AKTIFITAS perairan selat Bulang di sisi barat pulau Batam yang ramai hingga awal abad 20, juga dicatatkan oleh seorang Kontrolir Batam yang bertugas masa itu, L.M.F. Plate. Kapal-kapal dagang dari dan ke bandar Riouw di Tandjoengpinang menuju dan dari perairan internasional selat Singapura, selalu melewati selat di sisi barat pulau Batam itu. Beberapa yang memerlukan pengurusan izin, juga menyinggahi ibukota kepulauan Batam di sana.
Oleh: Bintoro Suryo
PLATE mendeskripsikan pulau Bojan yang menjadi pusat administrasi untuk wilayah kepulauan Batam saat itu, sebagai pulau kecil berbatu. Namun selalu diramaikan dengan hilir mudik kapal-kapal uap dan dagang yang seperti tanpa henti.
Pada catatan pengalamannya bertugas sebagai Kontrolir untuk wilayah Kepulauan Batam selama 1,5 tahun di awal abad 20, ia mencatat kesan dan pengalamannya. Tulisannya dipublikasi di majalah bulanan “Koloniaal Tijdschrift” pada tahun 1919.
Tidak melulu menyanjung sistem pemerintahan kolonial yang mempekerjakannya. Dalam banyak paragraf, ia bahkan secara gamblang menyampaikan potensi penyimpangan dalam pengelolaan wilayah di Kepulauan Batam yang terpaksa harus dijalaninya sebagai seorang pegawai ‘Binnenland Bestuur’ di wilayah Hindia Belanda masa itu.
Namun begitu, catatannya memberi banyak pemahaman tentang suasana di wilayah ini pada masa lalu. Terutama di pulau utamanya, Batam. Pulau sepi yang masih banyak diselubungi hutan belantara. Kebun-kebun tersebar di tengah hutan, dikelola oleh orang-orang Tionghoa.
L.M.F. Plate, sempat menjabat sebagai asisten residen di Papua Selatan sebelum kembali ke wilayah Riau (Riouw, pen.) sebagai Residen pada 1921 – 1924. Ia kemudian mengakhiri karier sebagai seorang pegawai ‘Binnenland Bestuur’ Hindia Belanda dan melanjutkan sebagai Direktur harian di surat kabar ‘Dagblad De Malanger’ di Malang hingga akhir usianya.
Plate meninggal di Malang, tempat awal kariernya di negeri Hindia Belanda pada bulan Februari 1936 (De Telegraaf, edisi 9 Februari 1936)
Berikut catatannya saat menjabat sebagai seorang Kontrolir yang mengelola wilayah Kepulauan Batam pada 1901 – 1903.
BEBERAPA tahun yang lalu, redaksi majalah ‘Koloniaal Tijdschrift‘ telah beberapa kali meminta kiriman catatan kenangan tentang karir saya di negeri Hindia Belanda. Sekarang, perang sudah berakhir. Jadi, baru sekarang saya bisa mengirimkan catatan tersebut ke redaksi ini.
Seperti yang terjadi pada kita semua, peristiwa-peristiwa dari tahun-tahun pertama karir kita, seringkali bahkan dianggap tidak penting. Padahal, itu meninggalkan kenangan yang paling diingat dalam hidup. Dan ini sangat alami.
Usai menyelesaikan bangku sekolah, saya mulai menjalani kehidupan nyata yang bebas dan penuh peristiwa. Kehidupan yang sangat baru, dengan tanggung jawab. Sering kali kita merasa, ini menjadi momen penting dalam hidup. Setidaknya itu yang terjadi pada saya. Jelas, peristiwa-peristiwa dan keadaan dari tahun-tahun pertama itu meninggalkan kesan yang paling kuat dalam ingatan.
TUJUH bulan pertama saya bertugas di Jawa, tepatnya di Malang. Ditempatkan di bawah pengawasan seorang kontrolir yang tidak memiliki kemampuan sedikit pun untuk melatih dan mendidik saya. Dia merupakan seorang pegawai muda. Di bawah bimbingannya, saya tidak belajar apa-apa selain mengarsipkan dokumen yang saya lakukan setiap hari. Itu membosankan.
Ketika saya diangkat sebagai kontrolir, saya dipindahkan ke Residensi Riouw dan daerah sekitarnya. Itu sekitar 7 bulan sejak saya mulai bekerja di pemerintah kolonial.
