Hubungi kami di

Histori

Pulau Buluh, Denyut Nadi Batam Tempo Dulu

iqbal fadillah

Terbit

|

PULAU Buluh merupakan sebuah kelurahan dengan luas wilayah 5,522 Km2 (552,2 Ha) daerah darat 2,187 Km2 dan luas lautan 3,335 Km2 terletak di Kecamatan Bulang Kota Batam.

Batas wilayah Kelurahan Pulau Buluh di sebelah utara adalah Kelurahan Tanjung Uncang, di sebelah selatan adalah Batu Legong, di sebelah barat adalah Kelurahan Bulang Lintang, dan di sebelah timur adalah Kelurahan Sei Binti

Kelurahan Pulau Buluh terdiri dari 11 RT dan 3 RW dan memiliki 5 buah pulau, yaitu Pulau Buluh, Pulau Boyan, Pulau Teluk Sepaku, Pulau Tengah, dan Pulau Bulat.

Dari blog milik M Nasir Tahar diceritakan bahwa dulunya Pulau Buluh adalah sebuah tepian strategis tempat lalu lintas kapal dari Singapura ke Pulau Bintan. Pulau Buluh adalah sentra dagang. Tiap pekan penghulu-penghulu di pulau-pulau sekitar membeli kebutuhan sehari-hari dari wilayah ini. Sehingga kemudian dianggap layak jika pusat pemerintahan district van Batam berpusat di Pulau Buluh. Nama Batam yang awalnya hanyalah kampung nelayan pesisir dibawa-bawa karena merupakan pulau terbesar di kawasan Bintan bagian utara.

M Nasir Tahar menulis bahwa di sinilah kemudian dibangun kantor camat pertama yang dikepalai seorang Amir. Pada lokasi kantor sudah tidak terlihat lagi wujud aslinya karena telah dipugar beberapa kali. Sekarang dijadikan tempat belajar bagi anak-anak TK Temenggung Abdul Jamal. Aslinya terdiri dari dua unit bangunan khas era Belanda. Juga dibangun dengan bata Batam Brick Works, terbukti dengan masih adanya sisa puing bata bermerk BATAM pada bagian belakang kantor.

Yang masih utuh adalah bak penampungan air dengan tinggi dan diameter masing-masing 4 meter di bagian belakang. Pada halaman kantor kini dibangun lapangan tenis PBTC (Pulau Buluh Tenis Club). Berhampiran dengan sebuah masjid tua bernama Jami’ Nurul Iman. Berturut-turut, District van Batam dipimpin oleh Amir Raja Ja’far, Amir Karjono, Amir Samin, Amir Siddiq, Amir Raja Mendalun, Amir Ibrahim dan terakhir Amir Raja Ali. Pada masa Raja Ali, pusat pemerintahan beralih ke Belakangpadang yang dulunya berada di bawah kepenghuluan Sekilak. Pulau Buluh membawahi beberapa kepenghuluan di antaranya Pulau Buluh, Pulau Terong, Sekilak (Belakangpadang) dan Nongsa.

Menurut lagenda, nama Pulau Buluh diambil dari hikayat bengsawan Penyengat yang menawan pelanduk (rusa) di pulau tersebut dengan beberapa batang bambu atau buluh, sehingga orang-orang dulu menamainya Pulau Buluh.

Vork School Pulau Sambu

Sekolah Rakyat (SR) zaman Belanda atau sering disebut Vork School pernah berdiri di Pulau Buluh. Namun tidak ada situs atau puing-puning yang berhasil ditemukan, karena di lokasi ini telah berdiri SDN 001 Pulau Buluh. Agaknya jika ditinjau dari sudut historis, SDN 001 adalah sekolah dasar yang paling tua di wilayah Kota Batam saat ini. Diperkirakan telah ada sejak tahun 1880. Menurut keterangan warga setempat, Vork School ini berdiri utuh hingga masa pendudukan Jepang. Sejak berdirinya NKRI, namanya berubah menjadi Sekolah Rakyat (SR). Tidak ada manuskrip yang dapat menjelaskan bagaimana keadaan sekolah ini pada masanya, namun beberapa orang tua di Pulau Buluh mengaku sempat bersekolah di sini setelah berubah nama menjadi Sekolah Rakyat.

Makam Keramat Puding

Terletak di halaman Masjid Jami’ Nurul Iman. Makam ini sudah dipugar dengan atap dan pagar berciri Melayu. Nisan makam dibalut dengan kain berwarna kuning. Tidak terdapat tulisan apapun untuk mengetahui siapa penghuni makam ini. Warga Pulau Buluh menyebutnya Makam Keramat Puding, karena dulunya terdapat pohon puding yang tumbuh di sekitar makam. Diyakini telah ada sejak tahun 1880-an. Beberapa orang dari luar pulau yang kemungkinan mengetahui asal-usul makam ini kerap menziarahinya pada waktu-waktu tertentu. Namun warga Pulau Buluh sendiri mengaku tidak pernah mengkeramatkan makam ini. Hanya karena dianggap bernilai sejarah, makam ini dirawat dan dibalut kain kuning pada nisannya. Di sekitar makam Keramat Puding, terdapat beberapa makam lainnya yang keliatannya tidak diistemewakan (tidak dipagar dan beratap).

Masjid Tua Jami’ Nurul Iman

Rumah ibadah umat Islam ini diperkirakan berdiri pada tahun 1872. Konstruksi aslinya sudah tidak kelihatan. Dua buah tiang utama di sisi belakang masjid adalah bagian yang masih tersisa. Bentuk kubah masjid meskipun mirip dengan Masjid Sultan Riau Pulau Penyengat (1832 M), namun bukan merupakan konstruksi aslinya. Masjid Jami’ Nurul Iman telah mengalami berbagai perombakan dan penambahan luas.

