“Untuk menuju kampung sang Batin itu tidak mudah. Perlu kerja keras agar bisa mencapai kampung Kalam-tada, tempat tinggal sang batin. Kampung itu terdiri dari dua atau tiga rumah ala kadarnya, didirikan di sebuah tanah lapang di hutan. Di sini tidak ditanam apa-apa kecuali sedikit pisang, cabai dan umbi-umbian.”
…
“Jalan-jalan utama di Daik sangat bagus dan dibangun oleh mantan sultan Mahmud. Namun dibangun bukan untuk rakyat. Tapi untuk memperlancar perjalanannya menggunakan kereta dan kudanya sendiri.” (E. Netscher – Tijdschrift voor Indische Taal Land- en Volkenkunde Jilid XII, Seri IV Jilid III, 1862)
Oleh: Bintoro Suryo
CATATAN perjalanan Netscher ini, pertama kali dimuat dalam Tijdschrift voor Indische Taal Land- en Volkenkunde Jilid XII, Seri IV Jilid III, 1862. Tulisannya menjadi salah satu sumber Eropa yang menggambarkan pedalaman Pulau Lingga secara langsung dan mendalam dari pertengahan abad 19. Sebelumnya, juga ada laporan, C. van Angelbeek pada 1819 tentang Lingga.
Eksplorasi Netscher terhadap wilayah Lingga ini, dilakukan 11 tahun lebih awal dari kunjungan ahli Botani J.E. Teijsmann pada 1872 yang kemudian melakukan pencatatan lebih detail.
Catatan Netscher melingkupi kehidupan di kampung-kampung terpencil di Lingga masa itu yang dikunjunginya. Seperti kampung Kalam-tada, Krang, Terentang, Lalang, dan Merawang. Ia juga menceritakan cara hidup nelayan penangkap teripang di Lingga, petani gambir Tionghoa, hingga orang Bangka yang mengungsi ke Lingga 50 tahun sebelumnya.
Ia mengunjungi kepulauan Lingga pada masa Kesultanan Lingga Riau dipimpin oleh Sultan Sulaiman II Badrul Alamsyah.
Netscher menjelajah jalur darat pulau Lingga; mendokumentasikan jalur darat dari Doewara ke Daik sepanjang ±15 km. Ia juga menggambarkan gunung Lingga dengan puncak “Telinga Keledai”, sungai Resoen, serta potensi pertanian tembakau dan kopi di sana.
Di wilayah Daik, ia mencatat ibu kota kerajaan itu sudah mulai sepi pada 1861. Kampung Tionghoa menyusut karena perdagangan getah perca merosot. Sultan yang baru, Sulaiman Badrul Alamsyah, tinggal di rumah kayu sederhana di tepi sungai. Sementara istana batu yang megah peninggalan Sultan Mahmud dibiarkan kosong tak dihuni.
Bagian 1 ini fokus pada eksplorasi Netscher di “Pulau Lingga pada 1861.
I. PULAU LINGGA
PULAU Lingga, salah satu pulau terbesar dari gugusan yang membentuk sebagian besar wilayah kesultanan Lingga Riau dan daerah taklukannya. Tempat Sultan Lingga Riau berkediaman. Pulau ini berbentuk seperti segitiga dengan puncaknya terletak di bagian utara. Di alas segitiga itu, yang merupakan sisi selatan pulau, terletak ibu kota Daik, di sungai dengan nama yang sama.
Ada sebuah rangkaian pegunungan membelah pulau itu dari arah Utara timur laut ke selatan barat daya. Terdiri dari gunung Sepintjan (tinggi 3.017 kaki) dan gunung Lingga (tinggi 3.628 kaki). Rangkaian gunung Sepintjan yang mengarah ke barat berlanjut menjadi gunung Sereteh (tinggi 3.040 kaki) dan sejumlah punggungan lain, yang membentuk tanah pegunungan tinggi dan pantai yang terjal.
Di sebelah selatan Lingga, terletak gunung Tanda (tinggi 2.317 kaki) yang memilikinya aliran beberapa sungai kecil ke arah selatan. Sementara di sebelah timur, lereng gunung lebih landai dan berakhir di tanah rendah.
