Hubungi kami di

Khas

Rencana Kenaikan Tarif Air Bersih Tidak Tepat, Karena SPAM Batam Untung

Terbit

|

RENCANA kenaikan tarif air bersih saat pemerintah berupaya menahan laju inflasi di awal tahun, dinilai tidak tepat sasaran oleh Presiden Direktur ATB, Benny Andrianto. Bahkan menurut dia, saat ini belum ada alasan wajib bagi Badan Pengusahaan (BP) Batam untuk menyesuaikan tarif air bersih.

“Tidak tepat naik tarif air, karena sekarang ini tahun sulit, inflasi tinggi dan lain-lain,” kata Benny saat Coffe Morning dengan media di Kantor ATB, Batam Centre, Rabu (18/1).

Menurut informasi yang ia peroleh dari media, Kepala BP Batam, Muhammad Rudi mengatakan bahwa pendapatan per tahun yang diterima dari operator sebesar Rp 320 miliar. Hal tersebut menandakan bahwa BP Batam mendapatkan keuntungan yang sangat besar dari pengelolaan air bersih di Batam.

Jika mengacu pada SK tarif air bersih tahun 2010, maka rata-rata tarif air bersih di Batam adalah Rp 6.000/m3. Berdasarkan hasil tender Operation and Maintenance (OM) yang dilakukan BP Batam, operator pengelola dibayar Rp 2.400/m3.

Berdasarkan perhitungan tersebut, maka BP Batam masih mendapat keuntungan sebesar Rp 3.600/m3. Dengan asumsi kapasitas produksi sebesar 100 juta m3 pertahun (mengacu data produksi tahun 2020), maka BP Batam diperkirakan membukukan laba sebesar Rp 360 miliar pertahun.

Sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 21/2020 tentang Penghitungan dan Penetapan Tarif Air Minum, maka baik itu Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) maupun di Batam yang disebut SPAM Batam boleh mengajukan kenaikan tarif, dengan syarat mengalami kerugian atau tidak full cost recovery.

BACA JUGA :  Sholat Idul Adha di Masjid Tanjak, Ramai Hingga Pelataran Parkir Masjid

“Kalau masih untung, mengapa harus naik. Syarat untuk bisa naik tarif yaitu saat merugi. Air ini memiliki fungsi komersil dan sosial. PDAM apalagi pemerintah tidak boleh terlalu komersil,” ucapnya.

“Dulu saat saya ke dewan, mau pengajuan kenaikan tarif, diminta tingkatkan pelayanan dulu. Jadi saya yakin saat pelayanan bagus, maka saat naik tarif pasti masyarakat rela. Ini saat pelayanan sulit, naik tarif ya mereka pasti tidak rela,” katanya lagi.

Ia juga membantah pernyataan Rudi yang mengatakan penyebab suplai air macet karena kondisi jaringan pipa yang sudah kadaluarsa.

“Dulu ATB sebelum habis masih pasang pipa di Tanjung Uncang dan Batuaji. Pipa itu tidak ada istilah tua, karena pemasangan pipa itu mengikuti pertumbuhan penduduk,” tegasnya.

“Saat kami pertama kelola dulu, penduduk Batam sedikit. Jadi tidak mungkin pasang pipa keliling kota saat Batam masih banyak hutannya,” ungkapnya.

Selain itu, saat penyerahan aset kepada BP Batam pasca konsesi dengan ATB berakhir, aset sudah diaudit oleh Surveyor Indonesia. “Kami dituntut serahkan aset dalam keadaan baik dan berfungsi. Kalau kemudian ada yang bilang pipa tidak bagus, bisa dilihat jejak digitalnya,” tuturnya.

Sebelumnya, Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Muhammad Rudi memberikan tanda-tanda akan menaikkan tarif air bersih Sistem Pengelolaan Air Minum (SPAM) Batam. Hal itu diperlukan untuk investasi penggantian jaringan pipa air di Batam yang dianggap sudah tua, sehingga tidak mampu memberikan suplai air yang memadai.

BACA JUGA :  Kesuksesan Pembangunan Batam Berkat Dukungan Forkompinda dan Masyarakat

“ATB (pengelola air sebelumnya) kontrak dengan BP Batam di 1995 habis 2020, selama 25 tahun. Seluruh jaringan pipa usia 25 tahun, dalam waktu berjalan ada yang 20 atau 21 tahun. Jadi (jaringan pipa) yang hadir pertama, semuanya sudah kadaluarsa,” kata Rudi saat berpidato pada acara family day funwalk REI-BTN di Halaman Parkir BP Batam, Minggu (15/1).

Menurut Rudi, saat ini untuk mendapat 1 kubik air bersih hanya membayar sebesar Rp 2.500 saja. Sedangkan air dalam 1 drum dihargai Rp 20 ribu. “Sementara itu, 1 kubik itu kira-kira 5 drum. Jadi sudah tidak sesuai lagi. Saya minta SPAM Batam dan Moya berhitung butuh uang berapa untuk ganti pipa sesuai kebutuhan. Maka didapati angka Rp 4,5 triliun,” katanya lagi.

“Uangnya dari mana, dari kita semua. Ada penyesuaian untuk (tarif) air ini nantiya. Kalau tidak, maka tidak akan selesai. Hidup sana, mati disini, karena tidak mampu,” tegasnya

Persoalan lainnya yang harus segera dibenahi yakni pembaharuan dari Water Treatment Plant (WTP) di masing-masing waduk, yang bertugas memproduksi air bersih dari air baku. “WTP juga tidak mampu produksi air suplai. Pipa air ganti dan WTP juga. Tapi persediaan air sudah cukup, karena pengalihan air masuk Dam Mukakuning. Di Sei Ladi, tidak ada lagi di bawah spillway. Kita akan terus jaga itu,” paparnya (leo).

Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Sebaran

Facebook

id
enid

id
enid