DALAM rangka peringatan International Day For The Conservation Of The Mangrove Ecosystem, sejumlah aktifitas peduli lingkungan dan sejumlah instansi menggelar kegiatan penanaman 1000 bibit bakau atau mangrove di pulau Tolop yang terletak di perairan perbatasan negara Indonesia – Singapura.
Pulau Tolop merupakan sebuah pulau yang terletak di kelurahan Sekanak Raya di Kecamatan Belakang Padang.
Beberapa perwakilan instansi yang ikut dalam kegiatan ini seperti Kepala Kantor Badan Karantina Ikan dan Pengawasan Mutu Batam Anak Agung Gede Susila, Kapolsek Belakang Padang AKP Sulam, Camat Belakang Padang Yudi Admajianto, Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Belakang Padang Ronald Arman Abdullah, Danramil 05 Belakang Padang diwakili Babinsa Sekanak Raya Serda Dedi , Perwakilan Dinas Lingkungan Hidup Kota Batam serta perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam.
Ada juga Perwakilan Pertamina Fuel Pulau Sambu, Himpunan Ahli Lingkungan, Komunitas Kami Cinta Belakang Padang, Aliansi Pemuda Belakang Padang, Bumi Bertuah Bank Sampah, Pokdarwis Belakang Padang serta Indonesia Off Road Pengcap Batam.
Kapolsek Belakangpadang AKP Sulam mengatakan kegiatan penanaman 1000 bibit Mangrove ini bertujuan untuk menjaga keberadaan pulau Tolop agar tidak terkena Abrasi serta menjaga batas negeri di perbatasan NKRI.
Kegiatan digelar bertepatan peringatan International Day For The Conservation Of The Mangrove Ecosystem.
“Pulau Tolop mempunyai Nilai Sejarah yang perlu di pertahankan keberadaannya dan salah satu Wisata Religi yang ada di Batam, Maka Dari itu mari kita Bersama-sama Menjaga Batas Negeri ini untuk Satu tujuan , NKRI Harga Mati ” kata Kapolsek AKP Sulam”
Ada sekitar 1000 bibit bakau atau Mangrove ditanam di pulau ini saat kegiatan. Hal itu dilakukan untuk menjaga pulau Tolop dari ancaman abrasi gelombang laut mengingat kondisi pulau yang rentan dengan ancaman abrasi.
Pulau dengan luas 8,6 hektare ini terletak bersebelahan dengan Pulau Belakang Padang yang ada di belakangnya.
Butuh waktu 1 jam untuk bisa mencapai pulau ini. Dari kejauhan, gedung-gedung pencakar langit di Singapura terlihat jelas karena jarak Tolop dengan negeri jiran hanya 22,2 kilometer.
Sama halnya dengan pulau Nipah, pulau Tolop merupakan satu dari sekian pulau terluar Indonesia yang berbatasan dengan dunia internasional.
Jika mencoba mengelilingi pulau dengan kapal, maka akan terlihat bahwa pulau ini dikelilingi oleh tembok pemecah ombak.
Tembok ini bukan seperti tembok biasa. Tetapi berbentuk seperti kotak-kotak beton yang disusun secara simetris melindungi pantai dari pengikisan atau abrasi yang ditimbulkan oleh hantaman ombak terhadap bibir pantai secara terus menerus.
Kemudian jika berlayar ke bagian pulau yang berhadapan dengan Singapura, maka di balik tembok pemecah ombak ada lagi tembok lainnya yang berdiameter lebih kecil.

Bentuknya seperti tembok yang mengelilingi sebuah benteng layaknya benteng pada era abad pertengahan di Eropa.
Di sanalah terdapat pos pemantau dari tentara penjaga perbatasan.
Pulau ini terlihat bersih dan banyak ditumbuhi pepohonan. Di sekeliling pantainya pun banyak pohon bakau terlihat.
Saat ini Pulau Tolop dijaga oleh 20 orang prajurit. Mereka bergantian dengan teman tentara lainnya tiap enam bulan sekali. Dan setiap seminggu sekali, atas izin dari Komandan Posal, mereka bisa pulang ke Batam jika memang keluarganya ada di Batam.
Secara posisional, pulau ini sangatlah strategis karena berada di garis terdepan yang berhadapan langsung dengan Selat Malaka dan Singapura.
(*/nes)