Gunung Lingga adalah yang tertinggi dan sangat mudah dikenali karena salah satu puncaknya yang terbelah; memiliki dua ujung runcing yang biasa dikenal masyarakat dengan nama ‘Telinga Keledai‘. Bentuk puncaknya mengingatkan pada lingam. Saya menduga, itulah mendapat namanya sekarang.
Catatan:
Lingam merupakan simbol suci dalam agama Hindu yang berbentuk seperti kerucut, melambangkan dewa Siwa. Sebelum masuknya persebaran agama Islam, pada masa pengaruh Sriwijaya dan kerajaan-kerajaan Hindu – Budha, wilayah ini telah dikenal dengan nama Lingga. Namun, masyarakat Lingga yang ditemui Netscher, lebih meyakini nama ‘Lingga’ berasal dari bahasa Melayu Kuno yang berarti ‘Tempat Tinggi’.
Dari pedalaman Lingga sampai sekarang, sejauh pengetahuan saya, belum ada orang Eropa yang mengunjungi tempat lain di pulau itu selain ibu kota Daik. Pada 1819, sempat ada jurnal laporan tentang pulau ini yang disampaikan oleh Tuan C. van Angelbeek, dalam sketsa singkatnya tentang Pulau Lingga. Dimuat dalam jilid ke-11 risalah Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Namun sayang, hanya sekilas. Sementara banyak cerita yang disampaikannya, hanya didasarkan pada cerita orang pribumi yang menurut saya sangat dangkal.
Karena itu saya berniat untuk memanfaatkan kesempatan pertama mengunjungi wilayah ini untuk melihat lebih banyak tentang pedalaman pulau Lingga. Ketika saya mendengar bahwa ada jalan setapak yang menghubungkan bagian utara pulau ke ibu kota, saya memutuskan untuk mengikuti jalan itu, begitu saya mengunjungi wilayah ini.
Awalnya, rute yang saya maksud, digambarkan oleh orang pribumi sebagai hampir tidak mungkin dilalui oleh bangsa Eropa seperti saya. Tetapi saya bersikeras; jika perjalanan itu bisa dilakukan oleh orang Melayu, saya pun yakin dapat melakukannya dan dalam hal apa pun akan mencobanya.
Segera, setelah urusan dinas memanggil saya ke Lingga, saya berlayar menggunakan kapal uap Z.M. Haarlemmermeer di bawah komando Letnan Laut kelas 1 P. Koning. Kami berangkat pada tanggal 23 September 1861 pukul 11 pagi dari pelabuhan Riau menuju soengei atau sungai Doewara di Pulau Lingga. Tempat alur setapak menuju Daik akan dilalui.
Rombongan pelayaran kami ini, juga diikuti oleh sebuah kapal patroli pemerintah, sebuah kapal patroli milik Yang Dipertuan Muda Riau (YDM), yang juga ikut serta dan dua kapal kecil lain dalam rombongan YDM.
Catatan: YDM Riau yang ikut dalam rombongan E. Netscher masa itu adalah Raja Muhammad Yusuf Al Ahmadi.
Pada malam hari tanggal yang sama, kami berlabuh di dekat Pulau Bakau, tidak jauh dari pintu masuk Selat Dasi yang memisahkan ujung paling utara Lingga dari sekelompok pulau-pulau kecil di sekitarnya. Sedikit ke timur dari ujung itu, terletak sungai Doewara. Keesokan hari setelah sampai di sana, kami masukinya dengan kapal uap.
Perjalanan menyusuri sungai itu dengan melewati sederetan pulau-pulau panjang, sempit dan berbukit. Kapal uap Haarlemmermeer mulai bergerak menyusuri sungai sekitar pukul 11 pagi.
Kami kemudian berlabuh di sebuah teluk luas yang dikelilingi bukit-bukit, yang terbentuk dari pertemuan sungai-sungai Doewara, Resoen dan Semarong. Aliran sungai Resoen dan Semarong tersebut bertemu dengan aliran sungai Doewara di tepi timur dan muaranya berdekatan. Semarong di sebelah utara Resoen.
