DINAS Perikanan Kota Batam (Diskan Batam) menilai bahwa produksi udang vaname di wilayah Batam cukup tinggi dan menjadi komoditas unggulan untuk ekspor ke Singapura. Kepala Diskan Batam, Yudi Admajianto, menyatakan permintaan udang vaname untuk pasar luar negeri cukup signifikan.
Menurut data Diskan, produksi udang vaname sepanjang 2025 mencapai 3.664 ton dengan rata-rata sekitar 300 ton per bulan. Produksi yang tinggi dipicu oleh permintaan ekspor ke Singapura. Secara keseluruhan sepanjang 2025, nilai ekspor ikan termasuk udang dan rajungan dari Batam ke Singapura mencapai 6.406 ton dengan nilai sekitar Rp263,57 miliar.
Namun, tidak semua hasil produksi udang vaname diekspor karena sebagian juga dipenuhi untuk kebutuhan lokal di Batam. Dari 31 pembudidaya udang skala besar yang terdata, 21 masih aktif beroperasi. Menurut Yudi, terdapat sedikit penurunan produksi pada 2026 karena beberapa pembudidaya di wilayah Galang menghentikan produksi sementara. Data produksi Januari 2026 mencatat 204 ton udang vaname.
Diskan Batam juga menegaskan bahwa saat ini belum ada bantuan khusus untuk budidaya udang vaname karena mayoritas pelaku usaha adalah skala besar. Dukungan pemerintah bagi pembudidaya udang skala besar disampaikan melalui bantuan benih yang disalurkan melalui Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) dan pokir DPRD Kota Batam bagi kelompok pembudidaya skala kecil.
Selain udang, komoditas budidaya lain yang rutin diekspor meliputi ikan kerapu, kakap, dan bawal. Sepanjang 2025, produksi kerapu mencapai 74,6 ton, kakap 142,4 ton, dan bawal 59,1 ton, dengan produksi yang cenderung lebih rendah karena umumnya dikerjakan oleh pembudidaya skala kecil.
(ham/antara)


