Hubungi kami di

Tanah Air

Pemerintah Minta RS Siapkan Tenda Darurat Untuk Antisipasi Lonjakan Pasien Covid-19

ilham kurnia

Terbit

|

Ilustrasi, zona merah persebaran Covid-19

JURU Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menyatakan pemerintah telah mengantisipasi lonjakan kenaikan pasien Covid-19 akibat banyaknya masyarakat yang bepergian pada libur panjang pada akhir Oktober.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pun telah mengeluarkan arahan strategi rekayasa perawatan pasien Covid-19 apabila terjadi lonjakan di rumah sakit.

Mulai dari penambahan ruang rawat inap hingga menyediakan tenda darurat di rumah sakit.

“Terdapat tiga strategi rekayasa perawatan berdasarkan besar lonjakan kasus yang berpeluang terjadi paska libur panjang,” ujar Wiku saat memberikan keterangan pers perkembangan penanganan Covid-19 di Kantor Presiden Jakarta, Selasa (3/11) yang disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden.

Pertama, apabila terjadi kenaikan pasien Covid-19 sebesar 20 – 50 persen maka rumah sakit rujukan siap menampung kenaikan pasien tersebut. Hal ini karena kapasitas terpakai rumah sakit rujukan, saat ini berada di tingkat 50 persen.

Kedua, apabila terjadi kenaikan pasien sebesar 50 – 100 persen, maka pemerintah akan menambah kapasitas ruang perawatan umum menjadi ruang perawatan Covid-19. Dengan demikian ruang rawat inap dapat bertambah kapastiasnya.

Ketiga, apabila kenaikan pasien lebih dari 100 persen maka tenda darurat akan didirikan di area perawatan pasien Covid-19 di rumah sakit.

Selain itu pemerintah akan mendirikan rumah sakit lapangan atau darurat bekerjasama dengan Badan Nasional dan Penaggulangan Bencana dan TNI di luar rumah sakit rujukan.

BACA JUGA :  Nama Ikan Ini Bikin Jokowi Geli dan Tertawa

Antisipasi ini dilakukan karena tren lonjakan kasus paska libur panjang pernah terjadi saat libur panjang merayakan Idul Fitri akhir Mei dan hari kemerdekaan RI pada Agustus. Pemerintah pusat, daerah, dan Satgas Covid-19 telah berkoordinasi baik sebelum dan setelah libur panjang dalam upaya antisipasi.

Beberapa antisipasi telah dilakukan sebelumnya seperti pengawasan kekarantinaan, berlakunya e-Hac atau electronic health alert card, penyiapan alur rujukan kasus positif, serta penyiapan sarana dan prasarana pelabuhan dan bandara untuk penerapan protokol kesehatan.

“Terdapat juga upaya antisipasi yang dilakukan di rumah sakit. Koordinasi dengan dinas dan fasilitas kesehatan setempat, penyiapan sarana dan prasarana rumah sakit,” kata Wiku.

Selain itu, masyarakat juga diharapkan terbuka saat pemerintah melakukan pelacakan kasus. Keterbukaan masyarakat menjadi kunci utama dalam melacak kontak terdekat, sekaligus memastikan bagi yang positif Covid-19 memperoleh perawatan yang lebih dini dan lebih baik.

“Jika testing menunjukkan hasil yang positif, segera lakukan karantina di fasilitas yang telah ditetapkan pemerintah. Ikuti anjuran tenaga kesehatan, sehingga treatment (perawatan) yang dilakukan dapat berjalan efektif, dan angka kematian dapat ditekan,” lanjut Wiku.

(*)

Teruskan Membaca
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sebaran

Facebook