Sekolah Tionghoa

Sekolah khusus bagi warga Tionghoa Pulau Buluh ini dibangun pada tahun 1937. Di masa Suharto sekolah ini ditutup dan diubahfungsikan menjadi balai desa. Kini di atas tapak sekolah ini telah berdiri gedung SMU 11 Pulau Buluh. Yang tertinggal dari bangunan bersejarah ini adalah tanggga utama sepanjang enam tingkat dengan lebar lebih kurang 30 meter. Di halaman sekolah ini terdapat sumur tua bersejarah sebagai kenang-kenangan dari raja-raja Penyengat yang sempat bermastautin di Pulau Buluh.

Toa Pekong Pulau Buluh

Rumah beribadatan Toa Pekong ini diperkirakan sudah ada sejak tahun 1880-an. Sebelum dipugar bangunan aslinya hanya seluas 35 M2. Beberapa ornamen dan desain pada atap tidak mengalami perubahan bentuk tapi diyakini hanya sebagai replika. Terjadi penambahan luas menjadi 15 x 30 M dan kini bernama Vihara Samudra Bhakti. Di bagian dalam vihara terdapat tumpukan batu cadas yang dibiarkan seperti sedia kala. Di sisi bangunan tumbuh pohon ketapang yang sudah berumur ratusan tahun. Vihara ini terletak di pinggir laut, memiliki dermaga sendiri dan juga terdapat semacam tempat peristirahatan bagi pengunjung vihara.

Sumur Tua Bersejarah

Sumur sedalam tujuh meter ini mewakili situs tertua yang masih dapat dideteksi jejaknya di pulau bersejarah, Pulau Buluh. Situs berdiamater 1,5 meter ini pada bagian bawahnya ditumbuhi lumut hijau dan rerumputan dari jenis ganggang. Terbuat dari susunan bata berlabel BATAM, sebuah produksi pabrik ternama di Asia yakni Batam Brick Works yang dibangun oleh Raja Ali Kelana pada 26 Juli 1896. Adalah Raja Ja’far beserta kerabatnya yang pernah singgah di Buluh menghadiahkan sumur ini kepada warga setempat sebelum bertolak ke Malaka. Dari kisah tetua setempat, Abdul Hamid bin Muhammad Yusuf (80), sumur ini telah dijadikan sumber air tawar bagi warga setempat selama beratus tahun silam. Seluruh bagian sumur terbuat dari bata dengan perekat batu kapur gamping yang berfungsi seperti semen. Pada dindingnya setebal 6 CM terdapat serpihan cincin porselin yang masih mengkilap jika digosok. Kesan angker segera terlihat ketika melongok ke bagian dalam sumur. Dinding-dinding berlumut yang lembab dengan beberapa bagian bata yang terlepas dan tidak utuh ini seakan menjelaskan bahwa sumur ini telah digunakan oleh tujuh generasi. Tercetak jelas tahun pembuatan “1911” pada dinding sumur bagian luar. Sumur ini berada di halaman SMU 11 Pulau Buluh, yang dulunya adalah bekas sekolah Tionghoa.

Toko Bahagia

Toko ini ada kaitannya dengan nilai strategis Pulau Buluh masa silam. Pusat perbelanjaan milik Tan Yu Tse ini menyuplai hampir semua kebutuhan pokok bagi warga Pulau Buluh dan pulau-pulau di sekitarnya. Di masa itu, penghulu masing-masing desa, langsung mengurus kebutuhan pokok warganya dengan mendatangkan barang belanjaan dari Toko Bahagia. Hal ini menjadi salah satu sebab sehingga Pulau Buluh dijadikan ibukota kecamatan yang di bawah pemerintahan seorang amir. Toko Bahagia sebenarnya terdiri dari dua blok pasar saling berhadapan yang terdiri dari delapan pintu. Bagian belakang toko langsung terhubung dengan pelabuhan bongkar muat masa lalu yang kini hanya terdiri dari beberapa tiang penyangga. Dermaga ini sudah tidak berfungsi lagi meski dulunya merupakan pelantar tersibuk sebagai tempat transit antara Singapura dan Tanjungpinang. Tan Yu Tse adalah seorang saudagar kayu bakar dan dapur arang serta dianggap sebagai tokoh Tionghoa terkaya di Buluh pada masa itu. Selain Toko Bahagia, juga terdapat sejumlah toko dan beberapa rumah yang tetap mempertahankan wujud aslinya meski diakui telah ada sejak tahun 1920.

Toa Pekong Pulau Buluh

Rumah beribadatan Toa Pekong ini diperkirakan sudah ada sejak tahun 1880-an. Sebelum dipugar bangunan aslinya hanya seluas 35 M2. Beberapa ornamen dan desain pada atap tidak mengalami perubahan bentuk tapi diyakini hanya sebagai replika. Terjadi penambahan luas menjadi 15 x 30 M dan kini bernama Vihara Samudra Bhakti. Di bagian dalam vihara terdapat tumpukan batu cadas yang dibiarkan seperti sedia kala. Di sisi bangunan tumbuh pohon ketapang yang sudah berumur ratusan tahun. Vihara ini terletak di pinggir laut, memiliki dermaga sendiri dan juga terdapat semacam tempat peristirahatan bagi pengunjung vihara. (*)

 

Teruskan Membaca
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sebaran

Facebook