Tiba di Kampung Doewara
SEDIKIT lebih ke hulu dari tempat berlabuh, terletak kampung Doewara. Kampung itu hanya terdiri dari beberapa rumah dan merupakan tempat tinggal kepala wilayah itu, dengan gelar panghoeloe (penghulu).
Selain itu, di tepi-tepi sungai tidak terlihat jejak pemukiman. Namun, di sana-sini di banyak anak sungai yang termasuk Doewara; pasti ada beberapa penduduk. Dapat disimpulkan dari sampan-sampan yang dalam jumlah cukup banyak terlihat di sungai dan hilir mudik dengan tenang, tanpa menunjukkan rasa takut terhadap kapal uap kami. Padahal, sejauh yang saya tahu, belum pernah ada kapal laut yang memasuki sungai ini.
Pemandangan tepi teluk tempat kapal Haarlemmermeer berlabuh sangat indah. Di utara; pandangan ke laut tertutup oleh beberapa pulau kecil. Sementara di timur; daratannya agak rendah dan terlihat alur sungai Semarong yang lebar. Di barat; bukit-bukit hijau menjorok sampai ke air, dan di selatan; terlihat pemandangan indah gunung Sepintjan, yang menutupi puncak Lingga sepenuhnya.
Tak lama setelah kami berlabuh, Yang Dipertuan Muda berangkat dengan dua kapalnya melalui Selat Dasi menuju Daik. Ia bermaksud menunggu rombongan kami yang akan melakukan perjalanan darat di sana. Kapal ketiga milik YDM yang dinaiki saudaranya, Raja Marewa, ditinggal di tepi muara. Raja Marewa akan menemani saya lewat jalur darat darat menuju Daik.
Mengunjungi Batin kampung Kalam-tada
KEESOKAN harinya, tanggal 25 September 1961, saya mendayung menyusuri sungai Semarong bersama dokter kapal Haarlemmermeer, Losgert, untuk mengunjungi kampung batin (seorang kepala bawahan) dari sungai Semarong. Saat tiba, ia menyambut rombongan kami dengan membawa beberapa ekor ayam sebagai hadiah. Saya balas dengan memberikan kenang-kenangan kecil untuk anak-anaknya.
Muara Semarong ini bercabang menjadi banyak anak sungai. Di tepi-tepinya, ditumbuhi pohon bakau yang sangat membantu pendangkalan karena dahan, daun dan benda-benda hanyut lainnya tertahan di antara akar-akar yang tumbuh melengkung di atas air dan menjadi dasar lapisan tanah baru.
Untuk menuju kampung sang Batin itu tidak mudah. Perlu kerja keras agar bisa mencapai kampung Kalam-tada, tempat tinggal sang batin itu.
KAMPUNG itu adalah kampung yang sangat kecil. Terdiri dari sepuluh rumah yang yang berdiri secara sederhana, tetapi sudah dilengkapi dengan sampan-sampan. Di salah satu rumah, terlihat sebuah sampan yang sedang dalam pembuatan. Penduduknya hidup dari perikanan, penangkapan teripang, pembuatan tikar kadjang dan pengumpulan hasil hutan. Semua hasilnya itu mereka dapat menjualnya dengan mudah di Riau dan Singapura.
Di sekitar rumah-rumah terdapat beberapa pohon kelapa yang belum berbuah. Usia tanaman itu diperkirakan baru lima tahun. Pohon-pohon itu ditanam saat warga kampung ini mulai mendiaminya. Mereka berpindah dari anak sungai yang lain.
Di kampung Kalam-tada ini, hanya satu rumah yang dibangun dari kayu. Selebihnya dari kadjang, atap dan kulit nibung.
Penduduknya tampak sehat. Perempuan-perempuan serta anak-anak tidak bersembunyi dari orang-orang Eropa walau baru pertama kali mereka lihat. Tidak seperti orang Indian yang belum beradab.
Sang batin sangat ramah dan sopan serta berbaik hati menawarkan kepada saya seekor kura-kura kecil sebagai kenang-kenangan dari anak-anaknya untuk anak-anak saya.
