Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Polisi Ringkus 3 Tersangka Jambret di Wilayah Nongsa
    17 jam lalu
    PMII Minta Polisi Periksa Tiga Anggota DPRD Batam
    17 jam lalu
    PN dan Disdukcapil Tanjungpinang Uji Coba Sidang Adminduk di MPP
    20 jam lalu
    Bobol Rumah di Bintan, Dua Tersangka Pelaku Diamankan
    21 jam lalu
    Terlibat Trading Bodong, 92 Warga Tiongkok Dideportasi dan Dicekal Seumur Hidup
    21 jam lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Workshop Literasi untuk Para Ibu untuk Perkuat Karakter Anak
    17 jam lalu
    Kalahkan Inggris 2-1, Argentina Berpeluang Back to Back Juara Dunia
    2 hari lalu
    Dominasi Pertandingan, Matador Spanyol Melangkah ke Final Usai Hentikan Prancis
    3 hari lalu
    Full Big Match, Semifinal Piala Dunia 2026 Laga Antar Para Jawara
    4 hari lalu
    SD-SMP Negeri di Batam Wajib Terima Siswa Berkebutuhan Khusus
    5 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Tun Abdul Jamal (Temenggung Johor Riau 1757 – 1802)
    20 jam lalu
    Realisasi Belanja Pemko Batam per Juli 2026
    2 minggu lalu
    Pulau Los, Tanjungpinang
    2 minggu lalu
    Analisis Data: Kuota Bansos di Batam dan Efektivitas Sistem Bansos Online
    2 minggu lalu
    Mei 2026: Inflasi Sektor Informasi dan Komunikasi Karimun di Angka 0,1 Persen
    3 minggu lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Limas Potong; ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’ (Documentary)
    4 minggu lalu
    “Tanjak Perkasa Alam Karimun”
    4 minggu lalu
    #ComingSoon LIMAS POTONG: ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’
    1 bulan lalu
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    5 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    5 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Seni

Lebah Bergantung (Lebah Bergayut)

Editor Admin 2 minggu lalu 350 disimak

LEBAH bergantung adalah motif hias tradisional Melayu. Motif ini menyerupai sarang lebah madu yang menggantung di dahan kayu. Ini biasanya menghiasi bagian tepi atap rumah adat atau istana.

Daftar Isi
Perspektif PenggunaanPerspektif FilosofiWilayah Penggunaan

Bentuk dasarnya berupa deretan ukiran segitiga atau lengkungan yang berjajar rapi ke bawah. Desain ini terinspirasi dari lebah yang hidup rukun dan bekerja sama.

Motif ini melambangkan kerja keras, kerukunan, dan nilai gotong royong. Sama seperti lebah yang selalu menghasilkan madu manis untuk semua orang, masyarakat Melayu diharapkan bisa selalu hidup rukun dan saling memberi manfaat.

Perspektif Penggunaan

Motif lebah bergantung pada kain.

DALAM arsitektur dan seni kriya tradisional Melayu, motif ini tidak diletakkan di sembarang tempat. Penggunaannya diatur secara adat:

  • Cucuran Atap (Selasari): Penempatan paling utama adalah pada bagian ujung atap rumah adat, istana, atau balai adat. Posisinya sengaja dibuat menjuntai ke bawah seperti sarang lebah asli di dahan pohon.
  • Kain dan Tekstil: Motif ini ditenun sebagai hiasan tepi atau kaki pada kain songket Riau serta pakaian adat resmi Melayu.
  • Benda Fungsional: Diukir pada bagian atas kusen pintu, jendela, sekat ruangan (pembatas tengah rumah), hingga dekorasi pelaminan pengantin Melayu.

Perspektif Filosofi

Motif lebah bergantung pada bangunan rumah

MASYARAKAT Melayu selalu mengambil pelajaran dari alam (alam terkembang jadi guru). Filosofi lebah bergantung merujuk pada teks sastra dan ungkapan adat Melayu lama:

“Lebah bergantung di cucuran atap. Di muka perpagar madu, di belakang pagar manisan. Manisnya cucuran ke bilik dalam. Manisnya rasa merasa, manisnya isap-meisap.”

Ungkapan di atas membawa makna filosofis yang sangat dalam:

  • Sifat Rela Berkorban: Koloni lebah bekerja keras membuat madu bukan untuk diri mereka sendiri, melainkan untuk lingkungan sekitarnya. Hal ini mengajarkan manusia untuk membuang sifat egois dan selalu siap menolong sesama.
  • Kemanfaatan Hidup: Lebah hanya memakan nektar bunga yang bersih dan mengeluarkan madu yang manis. Filosofinya, orang Melayu dituntut untuk selalu mengonsumsi rezeki yang halal, bertutur kata baik, dan kehadirannya mendatangkan manfaat (manis) bagi masyarakat luas.
  • Keadilan Sosial yang Merata: Susunan ukiran yang berjajar rapi melambangkan pembagian hasil yang adil. Kebaikan atau kemakmuran pemimpin (madu) harus menetes secara merata hingga ke bilik-bilik dalam rumah rakyatnya.
  • Kerukunan dan Ketaatan: Lebah hidup dalam organisasi yang sangat tertib, patuh pada pemimpin (ratu), dan kompak membangun sarang. Penempatan ukiran di atap rumah menjadi pengingat agar seluruh penghuni rumah dan kampung selalu hidup kompak, disiplin, dan bergotong-royong.

