- Nama: Pohon Belian/ pohon Ulin
- Nama ilmiah: Eusideroxylon zwageri
- Julukan: Kayu besi
- Habitat hidup: Asia Tenggara, Kalimantan, Sumatera, Kepulauan Riau
KETIKA berbicara tentang kekayaan hutan hujan tropis Indonesia, nama pohon belian—atau yang lebih populer secara nasional dengan nama pohon ulin (Eusideroxylon zwageri)—selalu menduduki posisi istimewa.
Mendapat julukan abadi sebagai “kayu besi” (ironwood), pohon ini merupakan simbol kekuatan alam sekaligus saksi bisu perkembangan sejarah dan peradaban masyarakat di wilayah kepulauan Indonesia.
Raksasa Hutan Tropis yang Tenggelam di Air
POHON belian adalah tanaman kayu endemik Asia Tenggara yang tumbuh subur di pedalaman hutan Kalimantan, sebagian wilayah Sumatera, hingga wilayah kepulauan, termasuk Kepulauan Riau. Pohon ini dapat tumbuh menjulang tinggi hingga 30–50 meter dengan diameter batang raksasa yang bisa melebihi 2 meter pada usia tua.
Satu hal yang membuat belian begitu istimewa adalah karakteristik serat kayunya yang sangat rapat, padat, dan berat. Karena tingkat kerapatannya yang ekstrem, kayu belian tidak akan mengapung seperti kayu pada umumnya, melainkan langsung tenggelam jika dimasukkan ke dalam air.
Karakteristik pertumbuhan pohon ini juga sangat lambat, membutuhkan waktu hingga ratusan tahun untuk mencapai ukuran maksimalnya.
Kualitas kayu belian berada di kelas nomor satu dalam hal keawetan dan kekuatan. Kayu ini memiliki ketahanan alami yang luar biasa terhadap serangan rayap, serangga, jamur pelapuk, hingga perubahan cuaca ekstrem. Hebatnya lagi, kualitas kayu belian justru akan menjadi semakin kuat dan mengeras jika terendam di dalam air.
Karena keunggulan ini, selama berabad-abad kayu belian dimanfaatkan sebagai material utama untuk konstruksi berat, antara lain:
- Rumah Panggung Tradisional: Tiang-tiang pancang rumah adat Melayu dan Dayak di kawasan pesisir atau rawa.
- Infrastruktur Transportasi: Bantalan rel kereta api, tiang jembatan, dan pancang dermaga.
- Industri Maritim: Bahan baku pembuatan lambung kapal kayu dan kapal nelayan.
- Atap Sirap: Atap kayu tradisional yang mampu bertahan hingga puluhan bahkan ratusan tahun.
Sebaran Geografis: Dari Kalimantan hingga Kepulauan Riau
MESKIPUN pulau Kalimantan sering disebut sebagai habitat utama belian (ulin), pohon ini juga tumbuh secara alami di Kepulauan Riau. Karakteristik tanah bukit dataran rendah dan curah hujan yang tinggi di wilayah kepulauan ini sangat mendukung pertumbuhannya di masa lalu, seperti di kawasan Pulau Singkep (Kabupaten Lingga) bahkan pulau Batam.

Pohon belian saat ini dikategorikan sangat langka. Sebagian besar literatur botani mengkhawatirkan spesies ini telah punah secara alami (possibly extinct) di hutan-hutan liarnya. Saat ini, keberadaan belian hanya terdapat secara terbatas di hutan Kalimantan di Semenanjung Malaka. Beberapa kawasan konservasi atau kebun raya juga menjadi tempat tumbuhnya, sebagai upaya pelestarian genetik.
Monumen Hidup di Batam: Riwayat Kampung Tua Belian
JEJAK keemasan pohon belian di Kepulauan Riau terekam abadi dalam toponimi (asal-usul nama tempat) di Kota Batam, tepatnya di Kampung Tua Belian (kini masuk dalam wilayah administratif Kelurahan Belian, Kecamatan Batam Kota).
Kampung Tua Belian merupakan salah satu dari 37 titik perkampungan asli masyarakat tempatan di Pulau Batam yang memiliki sejarah panjang lebih dari 200 tahun.

Berdasarkan sejarah lisan, penamaan kampung ini diambil karena berabad-abad lalu kawasan pesisir timur Pulau Batam tersebut merupakan hutan belantara yang sangat lebat dan didominasi oleh pohon belian. Keberadaan pohon raksasa ini dijadikan penanda wilayah oleh masyarakat saat pertama kali membuka lahan pemukiman nelayan.
Namun, ironi melanda seiring waktu. Seiring transformasi masif Batam menjadi kota industri, pelabuhan internasional, dan pusat perkotaan sejak tahun 1970-an, hutan belantara tempat tumbuhnya pohon ini telah beralih fungsi.
Akibat urbanisasi dan eksploitasi besar-besaran di masa lalu untuk kebutuhan bahan baku kapal serta tiang kelong nelayan, pohon belian asli di alam liar Batam saat ini sudah hampir tidak tersisa. Nama “Belian” kini menjelma menjadi monumen hidup berbentuk nama daerah yang mengingatkan generasi modern akan kekayaan alam di pulau Batam pada masa lalu.
Ancaman Kepunahan dan Status Konservasi
Kombinasi antara pertumbuhan pohon yang memakan waktu ratusan tahun dan tingginya angka penebangan liar (illegal logging) membuat populasi pohon belian merosot tajam di seluruh habitat aslinya.
Saat ini, pohon belian telah dikategorikan ke dalam status Rentan (Vulnerable) dalam Daftar Merah IUCN (Uni Internasional untuk Konservasi Alam) dan dilindungi ketat oleh pemerintah Indonesia. Tanpa adanya upaya penangkaran, budidaya, dan penegakan hukum yang tegas terhadap pembalakan liar, generasi mendatang mungkin hanya bisa mengenal kekhasan “si kayu besi” ini lewat catatan sejarah dan nama-nama tempat belaka.
(ham)


