Hubungi kami di

Tanah Air

Khabar Duka, Tokoh Muhammadiyah Malik Fadjar Meninggal

iqbal fadillah

Terbit

|

Mantan Menteri Agama dan Menteri Pendidikan RI, Abdul Malik Fadjar. Photo :@republika.co.id

KHABAR duka kembali tersiar di tanah air. Mantan Menteri Pendidikan dan Menteri Agama, Abdul Malik Fadjar meninggal dunia.

Almarhum meninggal pada usia 81 tahun pada Senin (7/9) pukul 19.00 WIB di Rumah Sakit Mayapada, Jakarta.

Semasa hidup, almarhum pernah mengabdikan diri sebagai Menteri Pendidikan Nasional Kabinet Gotong Royong, Menteri Agama Kabinet Reformasi Pembangunan, dan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang.

Terakhir, oleh Presiden Joko Widodo, Almarhum ditunjuk sebagai Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim mengenang almarhum Abdul Malik Fadjar sebagai sosok yang banyak memberikan inspirasi dan pembelajaran.

“Beliau adalah sosok yang memberikan banyak inspirasi dan pembelajaran bagi kita semua, termasuk tentang pendekatan humanis, demokratis, dan memberikan kebebasan hak asasi manusia dalam pendidikan. Selamat jalan pahlawan dan guru bangsa,” kata Nadiem dikutip dalam keterangan pers, Selasa (8/9).

“Mewakili keluarga besar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, saya menyampaikan duka cita mendalam atas berpulangnya Bapak Prof Abdul Malik Fajar. Insya Allah amal ibadah almarhum diterima oleh Allah SWT,” kata Nadiem.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, juga turut menyampaikan duka cita atas meninggalnya Profesor Abdul Malik Fajar. Menurut Khofifah, almarhum adalah sosok yang tekun dan gigih dalam memperjuangkan yang diyakininya benar khususnya dalam bidang pendidikan.

“Tak heran kemudian, jika almarhum sukses membawa Universitas Muhammadiyah Malang sebagai salah satu kampus terkemuka di Indonesia,” ujar Khofifah di Surabaya, Selasa (8/9).

Khofifah menyebut, almarhum merupakan salah satu tokoh Muhammadiyah yang berkontribusi besar di tiga sendi kehidupan bangsa. Yakni pendidikan, agama, dan pemerintahan.

“Saya menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya. Semoga almarhum, husnul khotimah, seluruh amal dan ibadahnya diterima di sisi Allah SWT. Begitu juga dengan keluarga yang ditinggalkan, semoga diberikan kelapangan dan ketabahan hati dalam menerima cobaan ini,” ujar Khofifah.

Di mata Ketua Umum PP Muhammadiyah, M. Din Syamsuddin, Abdul Malik adalah pejuang Muhammadiyah.

Pasalnya, sebagian besar hidup Abdul Malik diabdikan dalam Persyarikatan Muhammadiyah, mulai dari bawah hingga menjadi salah seorang Ketua PP Muhammadiyah.

Menurut Din, Abdul Malik adalah salah seorang kader/tokoh terbaik Muhammadiyah, sehingga dapat “mewakili Muhammadiyah”.

Selama di PP Muhammadiyah, almarhum sangat aktif. Din mengatakan, pikiran-pikirannya banyak mewarnai langkah-langkah Muhammadiyah, khususnya dalam bidang pendidikan.

“Kepergiannya ke hadirat Sang Pencipta adalah kehilangan besar bagi Muhammadiyah, dan tentu bagi umat Islam dan Bangsa Indonesia. Semoga segala kiprah dan perannya menjadi amal jariah bagi Almarhum,” kata Din Syamsuddin, dalam keterangan yang diterima Republika.co.id.

Selain itu, Din juga menyebut sosok Abdul Malik sebagai pribadi yang akrab. Walaupun usianya di atas rata-rata anggota pimpinan yang lain, namun beliau menaruh takzim kepada yang lain, termasuk cukup menyantuni para aktifis muda.

Din menambahkan, Abdul Malik mewakili Muhammadiyah dalam banyak jabatan politik kenegaraan.

Hal itu mulai dari menjadi Menteri Agama, Mendiknas, Menko Kesra, dan terakhir sebagai Anggota Wantimpres.

