DI Klinik Alami yang terletak di wilayah Kembangan, Singapura, ada lukisan-lukisan yang menghiasi dinding. Bukan berasal dari katalog peralatan medis. Dr. Nur Farhan Alami, seorang geriatrian berusia 43 tahun, melukisnya sendiri.
TAK hanya itu, furnitur yang ada di klinik juga merupakan barang bekas yang dibeli dari The Salvation Army, dan tempat tidur geriatrik yang digunakan dibeli secara online.
Setiap keputusan yang diambil dalam praktiknya, mencerminkan seorang dokter yang memilih cinta terhadap profesinya ketimbang keuntungan finansial.
Setelah 19 tahun berkarier di sektor kesehatan publik dan swasta, Dr. Farhan bersama suaminya, apoteker Imran Shah, mendirikan Klinik Alami pada tahun 2023. Pasangan ini menghabiskan tabungan pribadi untuk membuka klinik yang bertujuan memberikan perawatan geriatrik yang berkualitas dan terjangkau bagi masyarakat.
Dr. Farhan mengakui bahwa ia belum mendapatkan gaji sebagai spesialis dan pekerjaan sebagai dokter-wirausaha sangatlah menegangkan. Setelah seharian bekerja, masih ada tanggung jawab administratif yang harus diselesaikan, seperti pengaturan tenaga kerja dan masalah penggajian.
“Namun, suami saya selalu mendukung, dan pasien-pasien saya terus kembali, jadi saya tahu kami melakukan sesuatu yang benar,” ungkapnya seperti dituturkan di The Straits Times.
Kini, pasien-pasien datang dari berbagai penjuru pulau.
Dr. Farhan menjelaskan motivasinya untuk keluar dari zona nyaman dan memulai praktik sendiri demi membantu para lansia menjalani masa tua mereka dengan lebih nyaman.
“Saya selalu ingin menjadi dokter di kampung, di mana pasien saya adalah tetangga-tetangga saya, seperti sekarang ini. Ketika saya pergi ke warung kopi, semua orang menyapa, ‘Hei, dokter, mau makan apa hari ini?’ Semua orang yang tinggal di atas kami juga adalah pasien kami.”
Hasrat untuk Menjadi Dokter
BIDANG yang digelutinya adalah hasratnya. Ia telah melayani di rumah sakit publik dan swasta, dan mengamati bahwa antrean di rumah sakit publik seringkali panjang, sementara tidak semua orang mampu membayar layanan kesehatan swasta.

“Ketika melihat pasien lansia yang tidak terjamin, saya khawatir mereka terabaikan. Saya ingin melayani lebih banyak orang dan memiliki klinik di mana pasien bisa menemui dokter kapan saja mereka butuhkan.”
Itulah sebabnya model kliniknya berbeda dari yang biasa; ia beroperasi lebih seperti start-up. Klinik ini membeli tempat tidur geriatrik dan alat infus bekas secara online, serta furnitur yang berasal dari The Salvation Army, dan lukisan yang menghiasi dinding adalah karyanya sendiri.
Untuk menekan biaya dan memberikan penghematan kepada pasien, Klinik Alami menyediakan obat generik sehingga pasien tidak perlu membayar mahal untuk setiap tablet. Dr. Farhan memastikan bahwa obat-obatan yang disediakan tetap efektif.
Biasanya, dokter umum menyewa asisten klinik, namun mereka memilih untuk mempekerjakan perawat karena banyaknya perhatian dan tindak lanjut yang dibutuhkan oleh pasien lansia.
“Jika dokter melakukan semuanya, biayanya akan mahal. Namun, dengan bantuan perawat dan apoteker, semua orang dapat berfungsi di tingkat keterampilan terbaik mereka, sehingga model kami menjadi terjangkau. Ini semua tentang pelatihan dan dukungan.”
Klinik ini juga memiliki psikolog dan fisioterapis, karena praktik dengan satu dokter tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan kompleks pasien usia lanjut.
“Harapan saya adalah untuk memperluas model ini agar lebih banyak pasien dapat merasakan manfaatnya dan mengembangkan tim dengan individu yang sejalan, karena kami ingin fokus pada perawatan itu sendiri, bukan hanya pada obat-obatan.”
Dr. Farhan berharap untuk memberikan perawatan yang sama baiknya bagi pasiennya seperti yang ia harapkan untuk orang tuanya di masa depan.
(ham/TheStraitsTimes)


