PERHATIAN saya tertuju pada empat lembar kertas hasil ujian pelajaran Kesusastraan yang tergeletak begitu saja di atas meja ruang tamu, pekan lalu. Kertas kerja Zak, anak bungsu saya.
Oleh: Sultan Yohana
SAYA tertarik meraih dan membacanya, saat melihat lembar pertama berupa lima bait penuh puisi “On Turning Ten” karya Billy Collins (saya tak tahu siapa dia). Tiga lembar berikutnya, adalah lembar-lembar kosong yang penuh dengan tulisan tangan Zak. Dia harus menganalisa itu puisi, lalu menuliskan analisanya secara bebas dengan bahasa sendiri menjadi tulisan panjang. Yang runut dan enak dibaca.
Membaca tulisan Zak, saya sempat heran sendiri. Bagaimana dia bisa berimajinasi sedemikian panjang dan cukup baik untuk bocah kelas 2 SMP? Jangan-jangan, dia suka melamun sebagaimana yang disuka bapaknya? Hehehe.
Tentu saja saya tahu cukup banyak bagaimana rumitnya proses dalam mengapreasiasi sebuah puisi. Itu yang mendasari keheranan saya pada tulisan Zak. Saya kuliah di Sastra Indonesia, dan mengapreasiasi puisi adalah salah satu mata kuliah yang kami pelajari dengan intens. Saya menyukai mata kuliah ini, karena ada kebebasan di dalamnya. Kita dibolehkan berimajinasi seliar yang kita inginkan, tanpa peduli dibenar-salahkan. Ada perdebatan.
Ada permainan logika. Serta ada kejelasan yang “cetho welo-welo”, mahasiswa mana yang gemar membaca dan mana yang tidak. Mahasiswa mana yang suka melamun, dan mana yang cuma mikirin pacaran. Di mata kuliah Apresiasi Puisi (Sastra), setiap mahasiswa tidak bisa membohongi kemampuannya sendiri.
Setiap pengapresiasi puisi (sastra), otak memang mereka harus terisi penuh dengan imajinasi-imajinasi yang dipanen dari buku-buku atau pengalaman apa pun mereka. Imajinasi-imajinasi itu akan bisa tertata dengan baik dan pada akhirnya bisa menjadi tulisan yang enak dibaca, jika logika yang mereka punya: runut atau benar dalam prosesnya. Ini sulit.
Terbukti, banyak orang pandai bicara, tapi disuruh menulis satu paragraf saja, tak karuan apa yang ditulisnya. Saat kuliah, bahkan, banyak kawan-kawan saya yang mahasiswa sastra, tak mampu membuat tulisan, sepanjang yang ditulis Zak.
.
Di Singapura, salah satu pelajaran WAJIB anak SMP adalah Kesusastraan (Humanities: bersama Geografi dan Sejarah). Tiga lainnya adalah Bahasa (Inggris dan Bahasa Daerah atau mother tongue), Matematika, serta IPA. Empat pelajaran ini, diajarkan secara intensif selama SMP yang empat tahun (lima tahun jika pelajarnya menempuh jalur normal).
Saya tidak heran, kenapa Kesusastraan menjadi salah satu pelajaran wajib di tingkat SMP Singapura, terpisah dari pelajaran Bahasa. Kesusastraan menawarkan hal yang tidak ada di pelajaran lainnya, termasuk Bahasa. Yakni kemampuan berlogika yang runut/baik, kebebasan berimajinasi, dan bisa menghaluskan perasaan.
Logika yang baik dan imajinatif ini; adalah MODAL DASAR sebuah negara bisa berkembang maju.
Kesusastraan di Indonesia, selama ini secara sempit hanya “diterjemahan” sebagai karya-karya sastra semata. Seperti novel, cerpen, atau puisi. Pelaku sastra, juga penikmatnya; terbiasa dan bangga memperoleh status tinggi di dalam strata masyarakat Indonesia, dan dianggap sebagai “cendikiawan-cendikiawan” yang harus dihormati.
Status ini, menurut saya, justru menjadi jebakan yang kemudian membuat para pelaku sastra hanya fokus pada karya-karya yang terlihat: novel, kumpulan cerpen/puisi. Karya sastra yang telah dicetak berkali-kali, dianggap sebagai kesuksesan paripurna. Padahal sastra, sebagaimana yang telah diejawantahkan Singapura, adalah salah satu alat terbaik untuk MEMBANGUN BANGSA.
Sebait lagu tercipta karena imajinasi. Seonggok robot pembersih lantai, bisa terwujud dari imajinasi dan logika. Begitu pula saat membangun bandara, membangun gedung-gedung tinggi, jalan raya, jembatan, membangun sekolah, membentuk sistem pemerintahan, bisnis, perdagangan; semua memerlukan imajinasi dan logika yang baik.
Logika yang baik dan imajinasi yang terukur, juga mampu menghindarkan sebuah masyarakat dari prilaku-prilaku tak terpuji seperti korupsi, gemar menipu, atau tidak sabaran. Karena mereka tahu, perilaku-perilaku ini, akan merusak masyarakat. Masyarakat dengan logika yang baik, tentu tidak ingin menjadi masyarakat yang rusak.
Kita kerapkali memandang sebelah mata pada bocah-bocah yang gemar membaca komik. Ketika melihat remaja yang suka membaca novel, kita kerap memandangnya sebagai kegiatan tak bermanfaat. “Daripada novel, kan lebih baik belajar Quran,” begitu biasanya logika berkata. Padahal, untuk memahami Kitab Suci, kita harus punya logika yang baik, dan itu bisa didapat dari sastra. Kementerian Pendidikan Singapura tentu punya alas an yang SANGAT KUAT untuk menempatkan Kasusasteraan sebagai pelajaran utama di SMP. Bukan pelajar komputer, bahkan bukan pelajaran agama.
Apakah Singapura bisa semaju sekarang karena jasa sastra? Saya yakin, itu salah satu penyebabnya. Karena itu, ketimbang terus menerus berkeluh-kesah mempersoalkan kualitas guru anak-anak Anda yang buruk, alangkah baiknya menyediakan buku-buku sastra di rumah Anda, agar anak-anak Anda terbiasa membaca buku-buku sastra.
Membiasakan anak-anak kita berlatih berlogika dengan baik, juga berimajinasi dengan bebas. Agar kelak, ketika besar, mereka bisa memilih mana pemimpin-pemimpin yang bisa memajukan bangsa. Atau setidaknya, tidak tertipu memilih pemimpin seperti sekarang ini.
Mencintai sastra, tidak berarti Anda harus jadi sastrawan. Mencintai sastra adalah ikhtiar kita untuk bisa sehat berlogika.
(*)
Penulis/ Vlogger : Sultan Yohana, Citizen Indonesia berdomisili di Singapura. Menulis di berbagai platform, mengelola blog www.sultanyohana.id