Saya menyadari bahwa ketika dipindahkan, kita harus menunjukkan diri “pintar” tapi tidak perlu tergesa-gesa. Ini untuk memberi rasa percaya terhadap tanggungjawab tugas yang diberikan kepada saya.
Saya kemudian pergi ke Pasuruan untuk menghadap Residen wilayah itu, lalu pergi ke Batavia. Informasi yang saya terima, kapal yang berangkat dengan jadwal sebulan sekali ke Riouw, telah berangkat dua hari yang lalu.
Tidak ada orang di Departemen Dalam negeri di sana yang memberitahu saya bahwa saya sebenarnya bisa berlayar dari Batavia melalui Singapura. Jadi, saya tetap tinggal di Batavia sampai ada kapal lain yang berangkat.
Ketika saya tiba di Riouw, sekretaris wilayah bertanya kepada saya dengan sangat heran: “Anda sudah ada di sini?”
“Ah, mereka ternyata belum mengharapkan saya.”
Saya tidak akan membahas periode magang saya sebagai kontrolir di wilayah Riouw, meskipun itu berlangsung cukup lama, yaitu hampir 4 tahun. Kenangan dari waktu itu tidak terlalu penting untuk dicatat. Tapi kemudian, ketika saya diangkat sebagai kontrolir, baru mulai menarik.
Penugasan di pulau Bojan
TEMPAT penugasan pertama saya adalah pulau Bojan di Kepulauan Batam. Saya tidak tahu apakah pulau itu masih ada saat ini. Saya terlalu malas untuk memeriksa Almanak Pemerintah. Anda tahu, pulau itu sangat kecil. Tidak mustahil bahwa pulau itu telah hilang karena erosi dan gelombang laut saat ini.
Orang bisa mengelilingi pulau itu dalam 12 1/2 menit. Hubungan komunikasi rutin yang saya lakukan di sana adalah dengan seorang letnan Cina, seorang penyewa opium, 12 orang prajurit bawahan saya dan awak sampan panjang. Ada sebuah perahu terbuka yang juga digunakan sebagai kapal layar dan menjadi alat transportasi kontrolir untuk melakukan perjalanan.
Keadaan ini membuat salah satu pendahulu saya menulis dalam memoarnya bahwa untuk menjadi kontrolir di Kepulauan Batam, seseorang harus bisa berenang dengan baik. Wilayah ini terdiri dari sekitar 200 pulau!
Mengapa Bojan dipilih sebagai tempat penugasan pejabat pemerintahan dan bukan tempat lain di pulau Batam yang jauh lebih besar? Itu masih menjadi teka-teki bagi saya.
Mungkin pilihan itu jatuh pada pulau Bojan karena tidak ada air minum di sana.
Pemerintah kita mungkin ingin menunjukkan bahwa pernyataan terkenal bahwa orang Belanda selalu duduk di lumpur dan air adalah tidak benar. Tidak ada lumpur di sana, kecuali air laut di sekitarnya. Dan, tidak ada setetes pun air minum. Air untuk minum harus didatangkan setiap hari dengan perahu.
SAYA beruntung memiliki rumah yang baik dan pemandangan laut yang indah di pulau ini. Tamannya juga tidak buruk.
Yang cukup mengejutkan karena seluruh pulau berbatu. Untuk menanam tumbuhan, kita harus membuat lubang dengan alat dan mengisinya dengan tanah yang subur.
Saya tinggal di pulau itu selama 1,5 tahun. Tapi, saya merasa puas dan senang di sana. Saya tidak merasa sepi, karena jika angin berhembus, saya bisa mendengar tembakan senapan dari Singapura, yang hanya berjarak satu jam perjalanan dengan kapal uap.
Saya berada di sana selama masa kerusuhan warga Cina, pemberontakan Boxer di Singapura. Hampir setiap malam ada suara tembakan meriam yang menakutkan. Kapal-kapal perang dari berbagai negara di pelabuhan Singapura saling mengeluarkan tembakan.
Saya juga sering pergi ke Singapura. Bahkan dalam tugas, karena saya juga bertanggung jawab atas Kepulauan Karimon.
Dalam imajinasi saya saat ini, rasanya masih mencium bau busuk yang memenuhi perahu Cina yang saya gunakan untuk perjalanan itu. Saya sering melakukan perjalanan ke Singapura dengan menumpang kapal orang Cina yang memuat banyak ikan, baik segar maupun kering.
