Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Polisi Jaring 33 Motor Berknalpot Brong di Batam
    40 menit lalu
    Kemkomdigi Desak Operator Eksekusi Utuh Putusan MK Soal Kuota Internet
    52 menit lalu
    Sepertiga Wilayah ‘Stress Area’ Batam Masih Tunggu Kepastian Air Bersih Hingga 2027
    1 jam lalu
    Tempati Lahan Sejak Sebelum Otorita Ada, 271 KK Teluk Bakau Tagih Janji KSB 6×10
    1 hari lalu
    3 Tahun Buron, Pelaku Tabrak Lari Tewaskan Remaja 17 Tahun di Sagulung Ditangkap
    1 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Kontingen SMAN 1 Tanjungpinang Sabet 19 Medali Asia Pasifik
    46 menit lalu
    FIFA ASEAN Cup 2026, Menang Dramatis 9-2 Atas Bangladesh, Indonesia Singkirkan Malaysia
    3 hari lalu
    FIFA ASEAN Cup 2026, Laga Lawan Bangladesh Timnas Garuda Harus Menang Besar
    3 hari lalu
    Asian Games 2026, Panahan Sumbang Koleksi Emas untuk Indonesia
    3 hari lalu
    Asian Games 2026, Indonesai Tambah Emas Kembali dari Panjat Tebing Putri
    3 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Pohon Belian: Raksasa Kayu Besi dan Jejak Sejarahnya di Pulau Batam
    4 hari lalu
    Pelawan Merah: Pohon Eksotis yang Menjaga Hutan Kepulauan Riau
    5 hari lalu
    Nazief Soesiladharma (Walikota Batam Ketiga)
    5 hari lalu
    10
    Pulau Pandan, Karimun
    2 minggu lalu
    6
    Rumah Belah Bubung
    2 minggu lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Limas Potong; ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’ (Documentary)
    3 bulan lalu
    “Tanjak Perkasa Alam Karimun”
    3 bulan lalu
    #ComingSoon LIMAS POTONG: ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’
    4 bulan lalu
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    8 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    8 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
In Depth

Lomba Sampan Layar di Hari Kemerdekaan, Jaga Tradisi Sejak 1959

Editor Admin 4 tahun lalu 2k disimak

LOMBA sampan layar menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia di Pulau Belakangpadang menjadi magnet wisata bagi warga-warga di pulau sekitar, seperti Batam dan lainnya.

Sejak melangkahkan kaki di Pelabuhan Pancung Batam, antrian panjang mengular sudah menjadi santapan tiap tahunnya. Dalam sekali antrian, bisa dua atau tiga baris antrian.

Sebagian besar tujuan dari warga Batam pergi ke Belakangpadang memang untuk menikmati lomba sampan layar, sekaligus pesta rakyat di Alun-Alun Belakangpadang. Sementara tujuan lainnya beragam, misalnya liburan ke rumah kerabat, atau karena ada kerjaan.

Karena padatnya calon penumpang, penambang (sebutan pengemudi perahu pancung) juga terlihat sangat sibuk hilir mudik Batam-Belakangpadang yang berjarak sekitar 12 kilometer ini.

Bahkan, petugas tiket juga tampak kebingungan melayani satu per satu antrian tersebut. Ia terlihat sering meninggalkan loketnya untuk mengatur penambang yang juga tak kalah bingungnya.

Lomba sampan layar tahunan di Belakangpadang. F rifki/gowest.id

Terkadang ada penambang yang datang langsung ke kerumunan calon penumpang, langsung menawarkan untuk mengantar rombongan penumpang langsung ke Belakangpadang. Jadi, bayarnya tidak perlu di loket lagi, tapi langsung ke penambang setelah sampai di tujuan.

Begitulah pemandangan yang bisa dilihat sebelum keberangkatan menuju Belakangpadang. Kalau datang pukul 10.00 WIB, maka biasanya harus menunggu sekitar 30 menit atau lebih untuk mendapatkan tiket. Terkadang kalau terlalu banyak, si petugas tiket malah tutup loket sementara waktu.