Tidak jauh dari kampung Kalam-tada, tinggal enam orang Tionghoa yang mengusahakan kebun gambir.
TANGGAL 26 September 1861, saya memulai perjalanan ke Daik. Letnan Laut, Jhr. E. de Gijselaar, menyertai saya. Rombongan lainnya terdiri dari Raja Marewa, seorang juru tulis pribumi, beberapa pelayan, lima orang kelasi dari kapal patroli dan beberapa orang pribumi dengan penghulu Doewara sebagai penunjuk jalan. Kapal Haarlemmermeer akan tetap tinggal hari itu di sungai Doewara. Beberapa kelasi akan melakukan pengukuran hidrografi. Keesokan harinya, mereka baru berangkat melalui Selat Dasi menuju ke Daik melalui jalur laut.
Kami meninggalkan tempat berlabuh dengan kapal patroli pukul 7.30 pagi. Kemudian mendayung setengah jam menuju muara sungai Resoen. Awalnya, muara itu tidak lain dari sebuah anak sungai yang banyak ditumbuhi pohon bakau dan tumu di tepinya. Tetapi, tak lama kemudian, tepian sungai mulai menjadi lebih kering dan berhutan.
Semuanya masih berupa belantara dan pepohonan tinggi, termasuk pohon kapur yang bagus. Pohon yang bisa diolah menjadi bahan bangunan yang berkualitas.
Selain itu alamnya sangat sunyi. Hanya sesekali terlihat seekor burung. kadang-kadang, terdengar suara monyet yang sepertinya mengintip para pengunjung asing seperti kami ini dari dahan-dahan pohon.
Lama-kelamaan sungai itu, yang awalnya mengalir ke timur dan kemudian ke selatan, menjadi semakin sempit dan dangkal. Setelah mendayung selama satu seperempat jam, kami akhirnya harus meninggalkan kapal patroli dan berpindah ke sampan-sampan kecil. Kami masih menyusuri sungai dengan sampan selama satu jam lagi. Bagian terakhir agak sulit karena perjalanan terhalang batang-batang pohon yang tumbang. Air sungainya jauh lebih jernih dibanding saat awal memulai perjalanan.
Sungai yang kami lalui ini memiliki lebar sekitar 8 depa dan bercabang dua. Setelah memutuskan menyusuri sisi sebelah kanan, kami menemukan tempat pendaratan, berupa sebidang tanah di hutan yang bekas ditebas.
Dari sini sampan-sampan kembali dan kami memulai perjalanan darat. Saat itu pukul 10.15.
Melewati Hutan ke Kampung Krang
AWALNYA jalan setapak melewati rumput tebal, tetapi segera terdapat tanah liat putih dan kemudian, ketika tanah mulai menanjak, ada tanah hitam. Sebagian besar alur yang dilalui, harus melewati batang dan dahan pohon. Terkadang juga melalui tempat-tempat berlumpur. Dapat dibayangkan bahwa jalan seperti itu tidak termasuk yang termudah.
Setelah satu jam merangkak di atas batang dan dahan, akhirnya kami bisa berlega hati karena mencapai kampung Krang, tempat perhentian pertama.
Kampung ini terdiri dari dua atau tiga rumah ala kadarnya, didirikan di sebuah tanah lapang di hutan. Di sini tidak ditanam apa-apa kecuali sedikit pisang, cabai dan umbi-umbian.
Karena perbukitan di sekitarnya, yang sebagian sudah gundul dari kayu besar, menurut saya cocok untuk penanaman tembakau. Saya bertanya kepada penduduk utama kampung itu, seorang haji; apakah ia tidak mau mencoba menanam tembakau yang sengaja saya bawa bibitnya saat itu?
Namun orang itu mengatakan tidak mengenal penanaman tembakau dan tidak dapat dibujuk untuk mau mencobanya.
SETELAH istirahat seperempat jam, perjalanan dilanjutkan dengan alur yang lebih sulit. Tnjakannya semakin besar, sehingga berjalan di atas batang-batang pohon, terkadang sangat sulit. Hutan kembali lebat dan hanya di beberapa tempat dapat terlihat puncak Sepintjan. Kami mengikuti kaki sebelah timurnya menuju arah selatan.