Perjalanan-perjalanan seperti itu, terutama saat berada di Singapura, sering saya lakukan secara periodik. Ini membuat saya bisa melupakan sejenak kesulitan saat tinggal di pulau Bojan, pulau kecil yang berbatu itu, di mana kapal pedagang serta kapal-kapal uap selalu lewat tanpa henti.
TUGAS pemerintahan sebagai kontrolir pada saat itu di Kepulauan Batam, tidak banyak yang bisa dikatakan. Tapi mungkin juga banyak. Seperti yang akan terlihat dari kelanjutan cerita ini.
Jika saya mengatakan bahwa tidak banyak yang bisa dikatakan, maka saya maksudkan bahwa tugas itu hanya terbatas pada: pertunjukan bendera.
Setiap hari saya harus memastikan anak buah untuk mengibarkan bendera di tiang. Kapal-kapal yang lewat harus tahu bahwa itu adalah wilayah Hindia Belanda. Bukan bagian dari Straits (selat internasional Philips, pen.) Tugas itu sebenarnya tidak memakan banyak waktu saya.
Selain itu, ada penetapan dan penagihan pajak dari orang Cina. Untuk tugas ini dibantu oleh pemimpin mereka, seorang letnan Cina. Untuk orang pribumi, kita masih memiliki Sultan di Riau pada saat itu serta wakil-wakilnya di berbagai afdeling. Sesuai dengan kontrak politik, pemerintahan kita tidak langsung berhubungan dengan penduduk asli, tapi melalui mereka. Terutama tentang administrasi kependudukan dan pajak.
Baca: Bojan: ‘Pulo Boedjang’ yang Pernah Jadi Ibukota Batam
Tugas pemerintahan secara langsung lebih pada pengelolaan orang-orang Timur Asing. Koordinasi langsung penduduk Cina dikelola oleh pemimpin mereka, sama seperti orang asli yang ditangani pemerintah pribumi. Kita hanya mengawasi. Namun, untuk penduduk Cina, masalah yang berhubungan dengan hukum, ditangani di Pengadilan Magistrat.
PADA masa tugas saya, hanya ratusan orang Cina yang membayar pajak. Mereka tersebar di berbagai pulau di wilayah ini. Saya memberikan jaminan atas kata-kata saya, bahwa apa yang saya tulis ini adalah kebenaran yang murni.
Saya masih merasa seperti ada dingin yang mengalir di punggung ketika saya memikirkan konsekuensi yang mungkin terjadi dalam aktifitas tugas, jika Tuan Liefrinck (atasan L.M.F. Plate, pen.) mengunjungi sub-distrik Batam pada saat itu.
Saya yakin, jika saat itu dilakukan audit dan penyelidikan terhadap tanggungjawab saya, maka akan mengakibatkan saya diskors atau diberhentikan dengan tidak hormat. Jika itu terjadi, bukan hanya saya yang mengalami, namun juga kolega kerja dan bawahan saya. Ini tentang aktifitas tidak sah yang dilakukan dan di bawah tanggungjawab saya.
Pembaca mungkin bertanya : “Bagaimana mungkin melakukan hal-hal yang tidak sah di pulau kecil yang tidak penting seperti itu?”
Tapi itu benar! Seluruh rezim pemerintahan di wilayah itu banyak melakukan kegiatan yang tidak sah secara aturan.
Mulai dari bendera itu. Mengibarkan bendera setiap hari adalah bertentangan dengan Bijblad No. 5720 yang sebenarnya hanya boleh dilakukan pada hari Minggu dan hari libur. Tiang bendera, sebuah hiasan yang indah di halaman, juga tidak sesuai dengan model yang diberikan dalam Bijblad No. 374. Mengambil air setiap hari dengan menggunakan prajurit dan pelayar warga pribumi adalah penyalahgunaan kekuasaan, karena itu bukan tugas mereka.
Dan yang terburuk adalah pemungutan pajak, yang dilakukan dengan cara yang mungkin akan membuat Jan Pieterszoon Coen sendiri memiliki keberatan yang serius.
Seperti yang saya katakan sebelumnya, ratusan orang Cina tinggal tersebar di banyak pulau di wilayah saya. Sebagai sarana transportasi, saya tidak memiliki apa-apa selain sebuah kapal layar terbuka yang tidak layak laut.
