Hubungi kami di

Khas

Pengganti Plastik dari Cumi – Cumi?

Mike Wibisono

Terbit

|

Ilustrasi cumi cumi : ist.

SEBUAH protein yang ditemukan pada gigi cumi-cumi suatu hari nanti mungkin berperan dalam pengurangan signifikan atas wabah global, polusi mikroplastik.

Mikroplastik ditemukan di mana-mana. Potongan lima milimeter plastik, kira-kira seukuran sebutir beras atau lebih kecil, kini mudah ditemukan di tanah, di udara, bahkan di dalam tubuh seluruh makhluk hidup, termasuk manusia.

Diperkirakan 12,7 juta ton sampah plastik masih ditemukan di lautan setiap tahunnya menurut Greenpeace.

“Plastik telah memberi manusia banyak peluang, terutama dalam hal mobilitas, seperti yang ditemukan di mobil dan pesawat terbang, tetapi juga di bidang tekstil, konstruksi, dan pengemasan,” kata Melik Demirel, seorang ilmuwan material di Pennsylvania State University, Amerika Serikat.

“Tetapi yang kami sadari adalah bahwa dengan manfaat ini akan muncul dampak lingkungan yang sangat besar dan tidak berkelanjutan.”

Demirel kemudian memiliki solusi atas permasalahan tersebut yang dijelaskan dalam makalah yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Frontiers of Chemistry.

Solusinya adalah berasal dari gigi cincin lengan cumi-cumi (SRT). Bagian melingkar yang terletak di cangkir hisap cumi-cumi, digunakan untuk menangkap mangsanya dengan kuat.

Cumi-cumi memiliki dua tentakel panjang dan delapan lengan yang lebih kecil. Tentakel digunakan untuk memangsa, dan lengan digunakan untuk mengontrol dan menahan makanannya, sementara ia memotong mangsa dengan rahang yang tajam.

Lengan ditutupi dengan cangkir isap untuk membantu fungsi ini, dan dalam beberapa cumi-cumi masing-masing cangkir dikelilingi dengan gigi yang tajam.

Elastisitas, kelenturan, dan kekuatan bahan berbasis SRT, juga sifat yang dapat menyembuhkan diri, dan sifat konduktif listrik, optik, dan termal, dapat dijelaskan melalui beragam pengaturan molekuler yang dapat mereka adopsi.

Protein ini dapat diproses menjadi bentuk serat dan lembaran dengan beragam pengaplikasian. Mulai dari pakaian pintar untuk pemantauan kesehatan, hingga kain daur ulang yang dapat menyembuhkan diri. Semuanya bertujuan untuk mengurangi polusi mikroplastik. Mengingat pakaian merupakan salah satu polutan besar.

BACA JUGA :  Aturan IMEI Yang Bakal Membunuh Ponsel BM?

Ini berarti masalah lingkungan seperti ketidakmampuan untuk mendaur ulang sekitar 95 persen kapas yang diproduksi karena keberadaan produk mikro-poliester dapat diatasi.

“Ini akan membantu kami meminimalkan penggunaan tanah dan air yang diperlukan untuk menghasilkan kapas,” kata Demirel.

Bahan yang terbuat dari protein ini diklaim ramah lingkungan dan dapat terurai secara hayati. Dengan produksi berskala besar yang berkelanjutan dicapai dengan menggunakan metode kultur laboratorium.

“Protein cumi-cumi dapat digunakan untuk menghasilkan bahan generasi berikutnya untuk berbagai bidang termasuk energi dan biomedis, serta sektor keamanan dan pertahanan,” kata Demirel.

“Kami meninjau ilmu pengetahuan saat ini tentang bahan berbasis cincin cumi-cumi, yang merupakan alternatif sangat baik untuk plastik karena mereka ramah lingkungan dan berkelanjutan.”

Selama 30 tahun terakhir Demirel telah mempelajari semua jenis protein, menguji kemampuannya untuk berfungsi sebagai biopolimer, atau dianggap sebagai plastik alami.

“Protein tertentu mirip dengan plastik dalam arsitektur molekulnya, kemampuan modular, elastisitas, dan sifat mekaniknya yang tinggi,” kata Demirel.

Ilustrasi cumi cumi

Terlebih solusi ini tidak berarti kita harus memberdayakan cumi-cumi untuk diambil bagian tubuhnya. Penggunaan bakteri yang dimodifikasi secara genetika berarti para peneliti tidak harus menggunakan cumi-cumi yang sebenarnya untuk produksi bahan. Jadi penemuan tidak harus mengarah pada penipisan sumber daya alam.

“Kami tidak ingin menghabiskan sumber cumi-cumi alami dan karenanya kami memproduksi protein ini dalam bakteri yang dimodifikasi secara genetik. Prosesnya didasarkan pada fermentasi dan menggunakan gula, air, dan oksigen untuk menghasilkan biopolimer,” jelas Demirel.

Diharapkan bahwa purwarupa berbasis SRT akan segera tersedia lebih luas, tetapi pengembangan lebih lanjut diperlukan. Protein SRT sintetis saat ini berharga setidaknya $ 100 (Rp 1,4 juta) per kg untuk diproduksi, tetapi ia berharap dapat menurunkan harganya hingga sepersepuluh dari itu.

Sumber : CNN / Vox / Frontiersin / Green peace / Beritagar

Teruskan Membaca
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sebaran

Facebook