Wilayah Penggunaan

MOTIF Lebah Bergantung (atau sering disebut Lebah Bergayut) berkembang pesat di wilayah kebudayaan Melayu rumpun Sumatra dan Semenanjung Malaya.

Sebagai salah satu ragam hias utama dalam kebudayaan Melayu, sebaran geografis motif ini meliputi beberapa daerah utama berikut:

1. Provinsi Riau

Provinsi Riau merupakan wilayah di mana motif ini paling subur dan diaplikasikan secara massal pada fasilitas publik hingga pakaian adat. Hal ini tidak lepas dari sejarah daratan Riau yang dahulu kaya akan hutan dan pohon-pohon besar tempat lebah madu bersarang.

  • Kabupaten Kampar: Khususnya di wilayah adat seperti Dusun Pulau Belimbing, motif lebah bergantung dijadikan pedoman hidup bermasyarakat untuk saling menolong dan bergotong royong.
  • Kota Pekanbaru dan Siak: Diaplikasikan secara luas sebagai identitas visual pada lisplang atap gedung pemerintahan, sekolah, gapura kota, hingga ornamen Istana Siak Sri Indrapura.

2. Provinsi Kepulauan Riau (Kepri)

Sebagai wilayah yang kental dengan budaya Melayu Kepulauan, motif Lebah Bergantung jamak ditemukan di lingkungan kesultanan lama seperti di Pulau Penyengat, Tanjungpinang, Lingga, dan Batam. Ragam hias ini menghiasi bagian selasari (selasar) rumah panggung peninggalan pesisir.

3. Provinsi Sumatera Utara (Wilayah Pantai Timur)

Di daerah pesisir timur Sumatera Utara yang berlatar belakang kebudayaan Melayu Deli, Serdang, Langkat, dan Asahan, motif ini juga hidup kuat.

  • Kota Medan: Salah satu contoh paling ikonik yang bertahan adalah ornamen lebah bergantung yang menghiasi struktur bangunan bersejarah Masjid Lama Gang Bengkok di Medan.
  • Kabupaten Labuhanbatu: Motif klasik lebah bergantung secara historis ditemukan menghiasi bagian lisplang Istana Kesultanan Bilah (Negeri Lama).

4. Semenanjung Malaysia

Karena berada dalam satu garis keturunan kebudayaan Melayu Serumpun, ragam hias serupa yang disebut Lebah Bergayut banyak ditemukan di wilayah Malaysia Barat, seperti di negara bagian Johor, Pahang, Terengganu, dan Kelantan. Motif ini umum dijumpai pada arsitektur rumah tradisional kayu (Rumah Tiang Dua Belas) serta pinggiran kain songket tenun lokal.

(ham)

Kaitan anambas, batam, bintan, karimun, kepri, LEBAH bergantung, lingga, melayu, natuna, Seni Budaya, tanjungpinang
Admin 3 Juli 2026 3 Juli 2026
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali1
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Sempat Ditahan di Malaysia, 4 Nelayan Asal Bintan Akhirnya Dipulangkan KJRI Johor Bahru
Artikel Selanjutnya Lupa Matikan Kompor, Dapur Warung di Tanjungpinang Ludes Terbakar

APA YANG BARU?

Workshop Literasi untuk Para Ibu untuk Perkuat Karakter Anak
Pendidikan 17 jam lalu 138 disimak
Polisi Ringkus 3 Tersangka Jambret di Wilayah Nongsa
Artikel 17 jam lalu 131 disimak
PMII Minta Polisi Periksa Tiga Anggota DPRD Batam
Artikel 17 jam lalu 156 disimak
Tun Abdul Jamal (Temenggung Johor Riau 1757 – 1802)
Tokoh 20 jam lalu 150 disimak
PN dan Disdukcapil Tanjungpinang Uji Coba Sidang Adminduk di MPP
Artikel 20 jam lalu 147 disimak

POPULER PEKAN INI

Prakiraan Cuaca, Rabu-Kamis Batam Berawan Tidak Berpotensi Hujan
Artikel 3 hari lalu 376 disimak
“Dari Puncak Dai ke Buitenzorg: 7 Bulan Menjelajah Riau Lingga”
Histori 6 hari lalu 348 disimak
Inggris Bertemu Argentina di Semifinal Piala Dunia 2026
Sports 6 hari lalu 322 disimak
Dilarang Ngutangi Kawan Kantor!: Aturan PNS Singapura
Catatan Netizen 6 hari lalu 310 disimak
Komplotan Curanmor Pakai Mobil Digagalkan, Tiga Pelaku Diringkus Polsek Nongsa
Artikel 6 hari lalu 282 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?