH virus Corona yang semakin menggila penyebarannya tentu bikin khawatir para pekerja yang menuntut berinteraksi dengan pelanggannya. Pengemudi taksi satu...

Ide3 minggu lalu

Membuat Sendiri Hand Sanitizer Berstandar WHO

MEREBAKNYA virus corona (covid-19) di banyak negara, menyebabkan banyak pengaruh. Indonesia yang sebelumnya menyatakan diri bebas covid-19, tidak bisa lagi...

Gaptek? Gak Lah!3 minggu lalu

Frogs “Si Taksi Drone”, Berhasil Terbang Perdana

UJI terbang taxi drone kapasitas dua orang bernama Frogs berhasil terbang di Landasan Udara Gading, Gunung Kidul, Yogyakarta, saat uji terbang pertama...

Histori3 minggu lalu

Hikayat Kabil & Kampung Panau (Bagian 2)

WILAYAH Kabil dan Kampung Panau merupakan sedikit wilayah di kota Batam yang sudah tumbuh sejak lama sebagai tempat permukiman orang....

Makan Enak3 minggu lalu

Berjaya Hotel Johor Sajikan Menu Makanan Nusantara Selama Ramadan 2020

HOTEL Berjaya Waterfront, Johor Bahru, Malaysia, dipastikan akan terasa berbeda pada musim Ramadhan (bulan puasa) 2020 mendatang. Hotel yang bangunannya...

Advertisement