ANCAMAN penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat buruknya kualitas udara di Kota Batam, Kepulauan Riau, paling banyak menyerang warga kategori usia produktif. Data terbaru dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam menunjukkan rentang usia 19 hingga 59 tahun menjadi kelompok rentan yang paling banyak mengeluhkan gangguan pernapasan tersebut.
Berdasarkan laporan harian Dinkes Batam pada Kamis (15/10/2026), dari total 383 kasus ISPA yang terdata, sebanyak 197 kasus dialami oleh warga berusia 19–59 tahun. Sementara itu, rincian kasus pada kelompok umur lainnya meliputi:
- Balita (di bawah 5 tahun): 66 kasus
- Usia 5–9 tahun: 51 kasus
- Usia 10–18 tahun: 46 kasus
- Lansia (di atas 60 tahun): 23 kasus
Meski total akumulasi kasus harian ini sempat mengalami penurunan dibandingkan hari Selasa (13/10/2026) yang sempat menembus angka 405 kasus, pihak berwenang menegaskan situasi masih memerlukan kewaspadaan tinggi.
“Meski mengalami penurunan, angka tersebut menunjukkan kasus ISPA masih ditemukan dalam jumlah cukup tinggi di Batam,” tegas Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Batam, Melda Sari, saat dikonfirmasi via telepon pada Kamis (15/10/2026).
Sebaran Kasus di Wilayah Puskesmas
PENURUNAN kualitas udara yang terpolusi kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ini berdampak secara merata di berbagai penjuru kota. Laporan Dinkes mencatat sebaran wilayah puskesmas dengan tingkat penderita terbanyak:
| Wilayah Puskesmas | Jumlah Kasus ISPA |
| Puskesmas Botania | 41 kasus (tertinggi) |
| Puskesmas Sei Panas | 32 kasus |
| Puskesmas Baloi Permai | 29 kasus |
| Puskesmas Mentarau | 29 kasus |
| Puskesmas Lubuk Baja | 26 kasus |
Kondisi kesehatan masyarakat ini sejalan dengan pengukuran indikator Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Batam. Saat ini, kualitas udara daerah tersebut berada pada rentang kategori Tidak Sehat (nilai 101–200) hingga Sangat Tidak Sehat (nilai 201–300).
Menanggapi kepungan asap polusi tersebut, Melda Sari mengimbau masyarakat untuk mengambil langkah-langkah pencegahan mandiri secara terukur.
“Penggunaan masker yang sesuai saat berada di lingkungan berpolusi, mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan ketika udara tidak sehat, serta segera mencari pertolongan medis jika mengalami sesak napas atau keluhan berat merupakan langkah yang dapat dipertimbangkan,” imbaunya.
(ham)