Kepala Humas dan Protokoler UMM, Sugeng Winarno, membuktikan kekuatan seorang pendidik dari sosok Malik Fadjar. Karakter tersebut telah muncul sejak almarhum menjadi guru agama di daerah terpencil di Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 1959, yaitu Sekolah Rakyat Negeri (SRN) Taliwang.

“Selanjutnya, perjalanan hidupnya tak pernah lepas dari dunia pengajaran dan pendidikan,” kata Sugeng melalui pesan resmi, Senin (7/9).

Selepas dari SRN Taliwang, Malik berturut-turut mengajar di Sekolah Guru Bantu (SGB) Negeri dan Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) Sumbawa Besar NTB pada rentang 1960-1963.

Kemudian menjadi dosen Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Malang pada 1972, dosen dan dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UMM hingga 1983.

Almarhum juga pernah menjadi rektor di dua kampus, yaitu di UMM pada 1983-2000 dan Universitas MuammadSurakarta (UMS) pada 1994-1995.

Selama puluhan tahun menjadi guru di Muhammadiyah, Malik Fadjar tak sekadar menjadi seorang pendidik. Dia juga berkontribusi besar membangun sekolah-sekolah Muhhamdiyah dan perpustakaan desa di Yogyakarta dan Magelang.

Kesuksesannya dalam mengembangkan pendidikan, terutama pendidikan Islam, membuat namanya kian disegani dalam dunia pendidikan Indonesia.

Terlebih, ia mampu membawa UMM yang semula tak begitu dipandang menjadi kampus yang amat disegani dalam konteks nasional bahkan internasional. Hal itu membuatnya dipercaya sebagai Menteti Pendidikan di era Presiden BJ Habibie pada 1998-1999 dan Menteri Pendidikan Nasional di era kepemimpinan Megawati Soekarnoputri 2001-2004.

Malik Fadjar juga sempat menjabat Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) ad-interim menggantikan Jusuf Kalla yang ketika itu mencalonkan diri sebagai wakil presiden pada Pemilu 2004.

“Di samping itu, Malik juga aktif di Ikatan Cendekiwan Muslim Indonesia (ICMI) dan Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial (HIPIIS),” ucapnya.

Tidak hanya jati diri sebagai seorang pendidik, karakter kepemimpinan Malik yang memiliki pengaruh demikian besar tidak terjadi begitu saja.

Dari riwayat pendidikannya, dia memang memiliki minat yang amat besar untuk menjadi seorang guru.

Malik memulai pendidikannya di SRN Pangenan Kertoyudan, Magelang, Jawa Tengah pada 1947. Selanjutnya, bersekolah di Pendidikan Guru Agama Pertama Negeri (PGAPN) Magelang pada 1953 dan Pendidikan Guru Agama Atas Negeri (PGAAN) Yogyakarta pada 1957. Kemudian kuliah di IAIN Sunan Ampel Malang pada 1963 dan meraih gelar Sarjana Pendidikan Kemasyarakatan Islam pada 1972.

Tujuh tahun setelahnya, Malik melanjutkan studinya di Florida State University, Amerika Serikat. Di kampus ini, dia meraih gelar Master of Science di bidang pengembangan pendidikan pada 1981.

Kepakarannya di bidang pendidikan kian lengkap setelah Malik dikukuhkan sebagai Guru Besar pada Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel pada 1995.

Kemudian pada 2001, Malik mendapat gelar kehormatan Doktor Honoris Causa di bidang kependidikan Islam dari Fakultas Tarbiyah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Sugeng menilai, kiprah Malik Fadjar untuk Indonesia memang sudah tidak diragukan lagi. Mulai dari praktisi pendidikan paling dasar, birokrat pendidikan, hingga cendekiawan Muslim, Malik senantiasa berpikir soal kemajuan bangsanya.

Ibarat pena, kata Sugeng, Malik Fadjar adalah tinta yang tak pernah habis.

“Guru adalah jiwanya. Penghayatan terhadap filosofi guru menjadikannya seorang guru yang sebenar-benarnya guru, hingga menjadi Menteri para Guru (Mendiknas),” ungkapnya.

*(Zhr/GoWestId)

Sumber : Tempo.co

Teruskan Membaca
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sebaran

Facebook