Setelah setengah jam berjalan, kami menemukan tempat beristirahat di hutan berupa bangku dari dahan yang didirikan atas perintah sultan. Kami istirahat selama seperempat jam. Dari sana kemudian berjalan lagi selama satu jam hingga tiba di kampung Terentang. Kampung itu dihuni oleh orang Bangka yang mengungsi pada masa lalu.
Kampung Terentang ini terdiri dari dua rumah yang dibangun dengan baik. Tebu tumbuh subur di sini. Bersama sagu dan hasil hutan lainnya, dibawa oleh penduduk ke Daik untuk dijual. Penduduknya tampak baik dan ramah Mereka mengizinkan rombongan kami memotong tebu sebanyak yang diinginkan untuk menambah energi perjalanan. Mereka juga menghidangkan sirih.
Yang sangat menarik perhatian kami adalah seorang anak yang lucu berusia mungkin dua tahun. Berkulit sangat putih seolah-olah memiliki ayah atau ibu orang Eropa. Sesuatu yang rasanya mustahil di daerah ini. Anak itu tidak memiliki warna putih karena sedang sakit-sakitan yang kadang-kadang ditemukan pada penduduk pribumi di wilayah ini, tetapi kuning muda seperti seorang kreol.
Dari sini hutan agak kurang lebat dan jalan agak kurang sulit. Tanahnya liat dan berwarna merah serta kaya ditumbuhi pakis yang indah.
Setelah berjalan lagi tiga perempat jam, kami tiba di kampung Lalang, dinamai dari alang-alang (dalam bahasa Melayu ilalang), yang menutupi punggungan gunung yang luas di sini. Di sini, seorang bander dari Daik telah menunggu untuk menyambut kami atas nama sultan.
Catatan
bander: pembesar utusan istana
Kampung Lalang ini terdiri dari sepuluh rumah. Sebagian besar sangat bagus, bahkan indah, terbuat dari kayu dengan atap tinggi dari atap. Rumah-rumah ini tertata sangat rapi mengelilingi sebuah lapangan kecil persegi yang bersih, di mana sebuah bangku beralaskan tikar menunggu kami untuk beristirahat.
Penduduk kampung ini juga berasal dari orang Bangka dan memiliki penampilan yang sehat dan baik.
Tak jauh melewati kampung ini terdapat ladang-ladang tebu yang luas. Untuk melindungi dari babi hutan, penduduk memasang pagar kayu yang kokoh. Pagar-pagar ini tidak memiliki pintu, tetapi di tempat yang harus dilewati, dibuat agak lebih rendah. Di kedua sisinya dilengkapi potongan-potongan batang pohon kecil yang berdiri tegak, untuk memudahkan memanjatnya.
Saya belum pernah melihat ini di tempat lain di Hindia; pagar seperti ini mengingatkan pada stiles dan stepping stones yang menjadi akses ke ladang-ladang di Inggris. Di sini juga ditanam tebu dan sedikit kopi; pohon-pohon kopi itu tampak subur.
Catatan:
stiles: tangga kecil atau pagar penyebrang ladang bagi pejalan kaki.
Stepping stone: batu atau lempengan pijakan jalan setapak di taman
Setelah itu, kami kembali melalui jalan yang kembali sangat sulit. Hampir seluruhnya dilapisi ranting-ranting pendek yang melintang. Sangat menyakitkan bagi kaki dan menuntut kehati-hatian besar dalam berjalan.
Di sekitarnya, pepohonan tinggi hampir seluruhnya menghilang dan digantikan oleh semak belukar, glaga dan alang-alang. Karena itu pandangan tidak terlalu terhalang; terlihat pemandangan indah ke Sepintjan, yang puncaknya lama-kelamaan semakin berada di belakang kita. Wilayah dataran yang lebih rendah dan landai menuju pantai timur pulau Lingga juga terlihat.
