NILAI tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Selasa (15/3/2022) berpeluang melemah. Tekanan terhadap rupiah akibat sentimen kenaikan suku bunga acuan AS dan sikap bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed) terkait kebijakan moneternya.
Pagi ini, nilai tukar rupiah berada di level Rp 14.342 per dolar AS. Mata uang Garuda turun 10 poin atau minus 0,07 persen dari perdagangan sebelumnya, yakni Rp 14.332 per dolar AS.
Untuk mayoritas mata uang di Asia pagi ini bergerak memerah. Tercatat, yen Jepang minus 0,05 persen, dolar Singapura minus 0,02 persen, won Korea Selatan minus 0,01 persen, yuan China minus 0,42 persen, ringgit Malaysia minus 0,02 persen, dan baht Thailand minus 0,13 persen.
Sementara itu, dolar Hong Kong naik 0,02 persen, peso Filipina yang naik 0,09 persen, dan rupee India naik 0,03 persen.
Untuk mata uang di negara maju tampak beragam pagi ini. Terpantau, franc Swiss bergeming, dolar Kanada minus 0,02 persen, dolar Australia naik 0,07 persen, poundsterling Inggris naik 0,08 persen, dan euro Eropa naik 0,10 persen.
Analis Pasar Uang, Ariston Tjendra, memproyeksi nilai tukar rupiah berpotensi bergerak melemah. Pasalnya, pasar tengah mengantisipasi kebijakan yang diambil bank sentral Amerika Serikat The Federal Reserve (The Fed)
“Antisipasi terhadap kenaikan suku bunga acuan AS dan sikap bank sentral AS yang akan lebih agresif dalam pengetatan moneter masih menjadi penekan rupiah terhadap dolar AS,” kata Ariston kepada CNNIndonesia.com, Selasa (15/3).
Sebagai informasi, The Fed akan menggelar rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15 hingga 16 Maret 2022.
Di sisi lain, sentimen positif justru datang dari negosiasi antara Rusia dan Ukraina yang berlangsung. Keinginan Rusia untuk berdialog dengan Ukraina dinilai dapat membuka harapan perang akan segera berakhir.
Ia pun memproyeksikan rupiah akan bergerak antara Rp 14.380 dengan potensi support di kisaran Rp 14.300.
(*)
sumber: CNN Indonesia


