USULAN nama-nama simpang di Batam yang diambil dari nama tokoh dalam sejarah dan kearifan tempatan, ada potensi bikin bingung warga Batam jika disahkan secara resmi oleh pemerintah.
Oleh: Bintoro Suryo
LAZIMNYA, penamaan simpang di banyak wilayah, mengikuti penyebutan nama jalan. Atau, mengadopsi penanda βcheck pointβ yang familiar di sekitarnya. Penamaannya tidak berdiri sendiri.
Biasanya juga, bukan sesuatu yang βurgentβ untuk diresmikan pemerintah. Lokasi-lokasi persimpangan itu cuma sebagai penanda βcheck pointβ bagi warga yang melintas. Sepanjang namanya baik, lugas, gampang diingat serta jelas. Berbeda halnya dengan penamaan ruas -ruas jalan yang memang ditetapkan pemerintah.
Persimpangan yang dibuat jadi bundaran, seperti misalnya bundaran HI di Jakarta. Disebut begitu karena dekat dengan Hotel Indonesia (HI). Atau, ‘Simpang Lima‘ di Semarang dan Bandung; disebut begitu dan familiar bagi orang karena simpangnya merupakan pertemuan dari 5 ruas jalan. Orang Jakarta juga sangat familiar, misalnya dengan nama βSimpang TB Simatupangβ saja untuk menyebut persimpangan yang berada di sekitar jalan TB Simatupang.
Di Batam, selain βSimpang P*nt*k‘ dan beberapa nama simpang lain yang dianggap berkonotasi negatif, hampir semua penyebutan oleh warga, biasa didasarkan pada penanda yang ada atau pernah ada di sekitarnya.
Misalnya ‘Simpang Indomobil‘ di Baloi karena berada dekat Showroom Indomobil, ‘Simpang Kuda‘ di Sei Panas karena ada patung Kuda di situ. Yang lain misalnya; ‘Simpang Ramco‘, juga di Sei Panas. Dulu pernah ada βcheck pointβ penanda nama βRamcoβ di sekitarnya, yaitu plang nama untuk menara telekomunikasi milik PT. Ramco.
DRAFT usulan nama-nama baru untuk persimpangan di Batam, sudah beredar di masyarakat. Di banyak pemberitaan media, ada yang menulis 45 usulan, 46 dan 24 nama usulan baru. Sebuah poster digital yang saya baca, jumlahnya 21 usulan nama. Bukan soal jumlah. Tapi, saya kuatir, nama-nama baru yang diusulkan itu malah bikin bingung orang.
Seperti misalnya; usulan nama simpang Opu Daeng Kamboja untuk mengganti sebutan yang sudah familiar di masyarakat; Simpang KDA, Batam Kota. Sebuah pertigaan antara jalan utama; Jenderal Sudirman yang mengarah ke bundaran Kabil dengan ruas jalan Raja Isa dekat SPBU KDA. Rasanya aneh, ada nama baru di situ; Simpang Opu Daeng Kamboja untuk lokasi di antara jalan Jenderal Sudirman β Raja Isa?!
Padahal, nama; Daeng Kamboja justeru telah disematkan dan dikenal masyarakat sebagai nama salah satu ruas jalan lain di Batam Centre; menghubungkan ruas jalan Raja Haji Fisabilillah dengan ruas jalan Gurindam (dekat One Mall Batam). Penyematan nama βSimpang Daeng Kamboja‘ untuk mengganti nama : Simpang KDA, apa tidak justeru membingungkan warga?
Kuatir juga membuat bingung aplikasi Google Map saat digunakan. Akurasinya terpecah karena ada nama yang sama di dua lokasi berbeda dalam sebuah wilayah.
Nama βSimpangnyaβ ada di antara jalan Jenderal Sudirman β Raja Isa di kelurahan Baloi Permai. Tapi, nama ruas jalannya ada di kelurahan Teluk Tering?! Ini bikin bingung.
Jika ingin mengganti nama Simpang KDA (sebenarnya sudah cukup baik dan tidak berkonotasi negatif, pen.), kenapa bukan menjadi βSimpang Sudirmanβ atau βSimpang Raja Isaβ saja? Yang memang sudah identik sebagai nama ruas jalan di sekitarnya?
USULAN penamaan bundaran di wilayah Batu Ampar untuk dinamai βBundaran Raja Isaβ, rasanya juga aneh.
Selama ini, nama itu sudah melekat sebagai nama ruas jalan yang membentang mulai dari βSimpang KDAβ hingga kawasan Megamal di Batam Centre. Lantas tetiba jika disetujui, ada nama βRaja Isaβ lagi di Batu Ampar?!
Bagi saya, ini membingungkan. Apalagi di era serba digital sekarang. Google Map sering jadi acuan orang untuk menemukan lokasi. Dan juga pada beberapa tahun mendatang, saat moda-moda transportasi kita sudah sepenuhnya digital; untuk menuju lokasi tujuan cukup menyampaikannya saja alamat lokasi pada fitur pengendali otomatis di kendaraan. Apa justeru tidak bikin salah arah?
Rasanya, lebih bermanfaat jika kita mendorong pemerintah untuk lebih melengkapi nama-nama ruas jalan di Batam yang masih banyak belum bernama. Dengan usulan nama-nama yang baik, juga usulan kearifan lokal menggunakan nama tokoh atau nilai budaya tempatan.
SAYA membayangkan situasi-situasi yang mungkin terjadi saat usulan tersebut, misalnya disetujui. Mungkin ada kebingungan warga, seperti dalam dialog -dialog imajinasi berikut:
A: Tau perumahan KDA?
B: Oh, dari simpang Opu Daeng Kamboja, belok kanan, terus begitu sampai simpang mahkota alam, belok kanan lagi. Nanti keliatan perumahannya di sisi sebelah kanan.
A: ?!?!?!? Bukannya jalan daeng Kamboja dekat one mall Batam Centre?? Simpang Daeng Kamboja dekat mananya?
B: itu loh, simpang KDA
A: @#$#@#$$$$
A: Mo kemana, pak?
B: antar saya ke simpang junjungan budaya
A: dimana itu?
B: itu loh, simpang p*nt*k
A: bang, ke Engku Putri ya. Sesuai aplikasi
B: oke, bg
β¦ just a few minutes β¦
B: udah sampai, bg
A: Lah, dimana ini?
B: Bundaran Engku Putri, kan? Simpang Base Camp?!
A: Bukan!! Maksud saya itu ke Alun-alun Engku Puteri, Batam Centre!
B: Lho, pesannya sesuai aplikasi ke sini!
A: Aduh, LAAAAMMMMM @#$#@
(*)
Penulis/ Videografer: Bintoro Suryo β Ordinary Man. Orang teknik, Mengelola Blog, suka sejarah & Videography.
Artikel ini diterbitkan sebelumnya di: bintorosuryo.com


