Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Hingga 3 Hari Ke Depan, Tanjungpinang Diperkirakan Diguyur Hujan
    2 jam lalu
    Sistem Imigrasi Malaysia Lumpuh, Ribuan Pelancong Terjebak Antrean Panjang
    2 jam lalu
    Harga Emas Antam dan UBS di Pegadaian Batam Melejit Sabtu Ini
    4 jam lalu
    Pria Mengaku Dibegal, Ternyata Rekayasa Usai Menyayat Tangan Sendiri
    4 jam lalu
    Ribut di THM, Anggota Polresta Tanjungpinang Dipatsus
    4 jam lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Libatkan RT/RW, Pengelolaan Sampah dengan TPS Komunal di Batam
    3 jam lalu
    SPMB Kota Batam 2026/2027 Dibuka Lebih Awal: Jalur Afirmasi Mulai 8 Juni 2026
    2 hari lalu
    “Kuala Dai 1872; Bertemu Sultan Riau Lingga”
    3 hari lalu
    27 Atlet Pelajar Kota Batam Ikuti Seleksi O2SN Cabor Panjat Tebing
    5 hari lalu
    Como 1907 Lolos Liga Champions Eropa, Klub Emil Audero Degradasi ke Serie B
    6 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Data Kependudukan Kota Batam 2026
    2 jam lalu
    Data Curah Hujan Tahunan di Batam 10 Tahun Terakhir
    2 hari lalu
    Sultan Abdul Rahman I Muazzamshah (Sultan Riau Lingga Pertama)
    6 hari lalu
    Pulau Kasu, Batam
    2 minggu lalu
    Tabel Ringkasan Inflasi Kota Batam (April 2026)
    4 minggu lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    3 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    4 bulan lalu
    “Kundur & Buru – Pesona dan Tradisi”
    4 bulan lalu
    “Karimun Besar – Harmoni Alam & Budaya”
    5 bulan lalu
    #Full Hendrik; Pujakesuma di DPRD Batam
    10 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

“Menyusur Sungai Bersama Sultan, Terjebak Badai di Gunung Tanda”

Jejak J.E. Teijsmann di Negeri Segantang Lada (Bagian 5)

Editor Admin 1 jam lalu 100 disimak
Gunung Sepincan (Sipientjan) terlihat dari kejauhan. © F. Ist.

“Awalnya, sultan memulai perjalanan ini dengan memakai sepatu bersemir yang rapi. Tapi, beberapa saat kemudian, ia terpaksa melepaskannya dan melanjutkan perjalanan dengan kaki telanjang.”

Daftar Isi
Perjalanan ke Bukit Air AtapBersama Sultan, Menyusur Alur Sungai SipientjanMenuju Gunung TandaDi Puncak, Terjebak Badai Guntur Dahsyat

…

“Sultan sebenarnya tidak ingin pergi lebih jauh lagi. Ia ingin perjalanan dicukupkan hingga di kampung ini saja. Jalan setapak selanjutnya, hampir tertutup rapat dan harus berjalan melalui rawa-rawa …”

…

“… perkiraan kami salah besar. Sekitar pukul 2 malam, saya terbangun karena ada aliran air hujan dari atap kajang yang kami bangun. Ternyata, sekarang kami sedang berada di tengah badai guntur yang dahsyat.” (J.E. Teijmann – Natuurkundig Tijdschrift Voor Netherlandsch Indie, Zevende Series, Deel IV’ tahun publikasi 1874)

Oleh: Bintoro Suryo


SEPTEMBER 1872, J.E. Teijsmann mencatat perjalanan panjangnya menembus jantung Pulau Lingga bersama Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah II (Periode 1857 – 1883) dan rombongan. Mereka menempuh medan berlumpur di Bukit Air Atap, hingga menyusur alur Sungai Sipientjan serta Panga untuk merancang sistem irigasi bagi rencana pembuatan areal persawahan baru.

Rombongan Teijsmann juga sempat terjebak badai guntur dahsyat di atas puncak gunung Tanda selama beberapa jam; memaksa seluruh anggota rombongan untuk terus bertahan hingga fajar menyingsing.