Setelah menunggu lama, tiket pun dipegang. Kemudian melangkahkan kaki pelan-pelan turun menaiki perahu pancung. Belakangpadang yang juga dikenal sebagai Pulau Penawar Rindu ini sudah menanti. Tujuan hanya satu, yakni mengabadikan momen lomba sampan layar, yang konon kabarnya sudah berlangsung sejak tahun 1959 tersebut.

Cuaca di hari kemerdekaan cukup cerah, dan bahkan menjelang tiba di Pelabuhan Kuning Belakangpadang malah semakin panas terik. Dari kejauhan, penonton lomba tersebut sudah berjubel memenuhi lorong-lorong pelabuhan. Sementara di sisi lain, banyak juga terpantau berada di dermaga Bea Cukai (BC) yang menjorok ke lautan.

Mendekati pelabuhan, perahu yang ditumpangi berjalan pelan-pelan, karena banyak juga penonton yang nonton lomba sampan, juga ikut-ikutan naik sampan.

Lomba sampan layar sudah menjadi ikon wisata tahunan di Belakangpadang. F rifki/gowest.id

Tak jauh dari pelabuhan, ada Alun-Alun Belakangpadang yang tampak ramai dengan berbagai tenda dan juga stand-stand kuliner serta aksesoris. Di tengah alun-alun, ada panggung hiburan. Di sisi panggung, ada tenda makanan, khusus untuk warga setempat dan juga para pelancong.

Saat itu, semua mata memang tertuju pada lautan. Di tengah teriknya panas matahari, tampak 24 sampan layar atau biasa dikenal warga lokal sebagai kolek ini tengah menari-nari di atas ombak. Segala keahlian dan manuver ditunjukkan untuk menjadi yang terbaik. Bagi yang menyaksikan, pertunjukan tersebut seperti hiburan berkelas. Ya hiburan klasik yang sudah menjadi tradisi dari era orde lama di lautan perbatasan negeri.

Selain lomba sampan layar, ada juga lomba speed boat. Kalau yang ini, tentu lombanya lebih modern, karena yang dimainkan adalah keahlian bermanuver dengan mesin. Kebut-kebutan speed boat ini juga tak kalah seru, layaknya menonton MotoGP, tapi yang ini sirkuitnya berada di lautan.

Saat menemui tokoh masyarakat yang juga ketua panitia lomba sampan layar ini, Musa Jantan tersenyum ramah menyambut sejumlah wartawan yang hendak mewawancarainya. Pria ini juga seorang yang sudah lama hidup di lautan.

Sejak tahun 1959, ia telah mengawal lomba sampan layar ini agar tetap terlestarikan, sehingga tidak hilang dibabat zaman yang semakin modern.

“Kami ini tiap tahun, acara puncaknya ya lomba sampanlayar. Ini masih menjadi budaya yang terus dilestarikan. Pesertanya sendiri banyak dari luar Belakangpadang, seperti dari Pulau Gundap, Pulau Selat Nenek, Pulau Sugi dan lain-lain,” kata laki-laki berusia 83 tahun ini.

Untuk tahun ini, jumlah peserta memang agak berkurang. Ada banyak sebabnya, yakni karena pandemi. Lalu, banyak kolek yang sudah rusak. Dan terakhir, banyak pemilik kolek yang sudah meninggal.

“Saya awalnya prediksi ada 10, tapi syukurnya tahun ini jadi 24,” katanya singkat.

Musa kemudian menceritakan ikhwal mula terciptanya lomba sampan layar. Dahulu saat masih muda, ia dan teman-temannya sering berlomba sampan di Singapura, sekitar tahun 1950-an.

Lalu, setelah Singapura dibawah kepemimpinan Lee Kuan Yew mulai tahun 1959, maka lomba sampan layar dipindahkan ke Belakangpadang. “Alhamdulillah, sekarang masih bisa dilaksanakan,” ujarnya.

Menurut Musa, tidak mudah untuk menjadi kru sampan layar. Ada 3 posisi penting yang harus diisi para ahlinya. Posisi pertama dan yang paling penting, yakni damar. Damar ini orang yang berpegangan pada tali dogang, kakinya berada di tepi sampan, dan posisinya agak sedikit menungging.