Jadwal mengunjungi seluruh pulau-pulau di wilayah ini adalah setahun sekali. Itu juga yang dilakukan oleh pendahulu saya dan mungkin akan dilakukan oleh penerus saya. Semua pulau itu harus dikunjungi. Seringkali dengan risiko terjebak di laut terbuka oleh badai atau angin kencang.
Kontrolir juga harus melakukan perjalanan setiap bulan untuk mengunjungi semua lokasi kebun gambir yang tersebar. Pada saat itulah tidak hanya penetapan pajak, tetapi juga penagihan dilakukan, yang tentu saja bertentangan dengan peraturan.
Cohier (buku catatan, pen.) lama dari tahun sebelumnya dibawa. Biasanya penetapan pajak sama dengan tahun sebelumnya. Orang Cina itu adalah penanam gambir, sekaligus peternak babi dan bebek. Hanya kadang-kadang pajak harus ditingkatkan atau diturunkan, jika penanaman gambir diperluas atau dikurangi atau jumlah babi atau bebek meningkat atau menurun secara signifikan.
Orang Cina sendiri tampaknya tidak melihat ketidakabsahan itu, karena sudah bertahun-tahun dilakukan dengan cara itu. Jadi mereka hanya membayar. Mereka memang mencoba untuk “tawar” karena “banjak loegi” yang mereka miliki, tapi secara umum pajak dibayar tanpa protes. Mereka segera menerima kwitansi pajak.
Kadang-kadang, kita harus mengambil tindakan jika ada penentang yang menolak membayar dengan alasan tidak memiliki uang tunai. Dalam kasus itu, cukup mengambil beberapa bebek mereka dengan mencekik leher mereka sebagai ancaman. Atau mengancam pemiliknya untuk dibawa ke pulau Bojan untuk ditahan. Seperti sihir, uang itu muncul dan pajak kemudian dibayar mereka.
Pembaca harus mengakui, itu tidak sesuai dengan peraturan administratif, bahwa penetapan dan penagihan pajak dilakukan dengan cara itu.
Lebih buruk lagi adalah pada penanganan kapal-kapal dagang yang melintas di sekitar pulau Bojan. Biasanya adalah kapal-kapal yang diawaki oleh orang Cina. Mereka datang ke Kepulauan Batam untuk menebang kayu. Hasilnya diekspor ke Singapura. Mereka akan melakukan pekerjaan yang terkena pajak di wilayah Hindia Belanda.
Tidak ada penetapan pajak dan pemberian kwitansinya yang sesuai dengan peraturan. Seharusnya, pajak baru dibayar saat mereka akan keluar dari wilayah perairan ini dengan menghitung jumlah muatan di dalamnya. Tidak ada pernyataan dari kami bahwa pajak tidak dibayar jika mereka tidak keluar wilayah ini.
Kita menetapkan, mengeluarkan kwitansi dan menagih pembayaran di awal dengan perkiraan. Jadi, dilakukan dengan cara yang tidak sah lagi. Penetapan dan penagihan pajak kepada mereka dilakukan dengan cara sama dengan para pekebun; cara paksa.
Seperti pada kejadian ini, ketika kapal Cina terlihat di dekat pulau Bojan. Selalu ada penjaga kami, siang dan malam. Mereka terdiri dari pelayar dan prajurit yang tugasnya hanya untuk mengawasi kapal-kapal seperti itu. Ketika kapal Cina itu mendekat, perahu dengan beberapa prajurit di dalamnya, langsung berangkat dari dermaga untuk menuju ke kapal tujuan.
Mereka naik ke kapal Cina, menurunkan layar serta mengambilalih kemudi. Kapten kapal Cina kemudian diperintahkan untuk menurunkan jangkar.
Juru mudi kapal kemudian dibawa oleh petugas ke darat. Dia dikenakan pajak berdasarkan ukuran yang sama sekali tidak adil, yaitu berdasarkan jumlah orang di kapal, bukan berdasarkan pendapatan semua penumpang atau keuntungan yang diharapkan dari penebangan kayu.
Hanya jika dia membayar, dia boleh pergi. Jika tidak, dia harus tetap di sana sampai bisa membayar. Saya tidak ingat, apakah ada jurumudi kapal yang pernah menolak untuk membayar. Di bawah tekanan, mereka semua akhirnya membayar!