Catatan perjalanan ahli Botani, J.E. Teijsmann bagian 5 ini, banyak mengupas kisah perjalanannya di hutan-hutan belantara pulau Lingga hingga di pegunungan Dai, Sepincan (Sipientjan) serta gunung Tanda.

Di balik ambisi Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah untuk membuat petak-petak sawah di Lingga sebagai sumber pangan masyarakat, catatan yang dituliskan ahli Botani, J.E. Teijsmann ini merupakan potret persinggungan antara kekuasaan, ilmu pengetahuan, dan alam liar yang belum terjamah.

Simak bagian ke-5 ini.

Perjalanan ke Bukit Air Atap

PADA tanggal 5 September 1872, saya berjalan-jalan ke Bukit Air Atap. Jalan ke sana sama buruknya seperti yang ke Bukit Sipientjan. Bukit ini terletak di lereng pegunungan Dai, dan menurut perkiraan setinggi kira-kira 1500′ dan berjarak kira-kira 5 pal dari ibu kota.

Awal jalur berada di sebelah barat Sungai Dai, melalui medan bergelombang rendah hingga ke tempat yang dinamai orang; Ladang-gambir. Di mana-mana di sini, memang banyak ladang gambir. Ladang-ladang di sini, tampaknya merupakan ladang hasil pembukaan dari wilayah lain. Tempatnya terletak tepat di tepi kanan Sungai Dai. Di tengah jalan ke tempat ini, kami telah melewati Sungai Sepan kecil dengan air jernih yang bermuara ke Sungai Dai.

Ilustrasi, pemandangan kaki pegunungan Daik Lingga. © F. Ist.

Dari ladang-gambir, jalan setapak kebanyakan menanjak curam sampai ke puncak Bukit Air Atap, lalu turun di sisi sebelahnya yang lebih curam ke bawah. Orang bercerita kepada saya, jalur ini akan menuju ke titik tertinggi yang dapat dicapai dari Gunung Dai.

Sebelum mencapai hutan yang benar-benar perawan, orang masih menemui beberapa tempat yang landai. Sebagian masih ditanami gambir dan sebagian lain sudah ditinggalkan dan kembali berubah menjadi belukar.

Budidaya gambir di sini dijalankan oleh orang Melayu, berbeda dengan di tempat lain, di mana kebanyakan dilakukan oleh orang Tionghoa. Orang Melayu menanam tanaman gambir jauh lebih rapat dan tidak teratur dibanding orang Tionghoa. Cara pengolahan gambir mereka juga berbeda dari orang Tionghoa. Orang Melayu tidak membuat balok-balok persegi untuk tempat menanam Gambir mereka, tetapi berbentuk datar persegi yang lebih besar.

Setelah melalui ladang Gambir terakhir, kami memasuki hutan belantara. Kondisinya menjadi semakin curam sampai ke titik tertinggi. Seluruh wilayah di sini, ditutupi batang pohon besar, kebanyakan dari jenis kayu yang paling kuat. Di antaranya generasi yang sedang tumbuh, dengan semak dan jenis-jenis rotan, mengisi ruang-ruang kosong. Pohon kamper di sini juga berlimpah dengan batang raksasa.

Dari Getah perca, saya juga melihat sejumlah besar pohon muda. Saya menemukan beberapa tanaman di antaranya. Namun, tumbuhan asing yang menarik perhatian saya, belum ditemui.

Pada pendakian semacam ini, tentu banyak tetes keringat yang keluar. Termasuk pakaian saya yang hampir seluruhnya sudah basah kuyup oleh keringat. Ditambah lagi lumpur dan rumput serta semak basah, hampir tidak ada bagian pakaian kami yang bisa dikatakan kering. Untungnya cuaca cukup bersahabat.

Hujan baru mulai turun saat kami tiba kembali ke Ladang-gambir.

6 September 1872, cuaca indah.


PADA tanggal 7 September, Datoe Stia Aboe Hassan berangkat dengan sebuah sampan panjang ke Indragiri. Kabar yang saya dapat kemudian, ia diterjang gelombang laut yang tinggi dan hampir tenggelam.