Catatan:
Glaga = alang-alang/rumput tinggi
Melintasi Kampung Sepintjan
SETELAH berhenti sebentar di bawah gubuk di ladang glaga, kami mencapai kampung Sepintjan, yang terdiri dari enam rumah; ihuni oleh orang Bangka.
Tidak jauh dari situ, ada kampung Melayu Pahang, yang terletak di sungai Sepintjan.
Kami kemudian diseberangkan ke seberang sungai dengan sampan. Setelah berjalan beberapa menit, kami tiba di rumah batu yang dibangun oleh sultan Mahmoed Moethzafar Sjah. Sultan yang diturunkan dari tahtanya pada tahun 1857. Lokasinya berada pada jarak seperempat jam dari ibu kota Daik, tempat yang telah disiapkan untuk menyambut kedatangan kami.
Kami tiba di Daik pukul 4 sore, dalam kondisi sangat lelah dan berlumpur. Jadi, kami telah dalam perjalanan selama 5 3/4 jam dan beristirahat enam kali.
Waktu istirahat kami diperkirakan 1 1/2 jam. Waktu tempuh perjalanan selama 4 1/4 jam. Catatan perjalanan itu dengan mempertimbangkan sulitnya jalur. Saya memperkirakan jarak tempuh kami kira-kira sedikit lebih dari sepuluh pal.
Catatan:
pal: satuan jarak Belanda ≈ 1.5 km.
10 pal ≈ 15 km
Betapapun sulitnya jalan itu, orang pribumi tetap dapat melaluinya dengan cepat. Bahkan dengan beban berat sagu dan hasil lain yang mereka bawa di punggung dalam keranjang besar dan tali penggendong. Mereka sudah sangat terbiasa dengan jalur sulit seperti itu. Jika saja negeri ini merupakan bagian dari sebuah keresidenan di Jawa, jalan setapak seperti itu, rasanya sudah lama akan diubah menjadi jalan kereta yang bagus. Rintangan alamnya relatif lebih sangat kecil dalam membangunnya.
Yang sangat mengejutkan kami adalah keheningan di dalam hutan. Hanya sesekali seekor monyet melompat sambil berteriak di pepohonan saat kami mendekat. Hampir tidak ada burung yang kami lihat. Hanya kupu-kupu dan capung yang banyak jumlahnya dan lebih indah warnanya daripada yang pernah saya lihat di tempat lain.
Dari binatang liar besar; hanya terdapat babi. Dulu katanya, banyak kerbau liar. Tetapi beberapa tahun lalu, karena wabah yang hebat, hampir punah. Saat ini hanya tersisa sekitar dua puluh ekor saja.
Hutan di sini menghasilkan banyak jenis kayu yang sangat baik. Yang paling dicari adalah kayu kapur; memiliki warna kuning tua yang indah. Jika kayu ini diolah menjadi papan, warnanya akan berubah menjadi coklat tua. Pohon ini juga menghasilkan kapur barus dengan kualitas rendah dan sejenis minyak kapur barus, yang digunakan untuk mengolesi peti, dll. serta untuk mengusir serangga.
Suasana Daik pada 1861
Di wilayah Daik ini, rumah-rumah Melayu pada umumnya memiliki penampilan yang agak terlantar; sedikit lebih baik keadaannya dibanding rumah-rumah orang Bugis. Di antaranya terdapat beberapa rumah besar dan dibangun dengan baik.
Sultan untuk sementara ini mendiami sebuah rumah kayu besar. Tetapi tidak megah. Lokasinya berada di tepi sungai. Awalnya tidak didirikan sebagai tempat tinggal bangsawan kerajaan.
Sultan itu bagaimanapun adalah orang yang bijaksana dan berniat baik; ia berusaha terlebih dahulu mengumpulkan sedikit modal melalui usaha perdagangan agar kemudian, tanpa terlalu membebani rakyat, dapat mendirikan tempat tinggal yang lebih layak nanti. Ia tidak menempati bangunan megah rumah batu mewah, peninggalan dari Sultan sebelumnya: Machmud Mutzafar Syah.