Residen di Riouw tentu saja tahu tentang semua keadaan ini. Semua dilakukan secara terbuka, tidak ada yang disembunyikan. Residen tahu bahwa ketika dia menerima cohier untuk ditandatangani, jumlah total yang dia lihat berarti sudah dibayar. Dengan cara ini, jelas bahwa tidak pernah ada tunggakan pajak.
SEBAGAI penutup, saya harus menyebutkan sebuah kejadian yang akan tetap ada di pikiran saya sampai mati. Mungkin saat ini tidak penting. Tapi pada saat itu, sangat penting bagi saya.
Suatu hari, saya datang ke kebun gambir untuk menetapkan dan menagih pajak. Saya menemukan kegembiraan besar, pesta pernikahan. Tauke kebun itu sedang merayakan pesta pernikahannya. Tapi, itu tidak membuatnya menjadi tidak membayar pajak yang ditagihkan. Dia membayar tagihan pajak sebesar f 10 uang kertas dan beberapa koin perak. Saya kemudian membungkus koin perak itu dalam uang kertas dan memasukkannya ke dalam saku.
Atas permintaan tuan rumah, saya tetap berada di sana untuk menikmati perayaan. Pengantin kemudian datang untuk memberikan hormat.
Pada suatu saat, seorang gadis Cina yang cantik menyajikan sebuah nampan berisi makanan ringan. Saya melihat pimpinan orang Cina yang datang bersama saya, seorang Letnan Cina, meletakkan uang yang telah dibungkus dalam kertas amplop, sebagai ganti apa yang diambil dari nampan makanan. Ketika giliran saya, saya tidak tahu apa yang harus dilakukan selain meletakkan pajak yang baru saja saya terima di atas nampan itu.
Jadi, untuk menghormati pernikahan sang tauke, saya telah membayar pajak untuknya. Saya selalu ingat peristiwa itu dan berjanji tidak pernah akan mengulanginya lagi.
Meninggalkan Riouw
KITA berharap bahwa keadaan di Kepulauan Batam telah berubah sejak waktu itu. Kami, pejabat pemerintahan, dari Residen hingga pejabat termuda, merasa bahwa seluruh sistem pemungutan pajak itu dilakukan dengan cara yang tidak sah. Namun tetap dipertahankan. Jika kita berbicara atau menulis tentang ini, kita akan mendapat jawaban bahwa tidak ada yang bisa dilakukan; “kita harus berlayar dengan dayung yang kita miliki”.
Saya berterima kasih kepada Tuhan, juga Direktur Urusan Dalam Negeri, ketika saya dipindahkan ke daerah lain. Namun, saya tidak akan pernah melupakan, saya akan selalu mengenang dengan kesedihan, pesta perpisahan di aula Sosialita Tanjung Pinang.
Ada malam muda-mudi untuk menghormati saya, malam yang menyenangkan. Terutama karena kehadiran banyak perwira laut dari kapal survei Melvill van Carnbee.
Di antara perwira laut itu, ada seorang yang memiliki kebiasaan aneh. Dia adalah seorang maniak petasan yang selalu membawa kembang api Cina di sakunya, yang dia ledakkan pada jam-jam malam yang sebenarnya sangat tidak diinginkan oleh orang banyak.
Termasuk pada malam itu, ia membawa kembang api. Ketika kegembiraan meningkat, seiring dengan malam yang semakin larut, para perwira laut yang sudah mabuk itu merasa bahwa piano yang dimainkan di sociëteit, mengeluarkan suara yang buruk. Tak salah juga, karena piano itu memang telah cukup tua. Piano tua itu kemudian diseret ke galeri depan, dilempar ke bawah tangga, dan berakhir di halaman depan.
Di sana, piano itu diisi dengan kembang api dan dibakar. Kembang api dan piano itu terbakar habis. Keesokan paginya, hanya ada sisa-sisa logam yang tidak bersuara di sana.
Saat sadar dari mabuknya, para perwira AL itu merasa takut. Mereka merasa harus menggantinya dengan piano yang baru. Namun, pagi itu pengurus aula sociëteit berbesar hati. Ia kemudian menulis surat yang isinya ucapan terima kasih kepada para perwira AL tersebut atas usaha mereka untuk membersihkan piano tua itu.
Itu adalah malam perpisahan saya di Riouw.
L. M. F. PLATE.
(*)