Tanggal 9 September 1872, saya punya jadwal untuk melakukan perjalanan bersama Sultan dengan berjalan kaki. Namun karena sepanjang malam hujan deras dan langit pada pagi hari masih mendung, kami mengurungkannya sampai waktu yang lebih baik. Hujan susul-menyusul sepanjang hari, matahari tidak terlihat. Baru pada sore hari, Sultan datang mengunjungi kami dengan berkuda.

Pada 10 September 1872, malam hari hujan lebat. Pada pagi hari berikutnya, langit masih berawan. Tetapi kemudian, cuaca akhirnya cerah. Sore harinya, Sultan mengirimkan kepada kami sebuah kereta dengan penarik seekor kuda Isabel yang indah. Dengan kereta itu kami pergi mengunjungi Y.M. Sultan.

Bersama Sultan, Menyusur Alur Sungai Sipientjan

TANGGAL 11 September 1872. Sesuai janji dengan Sultan dan tuan Goldman, kami bertemu pagi hari sekitar pukul 7 di kampung Sipientjan. Sultan baru tiba sekitar pukul 8. Kami kemudian segera memulai perjalanan. Jalur jalan yang akan kami lalui, katanya telah dirapikan untuk memudahkan. Tapi, itu sebenarnya cuma menebas beberapa semak. Kondisinya tidak lebih baik daripada ketika saya melakukan perjalanan pada tanggal 30 Agustus 1872 kemarin.

Foto Sultan van Lingga en Riouw, Sulaiman Badrul Alamsyah II. © Arsip Leiden University

Awalnya, sultan memulai perjalanan ini dengan memakai sepatu bersemir yang rapi. Tapi, beberapa saat kemudian, ia terpaksa melepaskannya dan melanjutkan perjalanan dengan kaki telanjang.

Pada suatu titik jalan setapak, kami menemukan pertigaan; satu menuju ke Bukit Sipientjan dan alur kanan mengarah ke Panga. Kami memilih jalur yang terakhir. Jalan setapak ini, sebebarnya mengarah hingga ke Resun, dan selanjutnya sampai ke pantai utara di Semarong. Tetapi karena ada sebuah rawa, jalur ini tidak dapat menembus ke Resun atau Semarong.

Setelah lewat beberapa jam, kami tiba di Kampung Panga, yang hanya terdiri dari empat buah rumah. Kampung ini terletak kira-kira 4 pal dari Dai. Sementara itu mulai hujan, sehingga kami berteduh sebentar dan memanfaatkan kesempatan untuk menyantap makan siang kami.


SULTAN sebenarnya tidak ingin pergi lebih jauh lagi. Ia ingin perjalanan dicukupkan hingga di kampung ini saja. Pertimbangannya, jalan setapak selanjutnya hampir tertutup rapat dan harus berjalan melalui rawa-rawa serta kubangan lumpur. Tetapi kami bersikeras untuk tetap melanjutkan perjalanan hingga kira-kira satu pal dengan menelusuri ke arah hulu Sungai Panga.

Akhirnya, perjalanan ini memang harus berhenti. Bagaimanapun upaya yang kami lakukan untuk menembus jalur, tetap tidak berhasil. Tidak ada lagi jalan setapak. Sejauh kami mengikuti aliran sungai, alirannya membentuk sudut kemiringan yang lumayan dan mengarah ke kaki pegunungan Sipientjan.

Di lokasi ini, Sultan menginginkan aliran sungai Panga yang mengarah ke sisi timur dan sebenarnya bersumber dari mata air yang sama di kaki gunung Sipientjan dengan sungai Trentang, bisa disatukan. Dengan begitu, rencana budidaya sawah di wilayah ini bisa diwujudkan.

Medan yang membentang sampai ke laut ini — membentuk satu kesatuan dengan dataran di kaki pegunungan Dai. Dahulu, sebenarnya sudah pernah berfungsi sebagai ladang padi. Di bagian atasnya, masih terdapat banyak kelompok pohon buah-buahan yang semuanya masih dimiliki oleh penduduk, meskipun mereka tidak menetap di sana.

