- Nama: Pulau Los/ Loz
- Tata Pemerintahan: masuk wilayah administratif kota Tanjungpinang, di bawah kelurahan Senggarang
- Jumlah Penduduk: tidak berpenghuni tetap
- Kategori: pulau mikro
PULAU Los adalah pulau kecil tak berpenghuni di Kelurahan Senggarang, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Pulau ini dikelilingi oleh hutan mangrove. Saat ini, pulau Los sering dijadikan lokasi ekowisata, penelitian lingkungan, serta tempat warga mencari ikan, udang, dan kerang-kerangan. Pemandangan pulau ini bisa dinikmati langsung dari kawasan Tepi Laut Tanjungpinang.
Pulau ini diklasifikasikan sebagai pulau sangat kecil (pulau mikro) yang ukurannya jauh di bawah 2.000 km² dan membentuk formasi sabuk hijau hutan mangrove di sepanjang tepian pulaunya.
Pulau Hadiah di Masa Lalu
PADA masa lalu, pulau kecil itu sempat dihibahkan oleh Yang Dipertuan Muda Riau VI Raja Ja’far kepada Residen Belanda di Tanjungpinang, C.P.J. Elout.

“Residen tersebut telah memperoleh dari Sultan, pulau Loz secara cuma-cuma sebagai pinjaman. Pulau itu dipisahkan dari Riouw oleh sebuah selat selebar lemparan batu, dan di sana ia telah menanam pohon kelapa dan cengkih serta membangun sebuah rumah. (Namun) Pemerintah tidak terlalu senang bahwa Residen menerima apa yang disebut hadiah ini, meskipun tanah di Riouw tidak berharga karena masih banyak yang kosong. Karena itu Residen kemudian menawarkannya kepada Wentink (pendeta), asalkan ia mengganti biaya yang telah dikeluarkan, sekitar ƒ 1300. Sang misionaris menerima pulau itu dan mulai tinggal di sana pada musim semi tahun 1829.” (Geschiedenis Van Het Netherlandsche Zendeling Genootschap – DR. E.F. Kruijf, 1894)
Sementara pada dokumen Berigten Omtrent Indie, Gedurende Een Tienjarig Verblijf Aldaar, 1844, penulisnya seorang pendeta Prusia (Jerman), E.H. Rottger menyebut, ia sempat mendiami pulau tersebut pada era 1832 – 1842 saat menjalankan tugas misionaris dan kemanusiaan di negeri Riouw.
… Pada suatu hari, ketika saya sendirian di pulau Loz, setengah mil dari kota, di teras rumah, seorang yang terlihat seperti seorang Panglima laut datang berkunjung dengan seorang pria yang membawa sebuah peti betel dan senjata keris. Ia juga melihat sekelompok perompak laut di pantai pulau, beberapa ratus langkah dari rumah.
Saya bertanya: Siapa kamu? Saya adalah kepala perompak laut, jawabnya. Raja dan pemerintah Belanda di Riouw tidak ingin kamu mengunjungi saya, dan saya terpaksa melaporkan kunjunganmu kepada Raja segera. Tidak perlu, katanya, Raja sudah tahu bahwa saya tidak akan melakukan apa-apa kepadamu; saya hanya ingin membawa kamu keranjang berisi kerang-kerang ini dan meminta kamu untuk mengizinkan saya dan anak buah saya memasak nasi serta mandi… “
“Tapi saya tidak ingin kamu mengunjungi saya. Ah, jawabnya, jangan takut. Saya bisa saja membunuh kamu dan mengambil semua barang kamu tanpa Raja dan orang Belanda mengetahuinya. Tapi saya tidak akan bertindak begitu kejam… ” (Berigten Omtrent Indie, Gedurende Een Tienjarig Verblijf Aldaar, 1844 – E.H. Rottger)
E.H. Rottger mendeskripsikan pertemuannya dengan seorang kepala perompak di pulau Loz yang berada tidak jauh dari Bandar Riouw di Tandjoengpinang saat tinggal di sana.
CATATAN kehidupan masa lalu di pulau kecil itu, juga bisa disimak pada kumpulan surat-surat yang ditulis oleh Emilie Rottger dari Riau (Riouw). Isteri E.H. Rottger itu, ikut mendampingi tugas-tugas sang suami pada 1835 – 1842.
Sebagian isi suratnya didokumentasikan pada ‘Journal für die neueſten Land- und Beereisen unb das Snteretlantene aus der Wölker: und Händerkunde‘ oleh Dr. Friedenberg pada 1837. Dalam suratnya, Emilie menggambarkan situasi di pulau Los Riau masa itu:
“Pulau Loz, panjangnya 1000 langkah dan lebarnya tidak sampai setengahnya, selain rumah Misionaris Rottger dan bangunan tambahan, juga memiliki perkebunan-perkebunan.
Di satu-satunya rumah berlantai dua itu, yang lantai atasnya memiliki galeri beratap untuk berjalan-jalan selama musim hujan, selain ruangan-ruangan rumah tinggal yang nyaman, terdapat pula kabinet benda-benda alam dan apotek, karena sang pengurus (Rottger) juga merangkap sebagai dokter jasmani.
Letak rumah itu sangat romantis, berada di atas bukit rendah di pulau itu, dari mana perkebunan yang terbagi-bagi menjadi kebun kopi, kebun lada, ladang nanas, semak kapas, pohon pala dan cengkih serta pohon kelapa, juga semak belukar rendah dan beberapa pohon hutan tinggi dapat dipandang dengan leluasa.
Di ujung selatan pulau, ada beberapa rumah Melayu milik penduduk asli; di sanalah juga, atas prakarsa Tuan Rottger, pada tahun 1836 dibangun sebuah rumah sakit untuk merawat orang sakit Tionghoa.
Pulau itu terkenal di seluruh daerah sekitar karena iklimnya. Khususnya sangat cocok bagi orang Eropa; mereka tidak perlu beradaptasi di sana seperti di Jawa. Suhu sangat teratur dan dalam 24 jam jarang berfluktuasi lebih dari 8 sampai 10 derajat Fahrenheit. Sepanjang hari, angin laut yang sejuk mendinginkan udara. Karena itu usia 70 sampai 80 tahun bukan hal yang langka di kalangan penduduk, dan saat ini ada seorang Tionghoa di sana yang berusia 100 tahun.
Penyakit jarang terjadi. Dari 150 prajurit yang ditempatkan di sana, dan yang memang tidak dikenal karena kesederhanaannya, sering kali tidak ada satu pun yang sakit, sehingga dokter militer… di rumah sakit miskin sering kali tidak memiliki pekerjaan sama sekali. (Surat Emilie Rottger kepada Dr. Friedenberg pada 1836)
(ham)


