TREN kualitas udara di Kota Batam pada Sabtu (10/10/2026) menunjukkan dinamika yang fluktuatif namun konsisten berada di tingkat mengkhawatirkan. Meskipun sempat menunjukkan grafik penurunan pada dini hari, tingkat pencemaran udara kembali melonjak tajam menjelang pagi dan belum berhasil beranjak dari kategori tidak sehat.
Berdasarkan data pemantauan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam yang bersumber dari BMKG Hang Nadim, kualitas udara sudah berada di atas ambang batas sehat sejak tengah malam. Pada pukul 00.00 WIB, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) berada di level 158. Angka tersebut berfluktuasi tipis menjadi 159 pada pukul 02.00 WIB, sebelum akhirnya melandai ke tingkat 149 pada pukul 04.00 WIB.
Namun, tren penurunan tersebut tidak bertahan lama. Menjelang terbit matahari, konsentrasi polutan kembali menanjak. ISPU tercatat naik ke angka 153 pada pukul 05.00 WIB, lalu menyentuh 159 pada pukul 06.00 WIB, hingga menyentuh puncaknya di angka 169 pada pukul 07.00 WIB.
Tren Penurunan Usai Puncak Pagi Hari
PASKA pukul 07.00 WIB, grafik ISPU perlahan-lahan melandai. Pada pukul 08.00 WIB, angka pemantauan berada di level 165, turun ke 163 pada pukul 09.00 WIB, dan menyentuh 152 pada pukul 10.00 WIB.
Kendati menunjukkan tren melandai hingga pengamatan pukul 10.00 WIB, kondisi ini dipastikan belum cukup aman. Kabid Perlindungan Lingkungan Hidup DLH Kota Batam, IP, menegaskan bahwa penurunan angka tersebut belum mampu mengembalikan status kualitas udara ke kategori sedang (rentang 51–100). Sesuai dengan acuan klasifikasi ISPU, kisaran angka 101–200 tetap tergolong dalam kategori tidak sehat.
“Artinya, meski terjadi penurunan dari angka tertinggi 169 menjadi 152, kondisi udara Batam pada pukul 10.00 WIB masih perlu diwaspadai,” ungkap IP saat menyampaikan data pemantauan tersebut.
Dampak Pada Jarak Pandang
DAMPAK penurunan kualitas udara ini juga berimbas langsung pada jarak pandang di wilayah perairan. Prakiraan cuaca maritim BMKG untuk kawasan Pelabuhan Batam Centre mencatat keberadaan udara kabur pada Sabtu pagi. Pada sejumlah jam pengamatan, jarak pandang terbatas hingga sekitar tiga kilometer saja, sebelum diprakirakan membaik mencapai 10 kilometer menjelang siang.
Merespons kondisi lingkungan yang belum sepenuhnya pulih ini, masyarakat diimbau untuk mengurangi dan membatasi aktivitas fisik di luar ruangan. Langkah kewaspadaan ekstra sangat ditekankan bagi kelompok rentan—seperti anak-anak, lansia, serta warga yang memiliki riwayat gangguan pernapasan maupun penyakit jantung—mengingat tingginya risiko dampak kesehatan akibat pajanan polusi udara tersebut.
(dha)