Sekarang, lokasi ini telah berubah kembali menjadi belantara. Dataran ini terdiri dari tanah lempung gemuk dengan lapisan humus di atasnya serta tidak berawa. Jika diolah dengan tepat, akan cocok untuk segala budidaya tanaman.


PERJALANAN kami telah menempuh alur dari barat ke timur dari aliran sungai-sungai yang bersumber dari gunung Dai dan Sipientjan. Berikut sungai yang catat: Sungai Tanda yang memiliki muara sendiri ke laut. Sungai Dai dan Sungai Sipientjan – yang terakhir di hilir jatuh ke Sungai Dai dan yang bersatu – merupakan sungai utama. Dan terakhir adalah Sungai Panga dan Sungai Trentang, yang memiliki muara sendiri ke laut.

Sungai Tanda dalam peta Kepulauan Lingga masa lalu. © Arsip perpustakaan Leiden

Yang terakhir tidak kami kunjungi. Sungai Trentang itu, sepertinya tidak terlalu penting.

Kelima sungai ini, yang dua pertama bersumber dari pegunungan Dai, dan tiga terakhir dari pegunungan Sipientjan, jika dikelola di bawah pengaturan yang tepat, akan menghasilkan air yang cukup untuk mengairi sawah-sawah yang akan dibuat di dataran. Luas sawah yang direncanakan di wilayah dataran, belum bisa kami tentukan.Tetapi saya tidak ragu, jika ini diwujudkan, setidaknya akan ada seribu petak sawah dapat dibangun di sini.

Gunung Sepincan (Sipientjan) terlihat dari laut. © F. Ist.

Sekitar pukul 2 sore, kami akhirnya kembali. Sultan tampak kelelahan. Tapi, hujan mendadak turun kembali dengan deras. Kami terpaksa mencari tempat berteduh di sebuah rumah pribumi. Baru pada pukul 5 sore, kami khirjya bisa tiba kembali di rumah dengan basah kuyup.

Perjalanan ini hanya memberikan saya sedikit tumbuhan baru. Tapi saya mendapatkan tumbuhan Castanopsis (Berangan) dan sebuah Chlorantacea, Sarcandra.


PENDUDUK daerah ini tampaknya sebagian besar berasal dari Bangka: leluhur mereka pada masa pemerintahan despotik Sultan-Sultan Palembang. Cerita yang saya peroleh, sejumlah 700 orang sekaligus pindah ke sini pada masa lalu. Mereka mungkin adalah penanam kebun-kebun buah yang sekarang masih tersebar di mana-mana, tetapi terabaikan dan menjadi hutan. Dimana hasil buahnya masih dinikmati oleh keturunannya.

Pada 12 September 1872, langit berawan, tetapi hanya sedikit hujan. Tanggal 13 September, cuaca seperti kemarin, tetapi lebih banyak hujan.

Menuju Gunung Tanda

TANGGAL 14 September 1872, kami memulai perjalanan lagi pada pukul 7 pagi. Dalam perjalanan sekarang, ada 24 warga penunjuk jalan dan pemikul yang ikut dalam rombongan.

Perjalanan kali ini adalah menuju puncak Gunung Tanda, sebuah puncak gunung yang terdekat, berbatasan dengan Gunung Dai. Tingginya sekitar 5000 kaki. Dilihat dari ibu kota, gunung Tanda hampir sejajar dengan tinggi Gunung Dai. Tetapi di kejauhan, di laut, orang bisa melihat bahwa gunung itu memiliki puncak yang lebih rendah dibanding gunung Dai.

Kami mengikuti jalan yang sama, yang kami lalui pada tanggal 27 Agustus 1872 untuk penyelidikan sungai Tanda sampai sedikit lebih tinggi. Lokasinya berada di atas bongkahan batu besar dan kecil dan dicapai setelah menyeberangi Sungai Tanda.

