Hubungi kami di

Histori

Memori ‘Gol Tangan Tuhan’ Maradona

Mike Wibisono

Terbit

|

Diego Armando Maradona dengan nomor punggung spesialnya, 10

NAMA Diego Maradona merupakan salah satu yang paling ikonik dalam dunia sepak bola. Bukan hanya pada era 80-an, tapi sepanjang masa.

Ia lincah, jenius, dan flamboyan. Cap itu menjadi kata kunci yang pas untuk sang legenda.

Namanya menjadi perbincangan dunia ketika gol ‘Tangan Tuhan’ di Piala Dunia 1986 membawa timnas Argentina menjuarai kompetisi tertinggi sepakbola tersebut.

Bukan hanya satu, Maradona membawa negaranya ke puncak tertinggi kejayaan dengan gelar Piala Dunia pada 1986.

Gol ‘Tangan Tuhan’ Argentina versus Inggris pada 1986 mungkin tidak akan terjadi di dalam sepak bola modern. Pelatih timnas Inggris saat itu, Sir Bobby Robson bahkan mengakui gol tersebut sebagai keajaiban.

“Gol pertama sah. Tapi gol kedua? Itu benar-benar sebuah keajaiban,” kata Bobby, dikutip BBC Sport.

Gol ‘Tangan Tuhan’ Maradona saat melawan tim Inggris di piala dunia 1986

Catatan 259 gol dari 491 pertandingan sepanjang karier profesional membuat dirinya kerap disandingkan dengan legenda sepakbola asal Brasil, Pele.

Federasi Sepakbola Dunia (FIFA) bahkan menyebut dua pemain tersebut sebagai pesepakbola terbaik sepanjang masa tanpa ada peringkat pertama dan kedua.

Dengan tinggi 165 cm, Maradona awalnya kerap mendapat cibiran karena tidak termasuk ke dalam postur ideal seorang atlet. Namun, pria kelahiran Buenos Aires tersebut justru membuat timnas Argentina pernah mencatat 136 pertandingan tidak terkalahkan sejak dirinya mencatat debut internasional di usia 16 tahun 120 hari.

Gaya menggiring Maradona yang gesit membuat siapa pun berdecak kagum di stadion dan layar kaca. Apalagi, ia kerap beratraksi kocak selama pemanasan sebelum pertandingan.

Selain di timnas, Maradona adalah primadona di level klub. Ia sempat memecahkan rekor dunia ketika memutuskan hijrah dari Boca Juniors ke Barcelona dengan mahar 3 juta poundsterling pada 1982, kemudian bergabung dengan Napoli dua tahun kemudian demi 5 juta poundsterling.

Saat tiba di San Paolo, kandang Napoli, stadion tersebut ternyata sudah dipenuhi 80 ribu penggemar yang rela menyaksikannya. Maradona langsung memberikan hasil nyata ketika menyabet gelar Scudetto untuk pertama kalinya bagi Il Partinopei pada musim 1987, satu UEFA Cup 1989, dan tambahan trofi Liga Italia musim 1990.

BACA JUGA :  PIDATO Jenderal AH Nasution Saat Melepas Jenazah Para Pahlawan Revolusi

“Ini adalah kota yang indah tapi saya sulit bernapas. Saya ingin bebas berkeliling karena saya orang biasa,” kata Maradona, yang mengaku selalu diikuti orang-orang kemanapun ia pergi.

Namun, hingar bingar panggung sepak bola menjadikan obat-obatan terlarang sebagai pelarian bagi Maradona. Setelah takluk 0-1 dari Jerman di Piala Dunia 1990, ia dinyatakan positif menggunakan doping.

Setelah bertahun-tahun berjibaku dengan kasus narkotika, Maradona memutuskan pensiun dari dunia sepakbola pada usia 37 tahun. Namun masalah enggan lari dari hidupnya.

Maradona divonis dua tahun 10 bulan penjara karena menodongkan senjata kepada wartawan. Kebiasannya mengonsumsi kokain dan alkohol membuatnya terjerat masalah kesehatan.

Pada 2000 dan 2004, Maradona juga pernah mengalami serangan jantung hingga harus dirawat di rumah sakit. Saat itu, dia menyalahkan kokain sebagai penyebab penyakit jantungnya di mana kemudian dia berhasil sukses lepas dari kecanduan. Kokain, menurut Maradona, adalah ‘lawan terberat’ dalam hidupnya.

Setelah itu, beragam masalah kesehatan, kembali menghampiri Maradona. Pada 2005, dia harus menjalani operasi pemotongan usus yang membuatnya kehilangan banyak berat badan. Kemudian pada 2007.

Maradona kembali harus dirawat di rumah sakit akibat penyakit hepatitis.

Pada 2008, kondisi kesehatan Maradona pulih dan bahkan dirinya ditunjuk sebagai pelatih Timnas Argentina. Setelah hanya bisa mengantarkan Timnas Argentina sampai babak perempat final Piala Dunia 2010, Maradona lalu melanjutkan karier sebagai pelatih salah satu klub Uni Emirat Arab, Al Wasl.

Setelah memutuskan hengkang dari sebagai pelatih, ia tetap menyaksikan Argentina secara langsung dari bangku penonton. Publik sulit melupakan ekspresi girang Maradona ketika menyaksikan negaranya bertanding di Piala Dunia 2014 dan 2018.

Hingga akhirnya, pada 25 November 2020, tepat di usianya yang ke 60 tahun, Maradona meninggalkan para penggemar untuk selamanya. Sang legenda yang tidak mungkin terganti kini benar-benar tiada.

(*)

Teruskan Membaca
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sebaran

Facebook