Hubungi kami di

Khas

“Label King & Queen Untuk Petinggi Negeri”

Terbit

|

USAI ramai pembahasan paska munculnya meme presiden Joko Widodo yang dilabeli mahasiswa sebagai ‘King of Lip Service’, kini muncul meme baru untuk petinggi negeri lainnya dari mahasiswa.

Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Negeri Semarang atau BEM KM Unnes menyebut Ketua DPR Puan Maharani sebagai ‘The Queen of Ghosting’. Julukan itu mereka sampaikan melalui unggahan di media sosial BEM KM Unnes.

Presiden BEM KM Unnes Wahyu Suryono Pratama mengatakan Puan tak punya paradigma kerakyatan selama menjadi Ketua DPR.

“DPR RI justru mengesahkan produk legislasi yang cenderung bertolak belakang dengan kepentingan rakyat,” kata Wahyu, Rabu, 7 Juli 2021 seperti dikutip dari laman TEMPO.

Selama kepemimpinan Puan, DPR RI mengesahkan 6 rancangan undang-undang atau RUU dari 37 rancangan yang masuk program legislasi nasional.

Namun, kata Wahyu, enam RUU tersebut justru problematis di kalangan masyarakat. Sementara RUU yang diharapkan cepat diundangkan seperti penghapusan kekerasan seksual tak kunjung disahkan.

Sebagai contoh, DPR malah mengesahkan Undang-undang Cipta Kerja dan merevisi Undang-undang KPK. Aturan penting seperti Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual dan aturan perlindungan pekerja rumah tangga malah terkatung-katung.

BACA JUGA :  Aliansi BEM Tolak Bertemu Jokowi

The King of Silent, King of Lip Service

TAK hanya Puan Maharani, BEM Unnes juga melabeli Wakil Presiden Ma’ruf Amin sebagai ‘The King of Silent’. BEM Unnes melihat wakil presiden tidak berbuat banyak di tengah pandemi.

Sebelumnya, presiden Joko Widodo juga dilabeli oleh mahasiswa BEM UI dengan julukan ‘King of Lip Service’. Pro kontra kemudian marak paska unggahan para mahasiswa tersebut.

Jokowi juga sudah memberikan tanggapan soal pelabelan dirinya itu. Menurutnya, hal itu merupakan bentuk ekspresi kritik dari mahasiswa.

“Saya kira ini bentuk ekspresi mahasiswa, ini negara demokrasi jadi kritik boleh-boleh saja,” ujar Jokowi dalam keterangannya yang ditayangkan di akun Youtube Sekretariat Presiden, Selasa (29/6/2021).

Jokowi mengatakan pihak universitas tidak perlu menghalangi mahasiswa dalam menyampaikan ekspresi. Namun, Jokowi mengingatkan adanya budaya tata krama dan sopan santun.

“Universitas tidak perlu menghalangi mahasiswa untuk berekspresi. Tapi ingat kita ini memiliki budaya tatakrama budaya kesopansantunan saya kira biasa,” tuturnya.

BACA JUGA :  "Bagaimana Ketersediaan Air Baku dan Pengelolaan Aset Paska Konsesi Air di Batam?"

Sementara itu, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STH Indonesia Jentera, Renie Aryandani di laman CNN Indonesia, Sabtu (3/7/2021) lalu menilai bahwa julukan ‘The King of Lip Service’ alias Raja Membual untuk  Presiden Joko Widodo masih terlalu sopan.

Pernyataan itu sekaligus merespons jawaban Jokowi yang menyinggung perihal sopan santun dan tata krama setelah dikritik BEM Universitas Indonesia (UI).

“Menurut saya sendiri, julukan The King of Lip Service justru terlalu sopan jika dibandingkan dengan tanggung jawab pak Jokowi selama ini,” ujar Renie dalam agenda Indonesia Corruption Watch (ICW), Jumat (2/7).

“Janji manisnya justru terealisasi menjadi melemahkan pemberantasan korupsi, pengabaian terhadap pelanggaran HAM, atau bahkan justru menjadi aktor pelanggar HAM itu sendiri semata untuk mengeksploitasi sumber daya alam dan tenaga kerja,” sambungnya.

Renie menilai kebijakan yang ditempuh Jokowi tak lebih untuk memberikan keuntungan bagi oligarki. Ia berujar berbagai jalan, meskipun tidak adil, terus ditempuh untuk mencapai hal tersebut.

(*)

Sumber : TEMPO | DETIK | SEKRETARIAT PRESIDEN | CNN INDONESIA 

Teruskan Membaca
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sebaran

Facebook