Sekarang, kami berada di tepi sebelah kiri. Setelah perjalanan sejauh ini dan melewati hutan belantara yang masih perawan, akhirnya kami kembali disergap hujan lebat. Namun, rombongan telah mempersiapkan dengan membawa tikar kajang untuk berteduh dan tempat bermalam kami.

Tikar-tikar itu kami dirikan menjadi tenda setelah hujan reda. Setelah selesai, kami segera melewati sungai dan mengikuti alirannya sampai beberapa jauh menanjak. Informasi dari anggota rombongan, ada sebuah air terjun yang menarik.

Airnya mengalir dari atas dan tumpah ke dasar batu karang yang padat, menciptakan suara bergemuruh dengan kekuatan menggelegar. Kemudian perlahan, mengalir kembali melalui aliran-aliran sungai di sekitarnya.

Lebih ke hulu, dilihat dari Bukit Cengkeh, ada dua aliran lain terlihat. Salah satunya membagi diri dalam tiga cabang lagi, seperti pita-pita perak meluncur ke bawah, dan tercurah ke dasar Sungai Tanda.


KAMI tersesat dan kehilangan jalan setapak karena melihat air terjun. Sekarang, kami coba menembus semak-semak untuk mencari kembali jalur setapak yang tadi kami lalui.

Setelah menempuh jarak lebih satu pal dengan kondisi terus-menerus mendaki curam; perjalanan kami sampai ke hutan perawan yang sama berlumpurnya seperti pada perjalanan terdahulu. Selanjutnya, alur di pegunungan menjadi sangat licin dan kebanyakan tertutup akar pohon yang tidak teratur. Kami harus sangat waspada agar tidak tergelincir atau tersandung.

Akhirnya, kami menemukan jalur setapak walaupun begitu sempit terjepit di antara massa batu dan curam. Berkali-kali pakaian kami tersangkut pada daun Rotan yang berduri serta cabang-cabang yang tegak lurus dari semak Resam di sekitarnya. Batuan yang mendasari lereng curam gunung ini juga makin kelihatan. Kadang-kadang, kami lebih harus memanjat daripada berjalan.

Ilustrasi, Pemandangan di pegunungan Daik, dengan vegetasi tumbuhannya. © F. Ist.

Tumbuhan yang tumbuh di lereng gunung ini, mulai banyak didominasi jenis lumut, paku dan semak. Ada juga beberapa pepohonan dengan ketinggian lebih rendah.

Karena kami berjalan lambat dan sering berhenti untuk memulihkan paru-paru dan perut dan sekaligus melakukan kegiatan inventarisasi tumbuhan, baru pada pukul 12 siang lebih, kami tiba di titik tertinggi gunung ini. Konturnya hanya terdiri dari punggung yang sempit, sama seperti punggung gunung pada umumnya. Lebar punggungannya tidak lebih dari satu roede. Kemudian, di kedua sisi hampir tegak lurus turun ke jurang.

Catatan:
Roede adalah satuan ukuran panjang Belanda masa lalu. Mirip “depa” atau “fathom”. Roede = “tongkat ukur” Belanda, 1 roede = sekira 3,77 meter.

Sebelum kami mencapai puncak, kami harus melewati sisi gunung yang gundul dan curam. Namun, pemandangan dari sana indah. Kami bisa melihat aliran Sungai Tanda dari kejauhan, seperti ular perak raksasa dari kaki gunung hingga mengarah ke Bukit Cengkeh.

Di puncak, kami melihat ke arah timur laut, terlihat beberapa pulau. Sementara di sisi barat daya, terlihat pemandangan gunung Sipientjan yang seluruh bentangannya tertutup hutan yang indah. Gunung Dai berdiri megah lebih tinggi di dekat kami, tetapi dipisahkan oleh jurang yang dalam.

Di pantai utara, kami melihat beberapa pulau kecil, dan perahu-perahu terdampar di pantai. Sementara di sisi selatan kami, karena hutan, sekarang tidak dapat melihat apa-apa. Sama halnya seperti dari arah sisi barat.