Paling dekat dengan muara sungai, di tepi kanan, terletak kampung Tionghoa. Ini berupa deretan rumah dari nibung dan papan, di atas tiang beberapa kaki di atas tanah, dengan serambi yang memanjang di depannya dan atap dari atap. Di ujungnya terdapat sebuah kuil batu yang rapi. Jumlah penduduk Tionghoa kira-kira 300 jiwa; dulunya jumlah mereka lebih besar. Tetapi kemunduran perdagangan getah perca telah menyebabkan banyak yang meninggalkan tempat itu.
Jalan-jalan utama di Daik sangat bagus dan dibangun oleh mantan sultan Mahmud. Namun dibangun bukan untuk rakyat. Tapi untuk memperlancar perjalanannya menggunakan kereta dan kudanya sendiri.
Secara keseluruhan, terdapat ketertiban di tempat ini. Pemerintahan sultan yang sekarang, yang merupakan orang yang lembut dan sederhana, tampaknya memiliki pengaruh baik terhadap semangat penduduk di Lingga.
PADA pagi tanggal 28, saya mengunjungi bukit yang berjarak setengah jam perjalanan dari Daik. Dinamai Boekit Tjengkeh (Bukit Cengkeh, pen.) karena pohon cengkeh yang ditanam di sana.
Di sana bersemayam sultan Abd’oel Rachman Sjah dan Mohamad Sjah, yang wafat pada tahun 1831 dan 1841. Makam keduanya berada di bawah naungan kayu berlapis merah dan emas, di dalam kubah batu beratap genteng. Ada sebuah kubah serupa, tetapi kurang indah, berisi makam sederhana dari istri-istri mereka dan beberapa kerabat dekat. Seluruhnya terpelihara dengan baik dan tampak indah.
Kampung Merawang yang Indah
TANGGAL 29, saya memanfaatkan beberapa jam luang, untuk berjalan bersama beberapa perwira dari kapal uap Haarlemmermeer ke kampung Merawang. Jaraknya sekitar tiga perempat jam perjalanan ke barat dari Daik.
Kampung ini hanya dihuni oleh orang Bangka, yang sekitar lima puluh tahun lalu pindah dalam jumlah besar ke Lingga. Penyebab perpindahan penduduk ini belum dapat saya selidiki.
Merawang pastilah kampung terindah yang pernah saya lihat di mana pun di negeri Hindia ini. Kampung itu terletak indah di antara pepohonan di lereng sebuah bukit kecil. Rumah-rumah penduduknya dibangun rapi, bertiang dan beratap tinggi menjulang. Sebagian besar dari kayu,
Rumah-rumah itu berdiri beraturan dalam dua baris, dengan pintu-pintunya saling berhadapan.
Secara keseluruhan, ada sekitar empat puluh rumah seperti itu. Di antara kedua baris itu terdapat sebuah balei atau balai pertemuan yang dibangun dengan baik, terbuka di semua sisi. Balai itu adalah tempat urusan kampung dibicarakan.
Lapangan di antara rumah-rumah disapu bersih dan di bawah rumah-rumah juga tidak terlihat jejak kotoran. Bahkan, kayu bakar di sana ditumpuk dengan rapi.
Merawang, dalam hal kebersihan dan kerapian, dapat menyaingi desa terbaik yang terpelihara di negeri Belanda.
Penduduknya memiliki kebun pada jarak tertentu dari kampung. Mereka menanam buah-buahan dan sirih, yang merupakan mata pencaharian utama. Di kampung ini juga terdapat beberapa rumpun tebu yang sangat bagus, yang disangga agar tidak roboh oleh tonggak-tonggak bundar yang rapi.
Penduduk Merawang memiliki penampilan yang bersih dan sehat. Secara keseluruhan, kampung ini merupakan contoh ketertiban dan keteraturan. Sepertinya, mungkin tidak bisa ditemukan di tempat lain di negeri Hindia ini.
(*)
Bersambung
Penulis/ Videografer: Bintoro Suryo – Ordinary Man. Orang teknik, Mengelola Blog, suka sejarah & Videography.
Artikel ini diterbitkan sebelumnya di: bintorosuryo.com