Tali dogang ini berhubungan dengan layar. Fungsinya yakni untuk mengendalikan dan menstabilkan layar. Lalu, ada pedugang 1 dan 2. Dua orang ini bertugas menyeimbangkan sampan. Kalau angin kuat ke kiri, maka pedugang kiri harus pindah ke kanan untuk menyeimbangkan kapal, begitu juga sebaliknya. Kalau luput sekali saja, kapal bisa terbalik. Dan terakhir yakni tekong. Tugasnya menjaga haluan dan menjadi juru pandu dalam regu tersebut.

“Kalau soal layarnya itu, pakai kain parasut yang dijahit tangan. Banyak di Batam, satu gulungan itu US$ 15 dolar,” imbuh Musa.

Dulu, orang Singapura sangat suka mengikuti lomba sampan layar ini, bahkan sering juga jadi sponsor. Bagi orang-orang pulau yang hidup pada era 1960-an, bermain sampan menjadi hobi utama. Selain seru dan menguji ketangkasan, juga bertujuan untuk menjaga kekompakan.

Tahun ini, hadiahnya cukup menggiurkan, yakni uang tunai Rp 50 juta bagi sang pemenang.

Camat Belakangpadang, Yudi Admajianto mengatakan momen kemerdekaan memberi berkah bagi masyarakat Belakangpadang.

“Sekaligus juga jadi nostalgia. Karena lomba sampan layar dan speedboat ini merupakan tradisi ,” jelasnya.

Malam sebelum 17 Agustus, banyak warga Batam dan pulau-pulau sekitar yang sudah mulai datang ke Belakangpadang. Ada yang menginap di rumah kerabatnya, tidur di rumah kawan dan lainnya.

“Jadi, ini sudah semacam tradisi kumpul di Belakangpadang, kumpul saat HUT RI dan juga pesta rakyat. Lomba sampan layar ini sudah menjadi ikon dan akan terus dipertahankan,” tegasnya (leo).

Kaitan balapan sampan layar, balapan speed boat, hari kemerdekaan, iven kemerdekaan, khas, kota, lomba sampan layar belakangpadang, lomba speedboat, Pariwisata Batam, Pulau Penawar Rindu, sampan layar kolek, tradisi belakangpadang
Admin 19 Agustus 2022 19 Agustus 2022
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Kunjungi Veteran, Plt Bupati Bintan: Doakan Kami, Agar Bisa Lanjutkan Perjuangan dan Bangun Daerah
Artikel Selanjutnya Gubernur Berikan Remisi dan E-KTP Untuk Warga Binaan Se-Kepri

APA YANG BARU?

Polisi Jaring 33 Motor Berknalpot Brong di Batam
Artikel 40 menit lalu 39 disimak
Kontingen SMAN 1 Tanjungpinang Sabet 19 Medali Asia Pasifik
Pendidikan 46 menit lalu 58 disimak
Kemkomdigi Desak Operator Eksekusi Utuh Putusan MK Soal Kuota Internet
Artikel 52 menit lalu 61 disimak
Sepertiga Wilayah ‘Stress Area’ Batam Masih Tunggu Kepastian Air Bersih Hingga 2027
Artikel 1 jam lalu 112 disimak
Tempati Lahan Sejak Sebelum Otorita Ada, 271 KK Teluk Bakau Tagih Janji KSB 6×10
Artikel 1 hari lalu 98 disimak

POPULER PEKAN INI

Terkait Judul “Tambang Rexvin”, PT. Rexvin Group Beri Klarifikasi: Kami Bukan Perusahaan Tambang
Artikel 4 hari lalu 723 disimak
Penyelundupan 11,31 Kg Emas ke Singapura Gagal
Artikel 6 hari lalu 581 disimak
Uji Ketahanan Infrastruktur di Balik Lonjakan Investasi Rp500 Triliun Pusat Data Batam
In Depth 4 hari lalu 562 disimak
Pohon Belian: Raksasa Kayu Besi dan Jejak Sejarahnya di Pulau Batam
Rupa 4 hari lalu 542 disimak
Nasib 1.025 Buruh PT Ghim Li Indonesia Masih Menggantung
Artikel 6 hari lalu 518 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?