Puncak gunung ini sempit dan terpotong oleh parit dan ceruk genangan air serta batu padat di bawahnya. Orang sulit bergerak dengan kaki kering. Terlebih karena vegetasi dan atmosfer sekitarnya juga lembap. Tumbuhan yang hidup adalah dari jenis yang lebih rendah seperti lumut dan paku.

Aktifitas kami selanjutnya di puncak gunung ini adalah mengumpulkan sampel tumbuhan.

Di Puncak, Terjebak Badai Guntur Dahsyat

KAMI harus memikirkan tempat bermalam. Untuk itu kami membersihkan permukaan kecil, meratakan tanah, menebang balok dan mendirikan tiang. Di atasnya, kami membentangkan tikar kajang seperti atap dan dengan demikian kami berada di bawah naungan sebelum malam tiba.

Ilustrasi, Punggung pegunungan Dai yang sempit dan curam. © F. Ist.

Setelah makan malam, kami berbaring untuk beristirahat. Saya telah membawa ranjang lapangan (sejenis Hammock), yang di sini sangat berguna. Sementara Tuan Goldman telah menyuruh dibuatkan balai-balai untuk dirinya, di atasnya ia dengan tikar tidur nyenyak. Cuaca selanjutnya tetap baik, sehingga kami mengira akan dapat melewatkan malam dengan tenang.

Tetapi, perkiraan kami salah besar. Sekitar pukul 2 malam, saya terbangun karena ada aliran air hujan dari atap kajang yang kami bangun. Hujan begitu deras. Aliran air itu tepat menimpa saya. Saya sempat memindahkan tempat tidur saya sedikit, tetapi sudah terlambat. Semuanya telah basah kuyup. Terpaan angin juga bertiup kencang dari segala penjuru.

Ternyata, sekarang kami sedang berada di tengah badai guntur yang dahsyat.

Kilat begitu terang dan berkilauan, seolah-olah di dekat kami langsung, disertai guntur yang menggelegar. Kondisinya seperti sambung-menyambung dan bersahutan hingga menjelang pagi. Matahari tidak bisa kami saksikan karena tertutup dalam awan. Hanya fajar tanggal 15 September 1872 terbit sangat samar, terlihat dari puncak gunung ini.


HARI tidak benar-benar cerah. Awan tetap menyelubungi kami. Untungnya, kami tidak menderita kedinginan. Termometer Fahreinhet tidak turun lebih rendah dari 70°. Pada pukul 9 pagi, kami memutuskan untuk meninggalkan tempat yang tidak ramah ini. Namun, kami tidak bisa lolos begitu saja dari massa awan ini, sebelum turun cukup jauh ke bawah.

Jalur yang kami lewati sekarang, menjadi lebih sulit dilalui. Hujan telah menyebabkan berlumpur dan licin. Kami perlu mengerahkan segala kekuatan otot di kaki untuk menuruni alur curam ini. Saya sempat tergelincir sekali yang menyebabkan tubuh terperosok hingga 10 langkah ke bawah. Bukan hanya Saya yang harus mengalami hal konyol seperti itu, tetapi juga anggota rombongan yang lain.

Pada pukul 3 sore, kami akhirnya berhasil tiba kembali dengan selamat di rumah. Jarak dari ibu kota sampai ke puncak gunung ini kami taksir sekira 8 sampai 9 pal. Vegetasi di puncak, seperti sudah disebutkan, tidak selebat di bagian bawah. Kondisinya bukan karena ketinggian. Tetapi pada keadaan bahwa tumbuhan di sini seluruhnya terbuka pada semua angin.

Keanekaragamannya cukup penting. Tetapi sedikit berbeda dari jenis-jenis yang tumbuh lebih ke bawah. Saya tidak melihat di sana satu pun tumbuhan dari keluarga Ericaceae atau Vaccineae, seperti yang biasa ditemukan di puncak gunung yang kurang tinggi. Sebaliknya tumbuh di sana di antara vegetasi campuran, banyak Leptospermum Amboinense dan sebuah pohon kecil yang indah dari jenis Podocarpus (Disticha).

Sangat menarik bagi saya juga adalah sejenis paku: Polypodium atau Actinopteris, (Paku Seruas) dalam bentuk Polypodium Dipteris. Batangnya tidak lebih tebal dari batang pipa dengan panjang 5 sampai 10 kaki. Payung daunnya terbagi dalam 20 sampai 50 daun yang panjang tapi sempit. Terlihat anggun, membentuk lingkaran pada tangkai. Di satu sisi, di mana lingkaran tertutup, memendek dengan sebuah lubang berbentuk jantung.

Pada jenis yang lebih kecil, memiliki beberapa kesamaan dengan yang disebut di atas. Saya menemukannya di bawah, di sekitar aliran Sungai Sipientjan. Jenis yang ini tidak kalah anggun. Payungnya terbagi berulang secara teratur, sedemikian rupa sehingga pada tangkai pertama, membelah menjadi dua. Dari 2 bagian ini, muncul 4, kemudian 8, lalu 16, sampai berakhir di 52 ujung atau daun.

Panen tumbuhan kali ini cukup penting, dibanding sampel yang sebelumnya telah saya kirim saat di Riouw ke Kebun Raya Negara di Buitenzorg.

Berbeda dengan jenis tanaman, wilayah pegunungan di pulau Lingga miskin jenis hewan. Sepanjang perjalanan, jarang terlihat burung. Apalagi hewan berkaki empat. Babi hutan hanya terdapat di wilayah hutan yang lebih rendah. Sementara jenis Moschus Napu, bisa bertahan hidup sampai ke pegunungan tertinggi.

Kami sempat menjumpai beberapa perangkap kancil yang dipasang penduduk dalam perjalanan. Tetapi, sepertinya sudah lama tidak disentuh. Semuanya umpan makanan yang kami temui pada perangkap-perangkap tersebut telah membusuk. Seorang penunjuk jalan kami bernama Kottol, dari kampung Marawang menceritakan bahwa ia sendiri kadang-kadang melakukan perburuan itu. Rusa atau Kidang tidak terdapat di kepulauan ini, kecuali mereka didatangkan dari tempat lain. Seperti yang ada di pulau Singkep dan pada masa dulu di Lingga. Namun, di pulau ini, keberadaannya sudah tidak ada lagi karena maraknya perburuan.

(*)

Bersambung

Penulis/ Videografer: Bintoro Suryo – Ordinary Man. Orang teknik, Mengelola Blog, suka sejarah & Videography. 
Artikel ini diterbitkan sebelumnya di: bintorosuryo.com

Kaitan daik, Gunung Sepincan, History, lingga, Rhio, Riau lingga, Riouw, sejarah
Admin 30 Mei 2026 30 Mei 2026
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali1
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Data Kependudukan Kota Batam 2026

APA YANG BARU?

Data Kependudukan Kota Batam 2026
Statistik 2 jam lalu 89 disimak
Hingga 3 Hari Ke Depan, Tanjungpinang Diperkirakan Diguyur Hujan
Artikel 2 jam lalu 98 disimak
Sistem Imigrasi Malaysia Lumpuh, Ribuan Pelancong Terjebak Antrean Panjang
Artikel 2 jam lalu 107 disimak
Libatkan RT/RW, Pengelolaan Sampah dengan TPS Komunal di Batam
Lingkungan 3 jam lalu 113 disimak
Harga Emas Antam dan UBS di Pegadaian Batam Melejit Sabtu Ini
Artikel 4 jam lalu 111 disimak

POPULER PEKAN INI

Cetak Hatrick, Persib Bandung Jawara Indonesia Super League 2025/2026
Sports 7 hari lalu 708 disimak
Como 1907 Lolos Liga Champions Eropa, Klub Emil Audero Degradasi ke Serie B
Sports 6 hari lalu 670 disimak
27 Atlet Pelajar Kota Batam Ikuti Seleksi O2SN Cabor Panjat Tebing
Sports 5 hari lalu 612 disimak
“Kuala Dai 1872; Bertemu Sultan Riau Lingga”
Histori 3 hari lalu 563 disimak
BBM Subsidi Pertalite: Siapa yang Layak dan Apa Acuannya?
Artikel 3 hari lalu 554 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?